Oct 2, 2022

The Good Place

1


Review Series 'The Good Place'
(plus curcol tentunya)
 
Jadi, karena aku lagi jadi pengangguran setelah kontrak diputus mendadak, alhasil aku melampiaskan kekesalanku (?) dengan nonton ‘The Good Place’. Sebenernya aku udah nonton dari bulan-bulan kemarin tapi baru nonton season 1 & 2. Karena penasaran gimana kelanjutan ceritanya, akhirnya aku tonton deh dari awal mulai season 1 sampai season 4. Soalnya udah agak-agak lupa ceritanya gimana. Daripada bingung, mending nonton dari awal.
 
Baiklah, mari ngomongin series ini. Kalau semisal kamu seorang spiritualis yang concern sama soul, ‘The Good Place’ ini series yang cocok banget buat ditonton. Aku bisa nebak siapa pun penulis naskahnya, dia pasti telah mengalami spiritual awakening. Kenapa aku bisa berpikir begitu (istilahnya sok kenal banget Iu) soalnya orang-orang yang mengalami spiritual awakening itu… they can’t judge. Mereka tau setiap jiwa itu bertumbuh dan belajar selama di bumi, karena itu tugas mereka. Mereka gak bisa memihak antara hitam atau putih karena semua ada porsinya masing-masing. Istilahnya sih non-duality gitu ya. Jadi semua jiwa berhak belajar dan bertumbuh. Itu yang mereka percayai. Untuk masalah apa yang mesti dipelajari jiwa, itu tergantung pilihannya mau belajar apa. Apa belajar memaafkan, melepaskan, mencintai, macam-macam pokoknya.
 
Nah, udah paham kan? Bisa lihat kesamaannya dengan cerita ‘The Good Place'? Awalnya, empat tokohnya yang seharusnya ada di the bad place (sebut aja neraka) diusahakan supaya bisa ke the good place (sebut aja surga). Tapi kenapa? Apa gunanya? Sementara waktu jadi manusia, empat tokoh ini gak punya kualifikasi buat dimasukin ke surga (istilahnya poinnya kurang). Nah, tau kenapa? Karena konsep spiritualis itu yang menganggap semua jiwa berhak belajar dan bertumbuh, makanya mereka berhak ke surga. Tentunya gak mudah ya jadi butuh pengorbanan yang gak sedikit juga.
 
Hmm, eniwei, kebanyakan para penulis itu smart dan otaknya rich. Maksudnya, mereka pinter aja gitu bikin kiasan atas apa yang mereka mau sampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, dengan mempertimbangkan karakter, plot, opening, ending, wah… pokoknya artsy (?) bangetlah. Sebagai orang yang suka baca, kuanggap keahlian itu hebat sih soalnya aku gak ahli melakukannya haha.
 
Nah, itu yang kulihat dari ‘The Good Place’. Penulis skenarionya smart dalam menyampaikan apa yang dia pikirkan di series ini. Porsinya pas, komedinya dapet, selalu ada kejutan di tiap ending-nya pula. Well, itu semua gak mungkin ditulis oleh orang yang gak ahli di bidangnya. Intinya… bravo! Kalau diibaratkan Nex Carlos sih, dia ngacungin jempol pake bekson legendaris ‘jedesh jedesh’ buat muji haha.
 
Oke, mari fokus, balik ke ‘The Good Place’. Mempertimbangkan dari segala aspek, series ini bener-bener menarik dan outstanding. Aku suka amanat ceritanya di mana semua orang berhak mendapat ketenangan jiwa. Aneh sih, tapi itulah yang kuliat di ending-nya di mana para tokohnya merasa damai dan ngelewatin pohon. Fyi, jiwa tuh ada tingkatannya gitu. Btw ini aku gak ngarang ya, semua tentang jiwa ini aku dapet dari yutub. Aku menyampaikan apa yang pernah aku tonton. Nah, jiwa yang istilahnya udah ‘lulus’, mereka akan membimbing manusia. Kalau di orang Jawa ada istilahnya tapi aku lupa namanya. Kalau bahasa asiknya (?) sih guardian angel. Eleanor pernah bilang ada suara di kepalanya yang berbisik supaya dia gak ngelakuin yang gak bener. Nah itu jiwa yang tugasnya membimbing manusia. Cocok sama ending-nya kan waktu ada kunang-kunang menyelusup (?) masuk ke orang yang nganter surat ke Michael? Konsep para spiritulis memang seperti itu. Para jiwa yang udah ‘lulus’ akan membimbing jiwa-jiwa yang masih muda yang masih tinggal di dunia supaya mereka berbuat kebaikan.
 
Btw, penasaran gak sih kenapa hakim suka nonton? Buat apa gitu dia diceritain suka nonton? Berhubung aku suka berteori (eeaak) aku mau menuliskan apa yang kupikirkan tentang si hakim. Hmm, sadar gak hakim ini perlambang sang pencipta? Pas dia mau bikin bumi kiamat gara-gara kesalahan sistem, sumpah itu lucu banget! Gak kebayang aja gitu mendadak dunia kiamat gara-gara kesalahan sistem haha.
 
Oke, fokus lagi. Sering denger kan istilah ‘dunia itu panggung sandiwara’? Nah, aku selalu berpikir sang pencipta ini suka drama. Bukan dalam artian yang buruk lho ya. Ini berkaca dalam pengalaman pribadi di mana hidupku ada dramanya yang gak mau kuinget-inget. Intinya, penulis ingin menunjukkan hal tersebut tapi tetep lewat komedi nan geje. Bahwa kita-kita ini yang masih ada di dunia sedang ‘dilihat’ sama sang pencipta. Begitu…
 
Ada satu lagi yang bikin aku penasaran banget, yaitu katak yang jadi kesukaan penjaga pintu. Aku lupa pintu apa pokoknya yang dia pegang kunci ke dunia manusia itu lho. Kepikiran gak kenapa di antara jutaan hewan di dunia ini kok dipilihnya katak? Apa spesialnya katak, coba? Hidup memang penuh teori jadi mari kita teori-in aja.
 
Katak kan hewan amfibi ya, dia bisa hidup di air sama di darat. Jadi, itu kayak mau menunjukkan dua dunia, yaitu dunia manusia dan di akhirat, juga jiwa-jiwa yang sadar kalau mereka hidup di kedua dunia itu. Inget gak waktu Michael pergi ke dunia manusia berkali-kali dan mau ikut campur urusan Eleanor dkk? Itu jelas banget metaforanya reinkarnasi. Eleanor dkk ‘dihidupkan’ kembali supaya jiwa mereka bisa belajar lagi lewat reinkarnasi. Yah, walau di series-nya mereka kayak mengulang kehidupan mereka sih, tapi tetep itulah pesan tersirat yang mau disampaikan, yaitu reinkarnasi. Ini penulisnya yang pinter sih jadi digarap sedemikian rupa. Chidi pun di series 2 nyebut-nyebut tentang karma. Karma identik banget dengan reinkarnasi. Soalnya tiap manusia yang mengalami reinkarnasi, dia harus bayar karma dari kehidupannya dulu.
 
