Showing posts with label Short Stories. Show all posts
Showing posts with label Short Stories. Show all posts

Aug 23, 2018

Sang Pengkhianat

0

Seperti biasa, ilustrasinya juara! Berasa kebanting sama ceritanya, huhu.

Cerpen ini dimuat di Gadis edisi 2 yang terbit tahun ini. Aku harus menunggu 7 bulan demi cerpen ini bisa terbit. Kenapa bisa lama sekali? Ya mana aku tahu. Sepertinya ada kebijakan-kebijakan baru yang diterapkan di Gadis, jadi terbitnya pun gak teratur seperti dulu. Tapi, gak apa. Semua penantian ini berbuah manis. Makasih, Gadis! Oya, ini cerpen versi asli yang kukirim. Kalau versi majalah sudah dipangkas di sana-sini karena terbentur halaman. Iya, emang aslinya cerpennya sepanjang kereta api, makanya mesti dipotong wkwkwk. Btw, ini cerpen paling cepet konfirmasinya. Aku kirim tanggal 22 September dan 6 hari kemudian sudah masuk antrian! Waw, aku merasa keren! Aku sampai ngerasa yang... lah kok cepet amat? Kayaknya ada typo deh. Ceritanya aneh gak sih? Maklum, kalau sifat perfeksionisnya kumat emang suka mikir gak jelas wkwkwk. Pokoknya... makasih, Gadis! Dan, buat yang gak sengaja liat, happy reading!

Sang Pengkhianat
Oleh: Eni Lestari

Begitu mobil melaju meninggalkan stasiun, aku sengaja meringkuk di jok belakang. Jemariku segera menggenggam e-book reader, mencoba berkosentrasi pada buku yang tengah kubaca. Tak kuhiraukan obrolan Mama dan Lisa yang heboh membicarakan Oma. Oma tinggal di Yogya. Selama setahun tinggal bersama beliau, Lisa jadi tahu kebiasaan lucu Oma di rumah.

“Bayangkan, Ma, masa Oma nggak tahu cara bikin mie instan goreng? Katanya repot mesti digoreng dulu.” Lisa terbahak keras, yang langsung disambut tawa Mama yang tak kalah kerasnya.

“Hahaha, Oma memang jadul. Makanya sedari dulu, Mama yang selalu disuruh bikin mie instan. Kamu tahu nggak, kalau Oma bikin mie instan rebus, airnya sedikit sekali, jadi rasanya superasin, lalu akhirnya dibuang. Setelah itu, Oma bakal mengomel seharian, menyalahkan produsen mie instan.”

Lisa dan Mama makin tertawa keras. Aku mendengus sebal, merasa terganggu dengan obrolan mereka. Karena makin lama tak bisa berkosentrasi, akhirnya kuputuskan untuk mematikan e-book reader-ku. Sebenarnya, novel fantasi yang kubaca sedang memasuki bagian klimaks. Tapi, mengingat ada gangguan, aku tak bisa menikmatinya sama sekali.

Dengan bibir manyun, kumasukkan e-book reader-ku ke dalam tas. Tak lama, mobil yang dikendarai Mama berhenti di sebuah toko kue dengan plang nama bertuliskan Naifa Bakery. Naifa Bakery adalah toko kue milik Mama yang dibangun setelah Papa meninggal. Lima tahun lalu, toko ini nyaris bangkrut. Untunglah Mama sanggup bangkit dari keterpurukan dan mempertahankan Naifa Bakery sampai sekarang.

Setelah Mama mematikan mesin mobil, kami segera turun. Tak lama kemudian, Mas Nanang selaku satpam Naifa Bakery datang. Ia membantu Mama membawa koper Lisa dan dua kardus besar berisi oleh-oleh khas Yogya.

Saat melihat Lisa, beberapa pegawai Naifa Bakery langsung menyapanya akrab. Mereka ngobrol santai dan bertanya bagaimana kehidupan Lisa di Yogya. Berhubung aku malas mendengar penuturan Lisa tentang betapa serunya tinggal di kota Gudeg tersebut, aku buru-buru menyusuri koridor menuju halaman belakang Naifa Bakery. Rumahku tepat berada di belakang Naifa Bakery, dipisahkan sepetak halaman dengan rumput Jepang yang dipangkas rapi dan pot-pot bunga mini yang ditata dalam kawat melingkar. Biasanya melihat koleksi pot bunga Mama membuatku merasa rileks. Sayangnya, tidak untuk hari ini. Tidak pula untuk seminggu ke depan saat Lisa ada di sini.

***

Aku merebahkan tubuh di atas ranjang, berniat tidur siang. Belum juga menutup mata, sekonyong-konyong pintu kamarku terbuka. Lisa muncul seraya tersenyum lebar. Tangan kanannya membawa dress batik berwarna marun dengan motif kembang-kembang.

“Ini oleh-oleh spesial buat Kakak. Gimana? Suka nggak?” seru Lisa sembari meloncat ke tempat tidurku. Aku mendengus. Kebiasaan adikku itu memang tak berubah sejak dulu.

“Taruh saja di meja. Aku mau tidur. Capek.”

“Okeee!” balas Lisa riang. “Oh iya, nanti jalan-jalan, yuk? Sama Panji juga boleh. Yah, reuni, gitu. Kan sudah setahun nggak ketemu. Mau, ya? Ya? Ya?” pinta Lisa dengan memasang mimik sok imut. Dulu, aku pasti akan mengiyakan permintaannya tiap ia bertingkah lucu begitu. Tapi, sekarang? Aku menjulingkan mata malas. Lebih baik aku tidur seharian daripada harus mendengar ocehannya.

“Ya, nanti lah,” sahutku seraya menarik selimut menutupi kepala, tanda supaya Lisa segera menyingkir dari kamarku.

“Sip, deh! Aku mau tidur juga, ah.” Dengan penuh semangat Lisa meloncat turun dari kamar tidurku, lalu bergegas keluar.

Aku menghela napas setelah pintu kamarku ditutup. Huh, Lisa benar-benar mengganggu. Apa ia tidak sadar semenjak dari stasiun aku bersikap ketus padanya? Aku bahkan malas bicara dengannya. Seharusnya ia sedikit sadar diri. Lagipula, meski setahun tak bertemu, aku juga tak merindukannya. Huh, buat apa juga aku merindukan pengkhianat macam dirinya?