Seriusan deh, banyak banget muatan tentang spiritual di series ini sampai aku kaget dan tercengang. Berhubung aku suka nonton video-video gituan (maksudnya tentang spiritual gitu), jadi aku sadar dan paham betul semua pesan atau pun metafora di series ini. Inget gak di episode berapa gitu waktu Chidi bilang: ‘Why? How?’ ke Michael? Percaya atau gak, itulah yang pertama mau kutanyakan seandainya aku bertemu sang pencipta. Makanya waktu Chidi bilang itu, aku bener-bener merasa tertohok. Aneh aja gitu kok bisa ada orang di luar sana yang berpikiran sama sepertiku? Di series yang kutonton pula? Kalau bukan karena pengalaman hidup dan perenungan yang panjang, gak mungkin dia sampai kepikiran hal itu. Soalnya itu merujuk ke rahasia alam semesta, yang mana gak semua orang suka mikirin hal abstrak kayak gitu. Lagian buat apa mikirin rahasia alam semesta? Apa gunanya, coba? Gak bikin kenyang juga. Tapi, ada rasa kepuasan tersendiri andai kita tau. At least, kita paham bagaimana cara dunia ini bekerja.
 
Kalau ngomongin ‘The Good Place’ emang susah kalau gak cerita pengalaman atau pandangan pribadi. Aku gak pernah cerita ke siapa pun soal pandanganku tentang kehidupan, tapi nanti susah relate-nya sama series ini, jadi aku cerita sedikit aja kali ya.
 
Jadi, begini. Semua orang pasti punya masalahnya masing-masing. Istilahnya drama kehidupannya sendiri-sendiri gitu deh. Aku pun punya dan semua ini diawali waktu aku kecil. Aku udah normal-normal aja sekarang, tapi pengalaman waktu kecil dulu itulah yang mengubah diriku dan bikin aku mempertanyakan segalanya. Kenapa begini, kenapa begitu, pokoknya aku selalu mencari jawaban atas segalanya (bahasa kerennya sih orang-orang kayak aku ini tipe analitikal jadi apa-apa harus jelas alurnya). Kalau aku agak pinteran dikit, mungkin aku bakal belajar filsafat kayak Chidi (sumpah, Chidi itu mirip aku banget). Tapi, karena kapasitas otakku kecil dan agak bego gini, jadinya aku cuma suka baca aja dan gak pernah belajar dari ahlinya. Maklumlah, namanya juga sadar diri haha.
 
Nah, bertahun-tahun lamanya aku berkutat sama permasalahan pribadi yang gak semua orang tau. Masalahnya ada, tapi pemecahannya aku bikin sendiri. Sebenernya mudah andai aku ke psikiater gitu ya. Tapi, zaman dulu gak ada yang kayak gituan dan aku punya trust issue yang amat besar. Jadi, waktu itu aku merasa seperti diberi ‘tantangan’ untuk menyelesaikan semuanya sendiri. Ini masalahmu, urus sendiri, gak usah minta bantuan orang lain.
 
Apa aku gak punya teman buat diajak bicara? Aku bisa jawab: gak ada. Kalau teman biasa ya ada, tapi buat bicara dari hati ke hati aku emang gak punya. Seperti yang kubilang aku punya trust issue yang sangat besar, jadi aku gak bisa percaya sama orang. Aku sadar semua orang itu berubah dan gak akan stagnan. Bisa aja yang dulunya deket, karena sesuatu hal, hubungannya jadi renggang. Ya semacam itulah. Aku gak suka hal-hal semacam itu, karena aku khawatir kalau permasalahanku bocor, itu bakal jadi bumerang buatku.
 
Faktor lainnya, entah kenapa aku selalu deket sama orang-orang yang ngeselin. Pokoknya aku selalu disituasikan supaya aku ‘sendiri’. Lambat laun, aku sadar itu semua hanya cara supaya aku menyelesaikan masalahku dulu, baru fokus ke manusia. Di fase itulah, aku ‘mempelajari’ diriku, orang-orang di sekitarku, sampai aku paham manusia itu seperti apa, dan apa kaitannya dengan permasalahanku sendiri. Aku mulai paham perlahan-lahan cara kerja kehidupan seperti apa dan kenapa hidup itu gak ada yang sempurna.
 
Puncaknya waktu aku mengalami spiritual awakening. Aku baca-baca pengalaman orang yang mengalami spiritual awakening juga, kebanyakan mereka punya pemahaman yang mirip-mirip. Mereka ditimpa permasalahan dan akhirnya sadar untuk apa permasalahan itu ada. Dari awal, mereka punya seribu pertanyaan tentang kehidupan dan perlahan-lahan nemu jawabannya lewat perenungan yang panjang. Kalau dasarnya orangnya pinter, mereka bisa merumuskannya dengan baik buat membantu orang-orang yang membutuhkan. Buat yang gak, paling kayak aku yang menyimpannya sendiri. Tapi, pengetahuan itu gak lekang dimakan waktu, jadi itu berguna buat melanjutkan hidup.
 
Setelah aku mengalami fase-fase yang kusebutin di atas, aku bisa bilang ‘The Good Place’ ini series yang amat personal buatku. Kenapa? Soalnya nyaris semua yang pernah kupikiran ada di series ini. Makanya, susah bagiku buat gak biased. Tapi, mau gimana lagi dengan masa laluku yang seperti itu, aku merasa amat relate sama series ini. Aku bisa paham apa yang penulis skenarionya pengin sampaikan. Istilahnya kayak satu server gitu deh, jadi langsung klik.
 
Setelah ngomong panjang-lebar begini, aku cuma mau bilang, ‘The Good Place’ ini series yang amat bagus. Terlepas dari pengalaman pribadiku, kalau dilihat secara objektif pun, series ini memang layak banget buat ditonton. Aku orangnya ngeselin kalau baca atau nonton sesuatu, pasti kebanyakan komentar ini-itu (kebanyakan mau, kebanyakan kritik gitu deh). Anehnya, pas nonton series ini aku merasa semuanya perfect aja. Gak ada yang bisa kukomenin, karena memang se-perfect itu. Oh, ada yang gak perfect deng. Soalnya kurang panjang. Mau 10 season pun kayaknya aku mau-mau aja nonton demi bisa liat Eleanor haha. Btw, tokoh favoritku dia ya. Aku suka aja tokoh yang nyablak gitu. Ini kalau di psikologi ada istilahnya gitu kita tertarik sama orang-orang yang berbeda dengan kita biar bisa saling melengkapi (eeaaak). Kalau gak salah namanya opposite attraction. CMIIW ya, namanya juga pernah baca doang, bukan mendalami.