***

Aku bersyukur Panji sibuk kerja part time di Café Louvre liburan ini, jadi ia menolak ajakan Lisa untuk pergi jalan-jalan. Kini, aku yang kelimpungan. Alasan apa yang bisa kupakai supaya aku tidak perlu menemani Lisa selama liburan? Aku tidak punya teman akrab yang bisa kuajak hangout. Selama ini aku memang ke mana-mana sendirian, karena aku merasa tak perlu punya teman. Lagipula, aku punya Lisa. Tanpa mengeluh, ia selalu menemani ke mana pun aku pergi. Tak seperti kebanyakan temanku dulu yang sering menolak ajakanku.

Sayangnya, itu semua berakhir setahun lalu saat Lisa lulus SMP dan ingin melanjutkan SMA di Yogya. Ia bahkan tak repot-repot menjelaskan alasan kepindahannya padaku. Mendadak saja Lisa sok sibuk dan susah diajak bicara, sementara diam-diam semua sudah dipersiapkan—mulai dari surat-surat, bahkan koper berisi pakaian.

Aku benci Lisa. Sungguh benci. Ketika melihat sikapnya yang sok manis sekarang, aku merasa muak. Aku tak mau bersikap munafik dengan bersikap baik padanya. Toh, Lisa lah yang lebih dulu mengawali ‘perang dingin’ kami.

“Mala, tolong  belikan telur, ya. Satu kilo saja. Persediaan di dapur habis.”

Ucapan Mama membuyarkan lamunanku. Aku menggerutu kecil, tapi bangkit juga dari dudukku untuk membeli telur. Tiba-tiba saja, Lisa muncul. Ia tersenyum cerah dengan jari telunjuk memutar-mutar kunci motor.

“Aku antar deh. Ke minimarket dekat situ, kan? Yuk, Kak,” ajak Lisa sembari menjajari langkahku. Aku diam saja, tak menggubris ucapannya. Begitu sampai di garasi yang terletak di samping Naifa Bakery, Lisa segera men-starter motor. Aku sendiri segera mengeluarkan sepeda mini yang selalu kugunakan selama setahun ini.

“Lho, Kak. Kok naik sepeda, sih? Kan pakai motor lebih cepat.”

Aku cuma memandang Lisa dengan tatapan dingin. Tanpa menghiraukan ucapannya, aku mengayuh sepedaku keluar dari Naifa Bakery. Lisa terus-terusan memanggilku. Aku mendengus tak peduli. Huh, masa bodoh dengan Lisa!

***

Aku menyempatkan diri mengunjungi Café Louvre setelah selesai membeli telur. Tempatnya memang tidak begitu jauh dari minimarket. Untunglah, Panji sedang istirahat sekarang, jadi kami bicara sebentar di meja berkanopi. Panji memesan iced blueberry tea untukku, karena cuaca memang sedang panas sekali.

“Jadi, kamu masih marah sama Lisa? Sikapmu itu kekanakan, Mal. Bukannya lebih baik dibicarakan? Jangan seenaknya begitu,” nasihat Panji. Ia mengipas-ngipas kertas menu di depan leher karena kegerahan.

“Kamu nggak bakal ngerti! Yang seenaknya tuh Lisa, bukan aku!” sungutku kesal. Panji mendesah, tahu kalau percuma saja menasihatiku.

Aku menyeruput minumanku keras-keras untuk meredam emosi. Emosiku menyusut setelah kesegaran iced blueberry tea melewati tenggorokanku.

Diam-diam, kuperhatikan penampilan Panji hari ini. Ia tampak menawan dengan paduan celana jeans hitam dan kemeja putih yang digulung sampai siku. Dulu, Lisa sering bilang Panji mirip Oguri Shun. Aku tak menampik pendapatnya. Saat tertawa, Oguri Shun memang mirip artis Jepang itu.

Mendadak, aku kembali teringat masa lalu saat aku dan Lisa sering menonton Panji latihan lari dan memotretnya diam-diam. Kami memang sama-sama menyukai Panji yang tinggal satu kompleks dengan rumah kami.

Ada satu kesepakatan di antara aku dan Lisa. Supaya tidak ada hati yang tersakiti, tidak ada seorang pun yang boleh jadi pacar Panji. Kami berjanji akan menyukai Panji dari kejauhan. Karena bagaimana pun, tak boleh ada seorang pun—apalagi cowok—yang boleh merusak hubungan persaudaraan kami.

“Eh, waktu istirahatku sudah selesai, nih. Kamu pulang aja. Minumannya aku yang bayar,” ujar Panji sambil melirik jam tangannya.

Dengan sedikit enggan, aku pun bangkit. Ketika berbalik seraya menenteng bungkusan berisi telur, mataku menangkap sosok Lisa di seberang jalan. Ia duduk di atas motor, tak jauh dari Café Louvre.

Aku memicingkan mata, mencoba menajamkan penglihatanku. Saat itu, sebuah truk besar melintas lambat. Ketika truk itu sudah lewat, aku memerhatikan tempat Lisa tadi. Keningku berkerut. Tidak ada siapa pun di sana. Hmm… apa tadi aku cuma salah lihat saja?

***

Setelah memasukkan telur ke dalam kulkas, aku bergegas pergi ke kamarku. Saat membuka pintu, aku dikejutkan dengan kehadiran Lisa yang duduk di tepi tempat tidur, seolah tengah menantiku. Ia tersenyum lebar. Saat kuperhatikan lebih seksama, tak ada kerutan di kedua ujung matanya. Aku mendengus. Itu senyum palsu. Ketika seseorang tersenyum tulus, maka akan tampak kerutan di ujung matanya. Aku tahu informasi itu dari acara Human Minds yang kutonton di TV.

“Ada apa? Aku mau tidur. Capek,” ucapku ketus.

“Hmm… kapan kita jalan-jalan, Kak? Aku baru tahu ada mal baru dekat SMP-ku dulu. Kita bisa nonton bareng di sana. Ada film Agatha Christie yang baru, lho.” ujar Lisa semangat.

“Males. Pergi saja sendiri,” sahutku makin ketus.

“Yah… jangan gitu dong, Kak. Masa aku cuma bengong di rumah selama liburan? Kita juga bisa pergi renang bareng. Ayo dong, Kak…” pinta Lisa setengah merengek sambil memegang lenganku.

Sontak aku menepis lenganku kuat-kuat. Kutatap tajam mata Lisa dengan aura permusuhan yang kental. Sikap Lisa langsung berubah. Ia langsung menjaga jarak dariku.

“Kutegaskan sekali lagi, aku nggak mau nemenin kamu ke mana-mana. Terserah kalau kamu mau jalan-jalan atau apa. Aku nggak peduli. Lebih bagus lagi kalau kamu nggak usah datang ke kamarku lagi.” Mataku menyipit sinis. “Pengkhianat kayak kamu memang nggak pantas dibaikin. Kamu tahu itu kan?”