Oh ya, 'The Good Place' bisa ditonton di Netflix. Happy watching!
 
Rating: 5/5 bintang

Nov 30, 2021

Pasukan Buzzer

1


REVIEW PASUKAN BUZZER

Judul: Pasukan Buzzer
Penulis: Chang Kang-myoung
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2021
Tebal: 288 halaman 
ISBN: 978-602-065-378-5

Blurb:

Internet, Propaganda, dan Manipulasi Opini Publik.

Sam-goong, Chatatkat, dan 01810 pada awalnya membentuk Tim Aleph sebagai perusahaan pemasaran online yang menawarkan jasa mempromosikan produk atau perusahaan. Dengan Sam-goong yang ahli menyusun strategi, Chatatkat yang pintar merangkai kalimat, dan 01810 yang jago komputer, mereka pun dengan cepat menguasai cara memanipulasi orang-orang melalui internet.

Suatu hari, Tim Aleph menerima permintaan pekerjaan yang aneh.

“Kalian pernah mendengar situs bernama Kafe Jumda? Jika kalian berhasil menghancurkan situs itu dalam waktu satu bulan, aku akan memberi kalian sembilan puluh juta won.”

Dengan keyakinan polos dan menggebu-gebu bahwa mereka bisa mengubah dunia, Tim Aleph pun mulai beraksi. Ketiga pemuda itu sama sekali tidak menyadari bahwa mereka mungkin terlibat dalam permainan politik berbahaya dan organisasi rahasia yang tidak segan-segan menyingkirkan siapa saja yang dianggap bisa merugikan mereka… dengan cara apa pun.

Review:

Tak bisa dipungkiri, internet telah mengubah paradigma kehidupan pada manusia modern. Terlebih era digitalisasi membuat manusia tak bisa lepas dari pengaruh internet. Internet memang mempermudah segalanya. Kita bisa mendapatkan apa saja hanya dengan berselancar di internet—mulai dari informasi, relasi, sampai eksistensi. 

Sayangnya, kemudahan mendapati ketiga hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Mereka mempelajari kecenderungan sosial pada komunitas di internet dan menanamkan paham yang bersifat persuasif. Memancing dan menggiring opini pun dapat dilakukan dengan mudah. Apalagi kebanyakan pengguna internet adalah orang-orang yang menjunjung moralitas yang tinggi.

Chang Kang-myoung menyoroti hal tersebut pada novelnya yang berjudul Pasukan Buzzer. Novel ini mengisahkan tentang Tim Aleph yang beranggotakan Sam-goong, Chatatkat, dan 01810. Awalnya, pekerjaan Tim Aleph hanya berpusat pada usaha mereka untuk mempromosikan produk dan perusahaan. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai memanipulasi orang-orang di internet. Propaganda pun dilancarkan oleh Tim Aleph atas pesanan pihak tertentu yang bertujuan untuk menghancurkan komunitas yang dirasa mengancam.

Membaca novel ini membuat kita sadar betapa besar pengaruh internet pada kehidupan sehari-hari. Sayangnya, kebanyakan pengguna internet bukanlah tipe pembelajar. Seringnya mereka bersikap egois dan mau menang sendiri. Terutama apabila menyangkut pendapat orang lain.

Sikap semacam ini disebut dengan ‘bias konfirmasi’. Bagaimanapun, bias konfirmasi adalah sikap yang buruk, karena yang dilakukan hanya mencari bukti yang mendukung opini pribadi, bukan fakta yang sesungguhnya terjadi:

“Semakin lama kita menenggelamkan diri ke dalam internet, semakin sering kita melihat apa yang ingin kita lihat, dan semakin kita percaya pada apa yang kita percayai selama ini.” (hal 69-70)

Novel ini memang cuma setebal 288 halaman. Meski demikian, penulis memberi sentuhan yang elegan dengan kejutan yang tak terpikirkan begitu mendekati akhir cerita. Pembaca pun dibawa pada kesimpulan yang mengerikan bahwasanya propaganda mampu dilakukan. Terutama oleh orang-orang yang berkuasa demi mencapai tujuan mereka.

Novel ini juga memberi gambaran singkat seperti apa industri wanita hiburan di Korea Selatan. Betapa miris melihat wanita hanya dijadikan objek kepuasan para pria. Patut disayangkan bagaimana penulis memperlihatkan wanita tak lebih dari sekadar alat pemuas seks dan dijadikan ‘penggembira’ saat pesta.

Walaupun penulis mengakui Pasukan Buzzer hanyalah fiksi semata, tapi kita bisa lihat seperti itulah fakta yang terjadi saat ini. Aneka peristiwa yang viral dan trending, bahkan skandal para artis, bisa saja merupakan pengalihan isu/konspirasi untuk menutupi kasus tertentu. Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum, meski tak ada bukti yang memberatkan golongan tertentu.

Internet sebagai bentuk kemajuan teknologi memang memberikan banyak manfaat. Sayangnya, bak pedang bermata dua, ada dampak positif dan negatif yang menyertainya. Novel ini menggambarkan jelas hal tersebut. Karena itulah, kita harus bijak menyikapi segala hal yang muncul di internet. Terutama bagi kalangan anak muda yang merupakan pengguna aktif internet:

Selama beberapa waktu, anak-anak muda akan menguasai dan mengguncang internet. Lalu internet akan mengguncang kenyataan. Dan zaman kegelapan pun menjelang. (hal. 182)

Rating: 4/5 bintang

Apr 17, 2021

The Sixth Wicked Child

0


REVIEW THE SIXTH WICKED CHILD

Judul: The Sixth Wicked Child
Penulis: J.D. Barker
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: 1, 2021
Tebal: 690 hal
ISBN:978-623-04-0356-9

Blurb:

Tidak mendengar yang tidak baik.

Bagi detektif Porter, kalimat "Ayah, maafkan aku," membangkitkan kenangan yang sengaja dikubur dalam-dalam. Bagi Bishop, ini mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi selama beberapa dekade.

Tidak melihat yang tidak baik.

Ditemukan dekat dengan jasad korban, kalimat itu menghubungkan banyak korban dengan satu pembunuh.