Lisa seperti tertohok begitu mendengar ucapanku. Matanya membeliak lebar. Sikap manis yang ditunjukkan sebelumnya lenyap. Seketika ia memandangku dengan sikap defensif.

“Pengkhianat Kakak bilang?” Lisa bersedekap. “Apa aku nggak salah dengar?”

“Tentu saja nggak. Ah, mungkin otak kamu sudah karatan sampai lupa kejadian waktu rumah kita disantroni debt collector gara-gara Mama nggak mampu bayar utang demi mempertahankan Naifa Bakery. Pelanggan juga pergi gara-gara toko kue Mama difitnah pakai jin penglaris. Hidup keluarga kita begitu sulit saat itu. Karena itu, kita janji bakal bantu Mama. Kita janji bakal jadi ahli patiseri yang hebat dan membesarkan Naifa Bakery sama-sama…” Aku mengatur napas sejenak. “Bertahun-tahun aku setia dengan janji kita. Aku masuk jurusan Patiseri di SMK, sesuai kesepakatan kita. Aku juga mencari beasiswa supaya bisa belajar patiseri di Australia. Tapi kamu… kamu malah seenaknya pindah ke Yogya dan masuk SMA biasa! Kamu lupa sama sekali dengan janji kita! Memang disebut apa itu namanya kalau bukan pengkhianat, hah?!” seruku emosi.

Lisa diam saja. Ia menghela napas, lalu memandangku sinis. “Yah, Kakak bisa menyebutku begitu. Silakan saja. Tapi, asal Kakak tahu, bukan aku saja yang berkhianat. Tapi, Kakak juga!!”

“Hah? Apa maksudmu?”

Lisa mendengus.” Memangnya aku nggak tahu di belakangku, Kakak jalan berdua dengan Panji? Waktu pulang dari ujian, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalian nonton berdua. Tapi, waktu kutanya dari mana, Kakak malah jawab dari perpustakaan. Kakak bohong padaku. Dan bukan cuma sekali aku memergoki kalian. Tapi, berkali-kali. Aku juga tadi lihat Kakak pergi ke café tempat Panji kerja part time.”

Aku tercekat mendengar penuturan Lisa. Jadi, benar yang kulihat tadi memang Lisa.

“Kakak tahu apa yang paling menyakitkan bagiku? Aku paling benci dibohongi. Kalau Kakak jujur, mungkin aku bisa menerimanya. Aku juga sadar kalau Panji lebih perhatian pada Kakak, bukan padaku. Aku ngerti kalau kalian akhirnya pacaran. Tapi, apa yang Kakak lakukan itu nggak bisa kuterima.”

“Tapi, aku sama sekali nggak pacaran dengan Panji!” bantahku. “Aku masih ingat janji kita. Ya, aku mengaku kalau aku sempat jalan dengan Panji berdua saja. Tapi, itu juga karena Panji yang memaksaku. Dia memang minta aku jadi pacarnya, tapi kutolak. Sebagai gantinya, dia minta nonton berdua saja.”

Mata Lisa memicing. “Kakak nggak bohong?”

“Buat apa aku bohong! Waktu itu aku sengaja bohong, karena nggak mau kamu patah hati. Aku memang suka Panji. Tapi aku lebih sayang adikku sendiri!”

Lisa terdiam. Aku pun tak sanggup berkata apa-apa lagi. Rasanya benang kusut masalah yang ada di sekitarku dan Lisa mulai terurai sedikit demi sedikit. 

“Jadi, alasanmu pindah ke Yogya, karena kamu pikir aku pacaran dengan Panji? Kamu mau balas dendam?” tanyaku penasaran.

Lisa menggeleng. “Nggak sepenuhnya seperti itu. Aku pernah baca SMS Oma di ponsel Mama. Oma bilang dia kesepian setelah Tante Menik menikah dan ikut suaminya ke Jakarta. Karena itu, kupikir nggak ada salahnya aku pindah. Aku bisa menemani Oma, sekaligus menghindari Kakak untuk sementara. Akhirnya, Mama pun mengurus kepindahanku tanpa sepengetahuan Kakak.”

“Tapi, kenapa kamu masuk SMA biasa? Di Yogya pasti juga ada SMK jurusan patiseri, kan?”

Lisa menghela napas. Ia memandangku dengan tatapan lesu. “Maaf, Kak. Tapi, selama ini Kakak lah yang lebih berbakat di bidang patiseri, bukan aku. Kakak memang selalu mendukungku, tapi aku sadar kemampuanku di bidang patiseri kurang. Kalau memaksakan diri, itu hanya akan membebaniku. Hasilnya pun pasti mengecewakan Kakak. Karena itu, aku lebih memilih SMA biasa.”

Aku mengangguk paham sambil mengingat-ingat betapa frustasinya Lisa tiap kue bikinannya gagal. Dulu, aku dan Lisa memang sering bergantian praktik membuat kue di dapur. Kue-kue bikinanku enak, bahkan layak dijadikan display di Naifa Bakery. Beda dengan kue buatan Lisa yang cenderung bantat dan penampilannya kurang menarik.

“Kupikir ada hal lain yang bisa kulakukan untuk Naifa Bakery. Kakak yang memasak dan aku yang akan mengurus manajemennya. Bukannya itu sama-sama membantu Mama?” Lisa tersenyum. “Selama di Yogya, aku selalu memikirkannya. Aku sadar tindakanku dulu kekanakan dengan mendiamkan Kakak. Karena itu, liburan ini aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Kakak. Aku ingin kita kembali akrab seperti dulu. Aku juga nggak masalah andai Kakak pacaran dengan Panji. Kakak masih suka dia, kan?”

“Memangnya kamu nggak suka Panji lagi?” tanyaku khawatir.

Lisa menggeleng. Sambil tersenyum malu, ia menunjukkan layar ponselnya. Mataku memelotot melihat foto Lisa berdua dengan cowok bermata sipit dan berkacamata. Mereka tersenyum lebar ke arah kamera dengan latar keriuhan Malioboro.

“Ehm, namanya Danny. Dia pacarku sekarang.”

“What?!!” teriakku heboh. Aku benar-benar tidak menyangka Lisa punya pacar. Selama di Yogya, kami memang jarang sekali berkomunikasi. Aku sama sekali tak tahu-menahu kehidupan Lisa selama tinggal bersama Oma.

“Duh, Kak, jangan heboh begitu, dong.” Lisa terkekeh geli.

Aku tak menghiraukan ucapan Lisa. “Kamu harus cerita tentang Danny! Anaknya gimana? Baik? Atlet lari juga kayak Panji?” rentetku penasaran. Perasaan kesalku pada Lisa entah menguap ke mana.