Tidak bicara yang tidak baik.

Di tengah kekacauan dalam Chicago Metro dan FBIvirus, isolasi rumah sakit, petugas nakal, hingga korupsiBishop justru menyerahkan diri dan mengungkap sesuatu yang tak terduga, sesuatu yang mengubah dan memutarbalikkan situasi.

Tidak bertindak yang tidak baik.

Masa lalu mulai terurai, kebenaran perlahan terungkap. Akankah ini menjadi akhir perjalanan bagi Pembunuh Empat Monyet?

Review:

Selama Sam Porter ditahan, kembali terjadi pembunuhan beberapa orang yang melibatkan P4M. Modus operandinya serupa, yaitu ditemukan tiga kotak kecil putih yang diikat pita warna hitam dan papan bertuliskan "Ayah, Maafkan Aku". Para detekfif yang berwenang dan FBI pun mencari tahu keterkaitan para korban yang ditemukan.

Ketika penyelidikan berlangsung, Bishop menelepon Detektif Nash dan memintanya bertemu. Nash datang menemui Bishop, tanpa tahu Bishop memiliki rencana tersendiri. Rupanya Bishop sengaja memprovokasi Nash. Bishop membiarkan dirinya dipukuli untuk diperlihatkan kepada media bagaimana seorang polisi memperlakukan orang yang dianggap bersalah. Setelahnya, Bishop membeberkan fakta lain yang menghebohkan. Dia mengaku bahwa Sam Porter-lah dalang di balik P4M.

Para detektif dibingungkan dengan pernyataan Bishop tersebut. Namun, ketika diselidiki lebih lanjut, semua bukti mengarah pada keterlibatan Porter. Sementara itu, walikota dikabarkan menghilang. Clair pun menghilang ketika berada di rumah sakit yang saat itu sedang dikarantina akibat virus SARS. 

Berbekal buku harian Bishop, Porter mencoba menguak apa yang pernah terjadi di masa lalu. Ada sebagian ingatan Porter yang hilang akibat kepalanya pernah tertembak. Tapi, benarkah dia melakukan kejahatan yang tidak dia ingat? Atau... dia cuma penjahat yang berkedok sebagai polisi? 

***

The Sixth Wicked Child adalah buku terakhir dari seri The Fourth Monkey. Sama seperti buku-buku sebelumnya, pembaca disuguhi alur cerita yang intens. Terlebih di buku ini Sam Porter dituduh melakukan kejahatan yang serius. Seorang polisi harusnya mengayomi masyarakat. Tapi, ketika semua bukti menyudutkannya sebagai penjahat, siapakah yang lantas bisa dipercaya? 

Bishop sengaja membenturkan kenyataan tersebut pada publik. Bishop pun mendapat simpati, sementara publik, bahkan polisi menyudutkan Porter. Pada tahap ini, pembaca dibuat meragukan Porter. Porter yang sejak awal menangani kasus 4PM rupanya dalang di balik kasus yang coba dia pecahkan sendiri. Apa itu mungkin? Misteri tersebut sengaja disimpan oleh penulis dan akan terkuak menjelang ending

Buku harian Bishop merupakan bagian paling menarik di novel ini. Yang terjadi pada masa lalu Bishop terbilang mengenaskan untuk anak seusianya. Bagaimanapun pembunuh tak bisa langsung membunuh. Selalu ada alasan dan latar belakang di baliknya. Pembunuhan memang tak bisa dibenarkan. Hanya saja sebagai pembaca, kita dibuat mengerti untuk apa Bishop membunuh para korbannya.

Selain alur yang intens, ada kejutan tak terduga yang menanti. Misalnya saja pengkhianatan yang dilakukan pihak yang tak terduga, dan jebakan yang disusun Bishop atas aksinya. Akhir ceritanya pun begitu berkesan. Kalau di buku pertama Porter dibuat tak berdaya atas kematian istrinya, akhirnya terkuak dalang di baliknya. Tentu saja penulis mengakhirinya dengan dramatis layaknya adegan dalam sebuah film.

Sebagai penutup seri The Fourth Monkey, tak berlebihan apabila buku ini mendapat rating yang cukup tinggi di Goodreads. Membaca novel ini cukup memicu adrenalin. Label best seller bukan cuma sekadar tempelan semata, tapi dibuktikan dengan kualitas ceritanya yang jempolan. Penulis pun memberi pesan tersirat, bahwa selama ada polisi jahat, maka akan selalu ada polisi baik.

Terakhir, cukup banyak kalimat yang quotable di buku ini. Semuanya dirangkum di bawah ini:

"Aku tidak bisa meninggalkan temanku."

"Tidak, tetapi terkadang mereka yang meninggalkanmu." (hal. 18)

"Aku akan memberitahumu rahasia kecil, Frank. Orang cenderung menurunkan kewaspadaan mereka di dekat polisi bodoh. Kau akan terkejut betapa bermanfaatnya beberapa lelucon dan pakaian kusut." (hal. 68)

"Lupakan matamupenglihatan hanya kekasih penuh penipuansetelah kau memercayai indramu yang lain dengan sama besarnya seperti kau memercayai matamu, baru kau benar-benar belajar untuk melihat." (hal. 161)

"Kecantikan pernah memicu banyak perang, tetapi belum pernah mengakhiri satu pun perang. Kecantikan memiliki rasa tidak seperti yang lain. Itu adalah racun yang paling manis. Kau akan menginginkan lebih bahkan saat kematian merenggut nyawamu." (hal. 215)

"Semua hal ada harganya. Aku tahu apa yang kalian pikirkankalian pikir kita bisa menghidupkan lagi truk ini, dan pergi ke suatu tempat yang lebih baik. Yah, coba tebak, tidak ada tempat yang lebih baik, hanya tempat yang berbeda. Seluruh dunia adalah tangki septik. Yang bisa kalian lakukan hanyalah memilih sudut yang lebih bersih dan menahan baunya selama mungkin, kemudian pindah ke tempat lain." (hal. 266)

Terkadang solusi yang mudah atau yang sudah jelas bukanlah yang terbaik, dan terkadang yang terbaik itu tidak jelas atau mudah. (hal. 315)

"Kenangan itu mengalir, seperti air. Bisa meresap ke celah dinding paling kecil, setetes demi setetes, tetapi tidak pernah hilang sepenuhnya, mereka bertahan di sana, sampai tidak bisa lagi dibendung, kemudian mereka akan mencari pintu, mereka meraih cahaya. Ingatanmu ingin keluar. Kau hanya perlu membiarkannya. Mereka mendesak bagian belakang dinding itu." (hal. 496)

Rating: 5/5 bintang

Mar 10, 2021

Tragedi Apel & Buku Ajaib Jiko

0


REVIEW TRAGEDI APEL & BUKU AJAIB JIKO

Kisah di Balik Pencurian Apel

Judul: Tragedi Apel & Buku Ajaib Jiko
Penulis: Yosep Rustandi
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: I, Juli 2020
Tebal: 160 halaman
ISBN: 978-623-253-002-7
Harga: Rp. 40.000,-

Blurb:

“Buku memberi bantuan kalau kita jujur. Kalau bohong berarti mikir sendiri.”

Alin, bocah lelaki delapan tahun itu terpaksa menjambret. Bukan untuk uang atau pun perhiasan, melainkan ‘hanya’ seplastik apel. Apel import besar beraroma harum, buah yang telah lama diidamkan emaknya. Emak sakit parah dan Alin ingin membahagiakan beliau supaya beliau cepat sembuh.

Akan tetapi, apel hasil jambretan itu justru membuat petaka. Bersama sahabatnya, Jiko si kutu buku, Alin berusaha keluar dari masalah pelik yang datang silih berganti. Ide-ide cemerlang hadir lewat buku 
ajaib Jiko, memberi titik terang pada permasalahan Alin.

Sebuah kisah yang seru, lucu, dan sarat pelajaran. Tak mengherankan jika cerita ini menjadi Pemenang I dalam Kompetisi Menulis Indiva 2019 Kategori Novel Anak. Sangat menginspirasi. Selamat membaca, Kawan!

Review:

Mencuri adalah perbuatan tercela. Tak jarang kita menghakimi pelakunya. Namun, apabila yang dicuri cuma seplastik apel, masihkah kita bersikap menghakimi, tanpa mencari tahu kisah di baliknya?

Seperti itulah gambaran cerita Tragedi Apel & Buku Ajaib Jiko karya Yosep Rustandi. Pencurian apel yang dilakukan Alin rupanya berbuntut panjang. Jiko memang tak ikut mencuri. Namun, dia terpaksa terlibat gara-gara melihat Alin mencuri dan bersama-sama melarikan diri setelah diteriaki maling.

Kisah dalam cerita ini bergulir dengan apik. Situasi yang dialami Alin membuat pembaca merasa simpati. Kemiskinan memang menjadi momok dalam masyarakat kita. Hal itu tertuang dalam kisah hidup Alin. Tak bisa dipungkiri masih ada anak-anak seperti Alin yang harus mencari nafkah untuk bertahan hidup.

Novel ini memperlihatkan dengan jelas efek dari kesenjangan ekonomi. Anak-anak seperti Alin dan Jiko harusnya mencecap pendidikan dengan layak. Sayangnya, keadaan berkata lain. Untunglah masih ada lembaga seperti LSM Sanggar Hati yang peduli. Yasmin, sebagai salah satu relawan, berkontribusi sebagai pengajar di sana. Di sana pula dia berteman akrab dengan Jiko yang hobi membaca buku.

Bisa dibilang konflik dalam cerita ini cenderung simpel dan tak terlalu berat. Pembaca diajak menyelami alasan Alin harus mencuri apel, dan keengganan Yasmin bercerita pada keluarganya kalau dia salah satu relawan di Sanggar Hati. Kedua konflik itu diakhiri dengan baik dan terbilang manis.

Sayangnya, ada satu hal yang luput diperhatikan. Karena buah apel adalah fokus utama, bahkan Alin dan Jiko menamam bibitnya, tak ada info mengenai buah tersebut. Hal ini amat disayangkan. Tak seperti buah lain, apel tak bisa tumbuh di sembarang tempat. Apel cuma bisa tumbuh di dataran tinggi dengan suhu dingin. Memang ada jenis apel yang bisa tumbuh di dataran rendah. Hanya saja hal itu sama sekali tak disinggung. Penulis seperti tak mempertimbangkan untuk memasukkan info tersebut pada ceritanya. Padahal sedikit info tak akan mengurangi eksistensi cerita. Malah akan membuat cerita lebih hidup, sehingga penggunaan apel tak cuma sekadar tempelan belaka.

Meski demikian, buku ini masih memberikan banyak pesan pada pembaca. Dari sosok Alin, kita belajar bagaimana menjadi sosok anak yang tabah. Dari sosok Jiko, kita tahu bahwa buku adalah jendela pengetahuan. Dari sosok Yasmin, kita belajar untuk peduli pada kehidupan kaum papa. Dan, dari sosok Dini yang apelnya dicuri Alin, kita belajar untuk tak lekas menghakimi perilaku buruk orang lain.

Buku ini memang paket lengkap. Muatan ceritanya banyak sekali. Ada juga adegan yang membuat haru. Dengan keistimewaannya, tak heran buku ini menjadi Pemenang I dalam Kompetisi Menulis Indiva 2019 Kategori Novel Anak.

Di buku ini ada pula kutipan-kutipan menarik. Kutipan tersebut dirangkum di bawah ini:

“Alin tidak tahu, Teh. Dia tidak tahu kalau buku memberi tahu kita tentang banyak hal. Semuanya ada di buku. Seluruh pengetahuan dunia ini ada di buku. Begitu kan, Teh Yas?” (hal. 36)

Bahagia yang menyedihkan sebenarnya. Bahagia karena anak delapan tahun itu sudah begitu dewasa. Alin tahu apa yang harus dikerjakannya. Alin tahu di mana tempat ia hidup. Tapi kasihan juga. Anak sekecil itu harus memikul beban yang berat. Mestinya ia bermain dan belajar  sebagaimana anak lain seusianya. (hal. 41)

“Dini, tidak semua anak seperti Jiko! Jangan menyamaratakan mereka seperti itu dong! Kamu pikir semua orang kaya, terpelajar, itu baik? Pencuri besar itu biasanya orang kaya, biasanya terpelajar!” Yasmin akhirnya meledak. (hal. 91)

Tapi sejak itu Alin mulai belajar banyak hal. Semua yang hidup pernah merasakan sehat dan sakit. Nilai hidup tidak ditentukan dari mana kita berasal dan di mana kita mati. Nilai hidup ada dalam proses menjalani. Siapa yang bisa menjalani hidup lebih baik, lebih bijak, lebih berguna, lebih ikhlas, lebih bertakwa, itulah orang-orang yang berbahagia. Begitulah pelajaran yang Alin tangkap, pelajaran yang diberikan emak selama ini. (hal. 157)

Rating: 4/5 bintang

Mar 5, 2021

Ayah, Aku Rindu

0


REVIEW AYAH, AKU RINDU

Kisah di Balik Kematian Sang Ibu

Judul: Ayah, Aku Rindu
Penulis: S. Gegge Mappangewa
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: I, Maret 2020
Tebal: 192 halaman
ISBN: 978-602-495-290-7
Harga: Rp. 45.000,-

Blurb:

Samar-samar kudengar suara ayah. Ya, suara ayah. Suara yang telah lama kurindukan itu terdengar dari ruang tamu. Ada sebuah rasa yang menyusup ke dalam dadaku. Rasa bahagia yang melonjak-lonjak.