“Hmm… gimana ya? Aku mau saja sih cerita. Tapi, kan lebih enak kalau sambil jalan-jalan ke mal, shopping, nonton juga. Gimana? Masih nggak mau jalan-jalan bareng?” tawar Lisa sambil memasang mimik sok imut andalannya itu.

Aku terbahak keras. Segera kuacak rambut Lisa dan menyetujui ajakannya. Sungguh, aku tak sabar mendengar cerita Lisa. Lebih dari itu, aku senang kami bisa kembali akrab dan bercanda lepas seperti dulu. Ya, dari awal, sesungguhnya tak ada pengkhianat di antara kami. Yang ada hanya kesalahpahaman kecil, karena kami tak mau melukai hati masing-masing.

***

Dec 13, 2016

Amara

1

Dimuat di TamanFiksi.com

AMARA
Oleh: Eni Lestari

“Kapan kau bercerai dengan istrimu?”

Harusnya Amara mengatakan itu di pertemuan mereka yang ketiga. Amara sudah berlatih mengatakannya di depan cermin berkali-kali, seperti anak SD yang hendak pidato pertama kali di depan kelas. Ia bahkan melatih mimik wajah agar terlihat sedih, tegar, sekaligus berharap. Ia takut terlalu memaksa. Laki-laki tidak suka dipaksa.

Amara tahu sekali bagaimana watak Daniel. Ia sudah mengenalnya semenjak remaja, meski mereka sempat berpisah dan dipertemukan kembali lima tahun kemudian. Tak ada yang berubah dalam diri Daniel. Sejak dulu, cuma Daniel yang diinginkannya. Tiap melihat Daniel, perasaan itu membuncah seperti air terjun. Begitu besar, dalam, dan kasar. Ah, Amara tidak bisa mendeskripsikannya.

Tapi, alih-alih mengatakan itu, Amara hanya memandang Daniel saat mereka bertemu di sebuah hotel di pinggiran kota Jakarta. Daniel sengaja memilih tempat itu agar tidak ketahuan istrinya Selma.

Amara merasa dinomorduakan. Tapi ia tidak bisa berharap lebih. Daniel mau meluangkan waktu untuk bertemu saja sudah bagus. Hampir tiga bulan ini mereka putus komunikasi, karena Selma mencium gelagat mencurigakan dari Daniel. Untung Daniel sanggup berkelit dan bisa merahasiakan hubungannya dari Selma.

“Aku tidak bisa lama.” Daniel berjalan tergesa. Ia melirik ujung lorong. Seorang bell boy melintas sambil mendorong troli. Terdengar decit roda troli yang bergesekan dengan lantai. Daniel gelisah. Begitu sampai di kamar hotel, ia buru-buru masuk, meninggalkan Amara yang terdiam di depan pintu.

Daniel menoleh ke belakang. Alisnya bertaut melihat Amara. Daniel segera menarik tangan Amara, lalu cepat menutup pintu.

“Ada apa?” tanya Daniel lembut. Ia mendudukkan Amara di tepi tempat tidur.

Amara masih membisu. Sesuatu dalam dirinya menyuarakan protes keras agar ia cepat-cepat mengatakannya. Ini demi kelangsungan hidupnya kelak. Juga untuk masa depannya. Amara tidak bisa seperti ini selamanya. Menjadi sosok di belakang layar kehidupan rumah tangga orang lain bukan impiannya. Tidak ada wanita manapun yang menginginkannya.

Amara merasa berhak mendapatkan status yang lebih layak. Ia juga ingin seperti Selma yang menggandeng lengan Daniel dengan bangga di hadapan orang-orang. Mengenalkannya pada keluarga, relasi, berlibur bersama, banyak hal. Bukan seperti ini, sembunyi-sembunyi seperti ia tengah melakukan kesalahan. Amara terpekur. Ini memang suatu kesalahan. Sepertinya, sejak awal ini semua adalah kesalahan.

“Amara?”

Amara mendongak. Daniel menatapnya khawatir. Sorot matanya berpendar takut, seperti buronan yang dikejar segerombolan prajurit kavaleri. Tak ada perasaan bahagia di sana. Berbeda saat mereka pertama bertemu dulu saat ia berumur lima belas tahun. Tahun-tahun merenggut segalanya. Merenggut sosok Daniel dalam kehidupannya.

“Apa yang kau pikirkan?” Daniel bertanya lagi, kali ini lebih pelan. Ia menarik tangan Amara ke pangkuannya dan meremasnya erat.

Amara masih tidak bersuara. Daniel terus menunggu. Jarum jam berdetak dengan kecepatan konstan. Di dalam kamar hotel, suara AC menderu dingin. Tak ada suara lain di ruangan itu selain keheningan.

“Amara?” Daniel memanggil lagi.

“Aku… bagaimana kalau aku hamil?” Amara tiba-tiba mendongak, menatap kedua bola mata Daniel yang berwarna cokelat tua. Amara bisa melihat mata itu menatapnya lekat, bergerak-gerak seperti tengah mengamati wajahnya.

“Apa kau hamil?” tanya Daniel pelan.

Amara menggeleng. “Aku ingin mengandung anakmu. Aku ingin sesuatu yang mengingatkanku padamu.”

Daniel terdiam. Ia menangkup wajah Amara dengan telapak tangannya. “Maaf, aku tidak bisa. Kau tahu aku tidak mungkin melakukan hal itu.”

Amara tertawa dalam hati. Seharusnya ia tahu Daniel tidak mungkin menyanggupi keinginan bodohnya. Padahal ia sudah merencanakan ini matang-matang. Ia berniat menjadi wanita jahat yang meminta pertanggungjawaban Daniel atas bayi yang dikandungnya. Lalu, menuntut laki-laki itu agar selekasnya bercerai dari istrinya.

Lebih jauh lagi, Amara bisa mengaku pada Selma kalau selama ini ia telah berselingkuh dengan Daniel. Ia adalah wanita yang dicintai Daniel diam-diam. Seseorang dengan janji di masa lalu yang tak mungkin ditinggalkan.

Amara tidak tahu apa reaksi Selma nantinya. Mungkin wanita itu akan marah. Mungkin ia akan menamparnya dan mengatainya perempuan sialan perebut suami orang. Semua skenario itu melekat di otak Amara, seperti drama picisan di televisi yang kadang ditontonnya.

“Aku selalu mencintaimu, Amara…” Bisikan itu membuyarkan lamunan Amara. Wajah Daniel mendekat. Diciumnya lembut pundak Amara.

Amara tidak bisa menolak. Ia biarkan saja Daniel melakukan apapun yang ia suka. Meski demikian, otak Amara berpikir keras. Sampai kapan ia seperti ini? Menjadi selingkuhan laki-laki yang ia cintai?

***

Amara ingat saat ia pertama bertemu Daniel. Mereka satu sekolah. Waktu itu Daniel menjadi incaran seluruh gadis di sekolah. Bagaimana tidak? Daniel tampan, kaya dan anak pengusaha. Semua gadis berebut menjadi kekasihnya. Kecuali satu, Amara. Itulah yang membuat Daniel penasaran. Ia memiliki segalanya—sesuatu yang dilirik gadis normal. Tapi, seperti tak tergiur itu semua, Amara bersikap tak acuh. Ia tak peduli pada Daniel barang seujung kuku pun.

“Aku akan membuatmu suka padaku. Pasti!”

Begitu ujar Daniel angkuh pada Amara. Amara mencibir. Ia tahu Daniel hanya merasa tertantang. Semua laki-laki selalu seperti itu. Egonya tinggi. Meski demikian, diam-diam Amara merasa berbunga-bunga. Rasanya lucu sekali melihat seorang laki-laki melakukan hal bodoh demi menarik perhatiannya.

Lalu, entah bagaimana Amara luluh. Ia pun menjadi kekasih Daniel.

Amara ingat Daniel begitu menyayanginya waktu itu. Masa sekolah dan kuliahnya penuh dengan Daniel. Amara bahkan tak peduli dengan nasihat Bunda kalau laki-laki adalah sumber malapetaka. Sama seperti yang dilakukan ayah Amara yang menelantarkannya.

Seumur hidup, Amara tak pernah bertemu ayah kandungnya. Kata Bunda, kehadiran Amara awalnya tak dikehendaki. Apalagi status Bunda cuma wanita simpanan. Ayah Amara pun pergi, tanpa pernah kembali lagi.

Amara berpikir kebahagian yang diberikan Daniel akan bersifat selamanya. Hingga tiba-tiba, laki-laki itu lenyap. Ia menghilang begitu saja. Tanpa alasan, atau pesan. Hal itu membuat Amara teringat nasihat Bunda. Benarkah semua laki-laki seperti itu?

Amara gusar. Ia tak bisa menghubungi Daniel. Daniel pindah rumah. Ponselnya pun tak aktif. Amara kebingungan setengah mati. Daniel seperti diculik. Amara memang sempat mendengar ayah Daniel tinggal di Singapura. Satu pikiran menyeruak dalam benaknya. Mungkinkah Daniel pergi menemui ayahnya? Atau ia dipaksa meninggalkan Indonesia untuk satu urusan? Amara sungguh tak tahu-menahu tentang hal itu.

Tahun-tahun dilalui Amara bagai mayat hidup. Ia sangat mencintai Daniel. Amara menolak laki-laki manapun yang mampir dalam hidupnya. Ia yakin Daniel akan kembali. Mereka pernah berjanji untuk hidup bersama. Daniel tak mungkin melupakan janji itu.

Lalu, setelah lima tahun menunggu, Amara akhirnya berhasil bertemu Daniel. Tak ada yang berubah dengan laki-laki itu. Kecuali cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang menandakan Daniel telah dimiliki seseorang.

Namun, seperti tak menghiraukan hal itu, Daniel menghampirinya. Tanpa ada yang tahu, mereka berpelukan dan berciuman dalam toilet kantor. Ada rindu tak berkesudahan dalam mata Daniel. Amara tak bisa menyangkalnya. Ia pun merasa seperti itu.

“Ya Tuhan, aku merindukanmu! Sangat merindukanmu!” Daniel lepas kontrol.

Amara tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ia memeluk Daniel erat. Sejenak Amara mencoba tak peduli. Bahwa Daniel adalah suami dari Selma. Perempuan yang menjadi atasan di tempatnya bekerja.

***

Jangan menghubungiku untuk sementara waktu. Sepertinya Selma tahu sesuatu.

Amara menatap hampa layar ponselnya. Ia mendengus. Inikah hasil pertemuan singkatnya dengan Daniel kemarin? Kecurigaan Selma yang makin mendalam kalau Daniel berselingkuh?

Amara menghela napas. Di kantor ia bersikap sewajar mungkin. Selma pun tak menaruh minat padanya, kecuali dengan hasil kerja Amara. Amara mencoba tak melakukan kesalahan, agar Selma tak sering mendatangi mejanya.

Amara menatap berkas-berkas di atas meja yang harus ia kerjakan. Tapi, otaknya penuh. Ia tak bisa berpikir. Ia ingin istirahat. Kalau perlu dalam waktu lama. Mengambil cuti barangkali?

“Amara, kau ada waktu?”

Sekonyong-konyong, Selma berdiri di depannya, membuyarkan lamunan Amara tentang cuti yang ingin diambilnya. Perempuan itu tampil chic, cantik, dan berkelas. Khas wanita metropolitan.

“Ya?” Mata Amara mengerjap.

“Makan siang nanti kau ada waktu?”

“Oh, tentu.”

Selma melenggang pergi. Amara mengikuti punggungnya. Jantungnya berdegup kencang. Ya Tuhan, apakah ini akhir dari kisah perselingkuhannya?

***

Tubuh Amara tegang. Walau tak nafsu makan, tapi ia mencoba menghabiskan steak yang ia pesan. Sementara Selma yang duduk di hadapannya, mengunyah daging dengan tenang. Sikapnya sangat terkendali, membuat Amara dilanda ketakutan hebat.

“Aku tak habis pikir bagaimana ini bisa terjadi,” ucap Selma tiba-tiba. Ia mengambil beberapa lembar foto dari tasnya, lalu dilempar ke dekat piring Amara.

Amara melotot. Itu adalah foto-fotonya di depan hotel bersama Daniel.

“Kau pikir aku tidak tahu?”

Amara membeku. Ia tak bisa membantah.

“Seorang istri pasti sadar kalau gelagat suaminya berubah. Aneh sekali, padahal dulu waktu di Singapura, dia terkesan dingin. Tapi di sini, dia sering gelisah. Seolah-olah ada sesuatu yang dia sembunyikan. Akhirnya, aku menyuruh seseorang untuk mematainya. Lalu, aku mendapatkan foto-foto itu. Mengejutkan sekali. Apalagi setelah tahu kalian pernah berhubungan dulu. Kupikir Daniel hanya pria dingin yang terpaksa menuruti kemauan ayahnya yang otoriter. Ternyata dia punya sisi lembut juga.”