Doa itu…?

Doa yang selama ini kupanjatkan dengan menyebut nama ayah di dalamnya, ternyata begitu cepat dikabulkan. Padahal saya pernah pesimistis, toh ayah sendiri yang pernah bilang bahwa tidak semua doa langsung dikabulkan. Butuh penantian. Butuh kesabaran.

Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk kemudian ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan.

Review:

Memiliki orang tua yang lengkap dan harmonis tentu menjadi impian semua anak. Namun, takdir manusia tak bisa ditebak. Kematian bisa saja menghampiri ayah/ibu dan meninggalkan luka yang mendalam. Tentu butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut. Yang menjadi masalah, bagaimana kalau hal itu mengawali terkuaknya misteri kehidupan seseorang?

Seperti itulah gambaran cerita Ayah, Aku Rindu karya S. Gegge Mappangewa. Kematian sang ibu tak hanya membuat Rudi kehilangan sang ibu, tapi juga sang ayah. Ayah Rudi memang masih hidup. Hanya saja kematian istrinya membuat jiwanya terguncang. Rudi enggan mengakui kalau ayahnya mengalami gangguan jiwa. Namun, fakta itu terpampang jelas. Terlebih ayahnya tak segan ingin menghabisi nyawanya, tanpa Rudi tahu apa penyebabnya.

Sebenarnya, apa yang mendasari perilaku ayah Rudi tersebut? Apa pula pemicunya? Novel ini memang memiliki premis yang menarik. Balutan misteri atas sikap ayah Rudi membuat pembaca penasaran untuk mencari tahu rahasia apa yang tersembunyi. Rupanya rahasia itu berhubungan dengan masa lalu sang ibu. Ketika rahasia itu terkuak, pembaca jadi ikut merasa simpati atas apa yang terjadi pada Rudi dan ibunya.

Memiliki orang tua yang mengalami gangguan jiwa akibat depresi memang tak mudah. Rudi yang masih remaja kesulitan menerima kondisi tersebut. Apalagi orang terdekatnya terus mendesak agar ayah Rudi dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Rudi baru saja kehilangan ibunya. Ketika berpikir dia akan kehilangan ayahnya, hal itu memberinya konflik batin yang cukup berat. 

Bisa dibilang cerita dalam novel ini cukup mengalir. Hanya saja ada satu kelemahan yang tampak jelas. Penggunaan kata ‘saya’ dan -ku untuk menunjukkan milik terasa amat mengganggu. Alangkah baiknya menggunakan kata ‘aku’ saja agar pembaca merasa nyaman saat membaca.

Meski ada kelemahan, novel ini menawarkan banyak potensi. Muatan ceritanya cukup kompleks. Unsur lokalitasnya juga begitu kental dengan sisipan legenda mengenai Nenek Mallomo. Untuk ukuran novel setebal 192 halaman yang bisa dibaca sekali duduk, penulis cukup piawai memainkan plot. Terlebih ada twist yang disiapkan begitu mendekati akhir cerita.

Melihat keistimewaannya, novel ini sangat layak menyabet gelar juara 1 Kompetisi Menulis Indiva 2019. Dari kisah Rudi, Pak Sadli, dan Nabil, pembaca bisa belajar bagaimana seorang anak menyikapi perbuatan ayahnya. Terlebih ketika sang ayah bukan sosok ideal yang diimpikan. 

Novel ini bertabur banyak kalimat indah yang bisa dijadikan kutipan yang menarik. Semuanya dirangkum di bawah ini:

Ibu yang telah meninggal, perlahan-lahan memang bisa kulupakan. Namun, ayah yang tiap hari harus kuhadapi dengan kesabaran penuh, tak akan bisa beranjak dari pikiranku. (hal. 26)

“Jika kalian ingin cerdas, jujurlah! Karena kejujuran adalah kecerdasan yang sudah mulai langka. Ingat, kejujuran bukan gunung batu! Kejujuran bisa diperbarui! Mulailah!” (hal. 32)

Andai saya bisa seperti Nabil, yang hanya dengan bercerita, lukanya seperti terembus angin sepoi, mungkin saya tak seterpuruk sekarang ini. Harusnya saya banyak dari Nabil tentang manajemen luka, belajar tentang sabar, dan banyak lagi yang harus saya pelajari darinya, kecuali dalam hal mendapatkan cinta. (hal. 37)

“Jika masalah harus dihargai dengan air mata, suatu saat orang tak akan percaya lagi dengan tangis kita.” (hal. 54)

“Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan. Ayahku memang meninggal belum setahun, tapi saya kehilangan sosoknya sejak saya lahir.” (hal. 60)

Kutanyakan padamu, adakah hati yang tak teriris melihat pemandangan serupa itu terjadi pada ayahnya? Ayah yang dulu bersamamu mencipta kenangan manis, ayah yang dulu pernah memberimu tawa, kini serupa tahanan yang meminta belas kasihan. (hal. 93)

Sesal tak pernah datang tepat waktu. Sesal selalu menunggu semua  tak bisa lagi terulang kembali, lalu datang mengetuk pintu untuk memberi kabar bahwa semua tak ada artinya lagi. (hal. 95)

“Allah sebaik-baik penolong dan tempat meminta, Rud! Setahun, dua tahun, itu ukuran dokter. Allah bisa mengubah segalanya lewat doa-doa kamu, Rud! Tentu saja sambil menguji kesabaranmu.” (hal. 123)

“Melupakan tak selamanya berarti pengkhiatan, Rud! Kamu memang harus tetap mengingat ayahmu dalam doa.” (hal. 126)

Rating: 4/5 bintang

Dec 29, 2020

Resonance

0


REVIEW RESONANCE
 
Takdir Dua Insan 

Judul: Resonance 
Penulis: Morra Quatro 
Link: Storial.Co 
Kategori: Novel
 
Blurb: 

Thomas dan Aurora adalah sepasang "crush" masa kecil yang saling menemukan kembali setelah dewasa. Keduanya bermain dengan takdir, sebab: "Hidup hanyalah rangkaian kebetulan yang sebenarnya kita ciptakan sendiri. Tidak ada yang namanya takdir." Begitu Rora diperingatkan.