Amara masih tak bersuara. Sejauh mana Selma tahu?

Selma meletakkan garpu dan pisaunya. “Kau pasti penasaran dari mana aku tahu. Kalau kau punya banyak uang, informasi mudah sekali kau dapatkan.”

“Aku…”

“Kuberi tahu satu hal, Amara,” potong Selma seraya mencondongkan tubuhnya. “Kau dan Daniel tak bisa bersama. Sejak ayah Daniel tahu tentang kalian berdua, dia yang membuat Daniel pergi dari hidupmu. Dan memaksanya menikah denganku.”

“Apa maksudmu?”

“Ayah Daniel yang memberitahuku. Waktu aku bertanya apa dia tahu tentangmu, Amara Claudia, dia bilang tahu. Terutama ibumu. Dia mengenal ibumu.”

“Bagaimana dia kenal ibuku?” Amara merengutkan kening heran.

“Ayah Daniel bilang dulu dia pernah berhubungan dengan ibumu. Yah, bukan hubungan serius, hanya main-main. Meski ibumu tak berpikir seperti itu. Padahal dia baru saja menikah. Bahkan istrinya tengah hamil.” Selma tertawa kecil. “Ah, bukannya kau tidak punya ayah, Amara? Kau tidak pernah bertemu ayahmu kan?”

Rasa tidak nyaman menggerogoti kerongkongan Amara. Seolah ada batu besar yang menyumbat di dalam sana.

“Lucu sekali. Takdir itu aneh. Kau dan Daniel bertemu, lalu jatuh cinta. Bayangkan waktu ayah Daniel tahu mengenaimu. Juga ibumu.”

Amara merasa mual. Tiba-tiba ia teringat ucapan Bunda tiap ia menanyakan perihal ayahnya.

“Ayah? Kau tidak punya ayah, Amara. Laki-laki hanya menaburkan luka. Setelah puas, mereka pergi seenak hati. Mereka lupa apa yang pernah dijanjikan. Mereka hanya menginginkan tubuh kita. Ingat itu. Jangan jatuh cinta pada laki-laki seperti itu.”

“Kau tidak menyangkanya, bukan? Kau dan Daniel punya ayah yang sama?” ucap Selma. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya.

Amara berdiri. Perutnya bergejolak. Tanpa menghiraukan Selma, Amara berlari ke toilet. Ia muntah. Membayangkan banyak hal yang dilakukannya bersama Daniel, perutnya makin mulas. Ia muntah sejadi-jadinya.

***

Aug 7, 2016

Keberanian Letta

1

Ilustrasinya so perfecto!!

Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Gadis Edisi 15 (24 Juli - 16 Agustus 2016). Ini cerpen kedua yang dimuat di Gadis. Cerpen pertama bisa dibaca di sini *promosi tiada henti* :p Yah, menurutku ceritanya masih jauh dari sempurna. Aku bisa lihat kekurangan di sana-sini yang bikin aku ngerasa bego-banget-sih-lu-harusnya-diedit-lagi-bego :') Tapi, tak apa. Mari kita belajar bikin cerpen yang baik dan benar (?). Yeeyy! xDD Anyway, happy reading! Kalau mau kasih kritik dan saran sih boleh banget. Oya, ini versi belum diedit. Kayaknya kalau versi majalah ada bagian yang dipotong karena kepanjangan :')

Keberanian Letta
Oleh: Eni Lestari

Ketika lembar soal ulangan Fisika itu dibagikan, Letta berharap bisa berpura-pura kesusahan, seperti yang dilakukan oleh hampir seluruh teman sekelasnya.

Letta melirik Marla, gadis yang duduk satu bangku di sampingnya. Marla melolong tanpa suara, lalu membenturkan kepalanya pelan ke meja. Itu pertanda kalau gadis itu sudah menyerah, bahkan sebelum sempat mengerjakan soal.

Satya lain lagi. Cowok yang duduk di depan Marla itu mendesah panjang seraya menatap plafon kelas. Ia lalu mulai menghitung kancing, merasa depresi menentukan jawaban yang hendak dipilihnya.

Melihat tingkah laku teman-temannya, tak urung membuat Letta tersenyum. Pelajaran eksak memang menjadi momok bagi teman-temannya. Sayangnya, itu tidak berlaku baginya.

Letta menunduk, membaca lembaran soal di tangannya. Ada tiga puluh soal yang diberikan, sementara waktu pengerjaannya cuma dua jam pelajaran. Itu adalah dua jam yang terasa seperti sekejap bagi orang lain. Namun, bagi Letta, itu waktu yang sangat panjang, sepanjang rel kereta api yang tak berkesudahan.

“Kalau sampai ada yang ketahuan mencontek, Ibu akan beri tugas yang lebih berat dari ini. Kalian mengerti?” ultimatum Bu Arman, guru Fisika mereka yang terkenal galak.

Terdengar helaan napas panjang di sana-sini. Letta ikut mendesah. Bukan karena merasa kesulitan, tapi ia bingung apa yang harus ia lakukan untuk mengulur waktu. Baginya, mengerjakan soal Fisika tak butuh waktu lama. Ia hafal rumusnya. Ia hafal cara mengerjakannya. Rasanya itu mudah saja, seolah otaknya sudah diprogram sebelumnya.

“Buat yang sudah selesai mengerjakan, periksa kembali jawaban kalian. Jangan terburu-buru. Waktu masih panjang.” Bu Arman mengingatkan.

Letta mendongak, menatap jam dinding. Masih kurang setengah jam lagi. Letta sudah hampir selesai mengerjakan semua soal. Namun, sesuatu menghentikannya, membuat jarinya berhenti menulis. Ia ingat kejadian seminggu lalu. Nilainya nyaris sempurna waktu ulangan Matematika dibagikan—hanya salah satu soal saja. Letta menghela napas. Ia tak boleh mengulanginya lagi. Ia tak ingin menarik perhatian lebih dari ini.

Letta pun memutuskan. Ia sengaja memilih jawaban-jawaban salah. Ia pura-pura meniru Satya yang setia menghitung kancing. Ia juga meniru Marla yang kini makin frustasi membenturkan kepalanya ke meja. Letta tersenyum kecil. Rasanya menyenangkan menjadi orang biasa. Letta menyukai sensasinya. Ia juga tak perlu dipandang aneh seperti yang dialaminya dulu, ketika ia mengerahkan segenap kemampuannya.

***

Angka enam puluh itu terukir manis di lembar jawaban ulangan Fisika Bu Arman. Letta mendesah lega. Meski angka itu termasuk tinggi dibanding nilai teman-temannya yang lain, tapi masih tergolong tidak mencolok. Letta tahu, kalau ia tak mengubah jawabannya, ia bisa mendapat nilai sempurna seperti sebelumnya.

“Aku yakin sebenarnya kamu bisa mendapat nilai lebih tinggi.”

Sebuah suara menyentak lamunan Letta. Letta menoleh. Ia melihat Panji—cowok  bertubuh tinggi dengan rambut cepak yang duduk di belakang bangkunya. Ada nada permusuhan dalam nada suara cowok itu. Alis Letta merengut bingung. Ia tidak mengerti kenapa Panji bersikap antipati padanya.

“Apa maksudmu?” tanya Letta heran.

“Kamu tahu benar apa maksudku.” Panji mencibir. Kepalanya mengedik ke arah nilai ulangan Letta. “Padahal mudah saja bagimu mendapat nilai bagus, tapi kamu tidak melakukannya. Kamu pasti diam-diam menganggap remeh orang lain, kan?”

Alis Letta makin merengut. “Aku sungguh tidak mengerti apa maksudmu.”

Panji mendengus. “Apa sudah jadi sifatmu berpura-pura seperti itu, Letta? Aku tahu kemampuanmu. Kamu bisa melebihi orang lain, bahkan siswa paling pintar di sekolah ini. Sayangnya, kamu tidak mau. Entah apa alasanmu.”

Letta membeliak mendengar penuturan Panji. Dari mana dia tahu kalau… Jemari  Letta berkeringat dingin. Ia tak bisa menduga dari mana Panji tahu soal kemampuan akademisnya yang di atas rata-rata.

“Yang jelas, yang kamu lakukan itu memuakkan sekali. Kamu tidak mensyukuri apa yang kamu miliki. Padahal banyak orang berusaha keras untuk menjadi sepertimu. Ya, untuk memiliki secuil kepintaranmu itu.”

Letta menelan ludah. Ia mati kutu mendengar ucapan Panji yang terasa menusuk itu. Letta menggigit bibir dengan perasaan gelisah. Alih-alih membela diri karena dikatai macam-macam, Letta menanggapinya dengan tawanya yang terdengar sumbang.

“Aku beneran tidak tahu maksudmu. Maaf, aku mau pulang.” Letta berdiri seraya meraih tas ranselnya. Kakinya melangkah cepat keluar kelas, menyusuri koridor yang mulai lengang. Letta berusaha tidak menoleh ke belakang. Ia tahu ketika menoleh, ia akan menemukan tatapan Panji yang terasa menusuk punggungnya—membebaninya dengan serbuan perasaan bersalah yang entah berasal dari mana.

***

“Mama yakin kamu pasti menang. Kamu tidak akan mengecewakan Mama, kan?”

Letta ingat, Mama mengucapkan kalimat itu ketika mengantarnya mengikuti lomba cerdas cermat tingkat provinsi. Letta tidak mau membuat Mama kecewa. Karena itulah, meski tidak suka, ia tetap menuruti keinginan Mama.

Sejak SD, Letta memang kerap dipaksa Mama mengikuti aneka lomba. Entah kenapa, Mama selalu ingin menunjukkan kepada orang-orang betapa pintar atau betapa jenius dirinya. Terbukti dari aneka piala dan piagam hasil menang lomba yang dipajang Mama di ruang tamu. Juga dari nilai rapor Letta yang nyaris sempurna tiap semester.

“Mama bangga padamu, Letta. Kamu pasti jadi orang hebat nantinya,” ujar Mama dengan mata berbinar. “Dengan kepintaranmu itu, kamu bisa jadi dokter. Ya, kamu cocok jadi dokter. Kamu mau, kan, jadi dokter?”

Itu bukan tawaran bagi Letta, tapi lebih pada keinginan sepihak Mama. Sejak dulu, Mama memang terobsesi menjadi dokter. Sayang, kemampuan Mama terbatas. Ia harus puas hanya menjadi pegawai kantoran. Karena itulah, melihat potensi yang ada pada diri Letta, Mama pun memaksakan obsesinya yang terpendam pada Letta.

Awalnya, Letta tidak begitu mempermasalahkan keinginan Mama. Apalagi ia memang suka belajar. Sampai suatu hari, dengan nada tidak suka, Mama mulai mengomentari Kimmy—teman dekat Letta yang kerap datang ke rumah.

“Mama tidak suka temanmu itu. Di tempat les, dia masuk kelas F, kan?”

“Memang kenapa kalau kelas F, Ma?” tanya Letta bingung. Di tempat les Letta, ada klasifikasi bagi para siswa. Karena Letta tergolong siswa berotak encer, ia masuk kelas A. Sementara kelas F diperuntukkan bagi siswa dengan nilai di bawah rata-rata.

“Seharusnya kamu bergaul dengan orang yang setara denganmu. Jangan bergaul dengan orang bodoh. Nanti kamu ketularan mereka,” ujar Mama ketus. “Sama seperti Papamu. Karena bergaul dengan orang bodoh, Papamu sampai kena tipu ratusan juta.”

Letta tidak suka Mama mengatai Papa seperti itu. Meski tak lagi tinggal bersama semenjak orangtuanya bercerai, Letta sangat menghormati Papa. Perusahaan Papa memang bangkrut, tapi ia masih berusaha menghidupi keluarganya.

“Kamu itu pintar, Letta. Bersikaplah sesuai kapasitasmu. Pilih orang yang setara denganmu. Karena itu, jangan bergaul dengan Kimmy lagi. Kamu mengerti?”

“Tapi, Kimmy baik, Ma. Di sekolah, cuma dia yang mau ngobrol denganku.” Letta tertunduk. Ia tak pernah mengutarakan permasalahannya pada Mama. Di sekolah, karena jadi anak kesayangan guru, banyak yang tidak menyukainya. Mereka menganggap Letta penjilat dan sok pintar. Letta juga dikatai Einstein kesasar, freak, nerd, dan sederet sebutan lainnya.  Meski jadi objek bully teman sekolahnya, Letta mencoba bertahan. Itu semua karena ada Kimmy yang setia menemaninya.

“Mama tidak peduli. Pokoknya, jauhi Kimmy. Titik.”

Letta terdiam. Ia tidak bisa membantah Mama. Namun, dalam hati ia berjanji tak akan menuruti keinginan Mama. Ia merasa Kimmy baik padanya. Tidak ada alasan untuk menjauhinya.

Namun, rupanya Mama tahu kalau Letta masih berteman dengan Kimmy. Mama tidak tinggal diam. Ia mendatangi Kimmy dan memintanya untuk tidak berteman dengan Letta. Mama mengatai Kimmy tidak pantas berteman dengan gadis jenius seperti Letta.