Sedangkan Tommy percaya, tanpa dukungan semesta, tidak akan ada kebetulan begitu persis yang mempertemukan mereka kembali. Sementara beban masa lalu keduanya terus mengikuti, menolak untuk dilupakan.

Review:

First love lies deep. Pepatah itu cukup sering kita dengar. Bagi beberapa orang, cinta pertama bisa saja tak terlupakan. Cinta pertama bisa saja membekas dalam ingatan dan terbawa hingga dewasa. Ada pula yang memaknainya secara melankolis, terutama saat cinta pertamanya tak terbalas dan belum tuntas. Bagi beberapa penulis, cinta pertama cukup sering dijadikan tema pada kisah yang ditulisnya. Cinta pertama memang memiliki magnet tersendiri. Terutama bagi pembaca yang menyukai cerita romantis. 

Morra Quatro memaknai cinta pertama dengan begitu syahdu dalam kisahnya yang berjudul Resonance. Resonance merupakan salah satu bab premium di Storial.Co. Dengan membayar 200 koin, siapa pun bisa membaca cerita ini. Tapi, perlu digarisbawahi cerita ini cukup mengandung ‘bawang’. Itu berarti persiapkan diri Anda untuk terbawa perasaan begitu mengikuti perjalanan cinta Thomas Alva (Tommy) dan Aurora Fatima (Rora) selaku tokoh utama.

Kisah Resonance diawali dengan sebuah pemakaman seorang pria tua bernama Dinar. Dinar adalah salah satu pasien Tommy. Tommy sempat melakukan operasi pada Dinar sebelumnya. Operasi itu berjalan dengan baik. Sayangnya, perkembangannya tak terlalu bagus. Pada akhirnya, nyawa Dinar pun tak tertolong, yang membuat segenap keluarga Dinar berduka atas kepergiannya.

Lalu, apa hubungan Dinar dengan kisah cinta Tommy dan Rora? Misteri itu disimpan dengan baik oleh penulis. Alih-alih memberi clue, penulis sengaja membiarkan misteri itu mengambang di udara dan membuat pembaca menaruh fokus pada pertemuan Tommy dan Rora yang serupa takdir. Tommy dan Rora terpisah waktu cukup lama. Saat di Bali-lah mereka akhirnya bertemu, yang membuat Tommy merasa inilah kesempatannya untuk mendapatkan kembali cinta sejatinya.

Ada keterhubungan nyata yang penulis berikan pada tokoh Tommy dan Rora. Mereka sama-sama memiliki tato tujuh burung camar pada lengan, yang melingkar di bawah siku dan beterbangan hingga punggung tangan. Ada kisah manis yang melatarbelakangi kisah di balik pembuatan tato tersebut, yang membuat pembaca merasa ada jalinan takdir pada hidup Tommy dan Rora.  

Kisah ini menggunakan alur maju-mundur. Flashback waktu Tommy dan Rora saat masih sekolah terbilang cukup manis. Chemistry di antara keduanya begitu terasa. Pembaca dibuat tersenyum menyaksikan interaksi keduanya. Sayangnya, masa lalu mereka cukup runyam, sehingga alih-alih bisa bersama, semesta seolah ikut andil membentuk kesalahpahaman yang tak berujung di antara keduanya.

Bisa dibilang kesalahpahaman inilah yang sama-sama dibawa Tommy dan Rora hingga dewasa. Ada permasalahan yang belum tuntas pada masa lalu mereka. Mereka memang menjalani hidup masing-masing. Anehnya, mereka seperti 'terikat' pada satu sama lain. Bisa dibilang mereka 'terikat' pada kenangan di masa lalu dan sama-sama saling mendamba. Sungguh hubungan yang romantis, meski tampak pedih. Bagaimanapun ada kejutan lain yang diberikan penulis untuk kisah cinta Tommy dan Rora, yang masih berhubungan dengan kehadiran Dinar.

Morra Quatro memberi kesan nyaman pada tulisannya, dengan diksi yang manis dan puitis. Cukup banyak kalimat yang quotable pada Resonance yang dapat dibaca di sini. Membacanya sungguh membuat terenyuh. Karena Tommy adalah seorang dokter, deskripsi saat operasi pun terlihat nyata dengan berbagai penyebutan istilah di bidang kedokteran. 

Membaca Resonance sangat mengaduk perasaan, terutama apabila Anda pernah mengalami cinta di masa lalu yang belum tuntas. Meski begitu, ada pesan tersirat yang ingin disampaikan penulis. Bagaimanapun masa lalu letaknya di belakang. Alangkah baiknya kita melangkah maju ke depan dan tak perlu lagi menengok ke belakang:

Tak perlu melihat lagi kepada masa lalu yang telah kutinggalkan. Tak perlu melihat kepada masa lalunya, karena yang kami miliki adalah hari ini 

Yang aku butuhkan sekarang hanyalah hari ini.

Rating: 4/5 bintang

#ReviewNovelStorial #GenerasiBacaOnline

Resonance

0

Aurora Fatima 
Source here 

Quotes Novel "Resonance" karya Morra Quatro 

Kehilangan-kehilangan ini akan terus terjadi. Suka tidak suka, orang harus membiasakan diri.

"Tapi sebenarnya tidak ada campur tangan Tuhan dalam urusan hidup manusia, betul? Kerja sama semesta bentuknya tidak seperti itu. Hidup hanya rangkaian kebetulan demi kebetulan. Itu saja, tak lebih. People are just reaching too much. Bahwa saya masih berada di sini pun sangat mungkin hanya kebetulan semata."

Persahabatan baru selalu terasa menyenangkan.

Tidak, persahabatan memang selalu terasa menyenangkan.

Terasa jauh lebih menyenangkan saat kamu mengenangnya setelah bertahun-tahun kemudian, saat kamu tahu ia diulurkan dari kepolosan yang tulus. Yang masih tidak tahu apapun tentang resikonya. Mungkin seperti itu pulalah cinta pertama. Namun, saat aku mengenang saat-saat itu lagi, aku sadar seringnya cinta butuh waktu yang lebih banyak untuk bisa disimpulkan.

Tak ada kebetulan yang terjadi seperti ini.

Tak akan pernah ada, tanpa dukungan alam semesta yang sedemikian rupa.

Tak ada yang lebih menyiksa daripada keadaan letterless. Perpisahan tanpa kata itu paling menyakitkan.

Namun, hidup tak bekerja dengan cara demikian. Setiap kita mulai merasa mapan dengan sistem kita, dengan antisipasi-antisipasi dan rencana-rencana, hidup pasti punya cara untuk mengguncangkannya hingga semuanya terburai kembali.

"Bahwa justru keadaan melelahkan ketika kita mengikuti keinginan cinta, seperti yang bapak sampaikan tadi, itulah yang menjaga spesies manusia tetap berkelanjutan. Upaya orang-orang untuk tetap merasakan dopamin, endorfin dan oksitosin saat harapan-harapan tentang cinta mereka terpenuhi, memang terlihat konyol. Tapi, tanpa itu, tak ada ada reproduksi dan spesies ini sudah lama punah.

"Karena tak ada alasan untuk yang sebaliknya, Pak Dinar. Dan memercayai sesuatu, sesulit apapun, semustahil apapun, tetap lebih baik daripada tidak percaya pada apa-apa.

"Anita, mendiang istri saya, percaya pada takdir. Pada jodoh dan semacamnya, meskipun dia mungkin sebenarnya sadar itu sama sekali tidak masuk akal. Dia akan bilang tidak semua hal perlu dicerna dengan akal sehat. Ada orang-orang yang menunggu cinta sejati mereka bertahun-tahun, supaya kembali atau tidak kelewatan, tapi mereka tetap tidak kembali. Atau mereka kembali tapi tidak dalam keadaan sama—because they just don't grow at the same rate. Itu bukan takdir, dokter. Itu semua terjadi atas dasar hukum sebab-akibat. Tapi Anita bahkan percaya pada zodiak dan kartu Tarot. Saya tak pernah melihat seseorang begitu kuat memercayai sesuatu yang tak benar-benar nyata dan ada. Jadi, saya mencoba percaya. Pada Tuhan. Saya berdoa setiap hari, setiap malam agar dia tidak pergi begitu cepat."

Mengapa aku harus begitu peduli? Segala sesuatu selalu lebih mudah bila kita tidak terlalu peduli. Semakin kita peduli, semakin mudah kita kecewa. 

Kecerdasan dan ketekunan, bila digabung jadi satu akan menghasilkan hal-hal luar biasa.

"You left her letterless," ujarnya. "Tidak ada keadaan yang lebih menyakitkan daripada sesuatu yang tanpa kata, Tommy. Tanpa penegasan, tanpa penjelasan, baik itu yang diucapkan maupun yang ditulis."

Algoritma neurosains manusia yang menjadi kunci jawabannya baru kupahami satu dekade kemudian. Bahwa bila perempuan tak pernah emosional, tak akan pernah ada reproduksi. Spesies ini akan punah dengan segera. Bahwa demikianlah cara semesta bekerja untuk menjaga kelangsungan hidup manusia, yang kuncinya ada dalam tubuh perempuan; dalam kerumitan-kerumitannya.

Bahkan, bila Dinar benar pun tak mengapa. Bila tak ada yang disebut takdir, bila hidup hanyalah rangkaian kebetulan semata, aku akan menciptakan kebetulan-kebetulan untuk diriku sendiri.

Dalam pekerjaanku, aku mendengar apa-apa yang tidak disuarakan orang. Merasakan apa-apa yang tersembunyi; detak jantung, irama napas, denyut nadi. Kesemuanya ini bercerita lebih banyak tentang kondisi psikis siapa pun. Dan seperti apapun mekanisme pertahanan diri yang mereka bangun, akan ada saat ketika orang tak mampu menyembunyikannya.

Rinduku bagai hutan kering yang seketika diguyuri hujan deras. Tetes-tetes dingin meresap ke dalam tanah—pencarianku tak sia-sia. Ini memang waktuku, for the love of everything. Semua orang pantas merasa seperti ini setidaknya satu kali dalam hidup; inilah saat ketika kebetulan kosmik yang ajaib itu berpihak padamu. Rasanya meamng seperti keberuntungan, pantas saja ia dinamakan demikian.

Dalam usia remajaku, aku berusaha berpikir memang seperti inilah siklus pertemanan. Seperti kami. Kita mengenal orang, kita menyukai orang, kita dan mereka tumbuh, kita dan mereka kadang tumbuh menjadi orang yang berbeda, saling menjauh, renggang, lalu kembali menjadi orang asing bagi satu satu lain.

Kapan sebuah harapan bisa terwujud persis seperti yang kita bayangkan? Rasanya tidak pernah.

Sejak menemukan Rora, pagi hari di hotel itu, aku berpikir kebetulan semesta berpihak kepadaku. Padahal aku sadar keberpihakan semesta akan selalu berayun-ayun setiap saat, seperti pendulum dan kita tak selalu memiliki kekuatan cukup besar untuk menarik ayunannya.

"Aku benar-benar menunggumu selama waktu itu, Tommy. Aku mencari setiap kemungkinan, setiap dan sekecil apapun kesempatan yang bisa membuatku bertemu dengan kamu lagi. Tapi apa-apa yang kemudian kuraih seperti selalu membawaku ke arah lain yang justru berlawanan, sehingga aku akhirnya berpikir mungkin kita memang tidak ditakdirkan. Kita itu semacam glitch. Entah kita saja yang begini, atau memang sistem dari spesies ini memang penuh kecacatan."

Pikirku, mungkin seperti inilah yang dirasakan Dinar saat ini terhadap tubuhnya sendiri. Ada bagian-bagian yang seharusnya melindungi kita, seperti harapan-harapan yang seharusnya memberikan kekuatan. Namun, di suatu saat mereka akan berbalik menyerang pemiliknya.

Rasanya seperti pengkhianatan.

"Sebab hidup itu brutal. Ya kan, Tommy?" ujar Rora lagi, seperti membaca pikiranku. "Ada banyak hal yang mampu mengubah kita jadi orang-orang yang berbeda, seperti aku dan kamu sekarang. Tapi kita semua terbuat dari kenangan-kenangan, itulah sebabnya kita perlu sesekali pulang. Untuk merasakan diri kita yang dahulu. Atau harus selalu ada satu atau dua hal; mnemonik yang perlu mengingatkan kita pada diri kita yang lama. Yang masih polos, yang belum terkena pahit hidup, sebab energi itu dibutuhkan."

Mungkin memang benar kami hanyalah sebuah glitch, sebuah kesalahan dari sistem semesta yang seharusnya berjalan sesuai usaha kami. Atau mungkin benar yang dikatakan benar, segalanya ini hanya kebetulan-kebetulan belaka, yang kadang-kadang berpihak dan kadang-kadang tidak.

Namun, aku telah menarik pendulumku sendiri. Ada kalanya ayunannya tak selalu seirama dengan takdir, dan itu tak mengapa.

#ReviewNovelStorial #GenerasiBacaOnline