Kimmy merasa tersinggung dengan perlakuan Mama Letta. Ia pun mulai menjauhi Letta, baik di sekolah dan tempat les. Hal itu membuat Letta merasa sendiri dan kesepian. Belajar dan sekolah menjadi hal yang tak menarik lagi baginya. Ia merasa tertekan dengan keinginan dan obsesi Mama padanya.

“Letta, kamu sudah makan malam?”

Suara itu menyentak Letta yang sedari tadi melamun di pinggir jendela. Letta menggeleng pelan, menjawab pertanyaan Papa yang baru pulang bekerja. Ya, sejak awal tahun, Letta memutuskan tinggal dengan Papa dan pindah sekolah. Ia tak tahan tinggal bersama Mama yang terlalu mengekangnya. Ia juga tak betah dengan suasana sekolah lamanya.

“Yuk, makan. Papa baru beli mie ayam, lho,” ajak Papa sambil mengangkat kantong plastik berisi dua bungkus mie ayam. “Kamu suka mie ayam, kan?”

“Suka banget, Pa!” seru Letta senang.

“Ada kejadian seru apa di sekolah?”

 Mendadak Letta terngiang ucapan Panji saat pulang sekolah tadi. Letta termenung sejenak. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi gadis biasa. Ia tidak mau dijauhi atau dipanggil Einstein kesasar lagi karena terlalu menonjolkan kepintarannya. Ia tak mau mengalami apa yang dirasakannya dulu di sekolahnya yang lama. Meski itu artinya ia harus berpura-pura menjadi orang lain, bukan menjadi dirinya sendiri.

Hanya saja, Letta bingung bagaimana Panji tahu jati dirinya. Ia baru beberapa minggu pindah ke sekolah barunya. Dan Letta yakin, ia tidak pernah mengenal Panji sebelumnya.

“Tidak ada yang seru, Pa,” jawab Letta kemudian, separuh berbohong. Ia menyantap mie ayamnya dengan lahap, mencoba melupakan kata-kata Panji padanya.

***

Letta merasa tidak nyaman harus duduk berhadapan dengan Panji di meja perpustakaan. Ada tugas Bahasa Inggris yang harus mereka kerjakan. Letta sedang sial karena mendapat partner Panji, cowok yang ingin dihindarinya sejak kemarin.

Kebisuan menyelimuti Letta dan Panji. Sejak tadi, Panji asyik membuka kamus, mencari arti kalimat pada artikel yang harus mereka terjemahkan.

“Jangan-jangan, sebenarnya kamu tidak perlu kamus?” ucap Panji tiba-tiba, mengagetkan Letta. Cowok itu menunjuk lima lembar artikel yang berserakan di meja. “Kamu bisa mengerjakannya sendiri, kan, tanpa perlu bantuanku?”

“Kenapa kamu bicara begitu?” Letta sedikit tersinggung. Entah kenapa, ia merasa Panji tengah mencemoohnya.

“Oh, ayolah, Letta. Jangan berpura-pura lagi.” Panji melempar kamusnya ke tengah meja. “Jujur saja, melihatmu seperti ini membuatku merasa kesal. Kupikir akan ada diskusi yang menarik, mengingat kemampuanmu yang brilian itu. Tapi, lihat, yang kamu lakukan cuma diam dan berlaku pasif. Itu sama sekali bukan dirimu.”

Letta menggigit bibir. Kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya. Sungguh, Letta tidak suka sikap Panji. Rasanya cowok itu seperti menuduhnya melakukan sesuatu yang salah dan tak pantas—hanya karena ia melambatkan dirinya dalam menerjemahkan artikel.

“Jangan sok tahu!” sembur Letta sambil berdiri. Matanya berkaca-kaca. “Kamu tidak tahu apa-apa tentangku. Jangan bicara sembarangan, seakan-akan kamu tahu tentangku!!”

Panji terperanjat melihat reaksi Letta. Letta menghapus air matanya. Dengan terburu-buru, ia membereskan bukunya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Letta menyambar ranselnya dan keluar dari perpustakaan. Ia melewati gerbang, menembus hujan deras yang mengguyur siang ini. Masa bodoh dengan tugas Bahasa Inggris. Saat ini, ia ingin pergi sejauh mungkin dari Panji. Ia tidak mau bertemu dan berurusan dengan cowok itu lagi.

***

Tubuh Letta menggigil kedinginan, meski ia bersembunyi di balik selimutnya yang tebal dan hangat. Ini salahnya juga. Gara-gara nekat menembus hujan dua hari lalu, Letta mesti terbaring di kamarnya karena demam.

“Letta, ada yang mencari kamu, nih. Papa suruh masuk, ya…” Kepala Papa menyembul dari balik pintu. Tak lama, sosok Panji masuk. Tangannya menenteng kantong plastik berisi jeruk dan apel.

Alis Letta merengut begitu melihat Panji. Amarah kembali menerpanya, teringat kejadian di perpustakaan.

“Halo, Letta. Kamu sudah baikan?” ucap Panji sambil tersenyum kikuk. Ia meletakkan kantong plastik yang dibawanya di atas meja.

Letta diam saja. Ia cuma menatap Panji dengan ekspresi tak suka. Melihat hal itu, Panji mengembuskan napas berat.

“Kamu pasti marah sama aku. Bisa dibilang aku ikut andil bikin kamu sakit.”

Letta cuma mendengus. Ia memalingkan mukanya, tak menanggapi ucapan Panji.

“Aku minta maaf. Kamu mau maafin aku, kan?” pinta Panji dengan raut menyesal. “Aku tahu kamu pasti kesal karena ucapanku kemarin. Aku seenaknya menuduhmu tanpa tahu apa yang terjadi.”

“Kata-katamu itu keterlaluan!” seru Letta tiba-tiba. Air matanya kembali merebak. “Apa aku salah tidak menunjukkan kemampuanku? Kamu tidak tahu apa yang pernah kualami. Kamu malah seenaknya mengataiku macam-macam.”

“Karena itu, aku minta maaf. Aku baru tahu apa yang menimpamu. Papamu yang menceritakannya waktu aku datang tadi.”

Jawaban Panji itu membuat Letta tersentak. “Papa yang cerita?”

Panji mengangguk. “Kamu pernah di-bully di sekolahmu yang lama. Kamu juga jadi objek obsesi Mamamu supaya bisa jadi dokter. Benar, kan?”

Letta menunduk, merasa malu karena rahasianya ketahuan oleh Panji.

“Pasti berat bagimu mengalami itu semua. Apalagi satu-satunya teman yang kamu miliki juga menjauhimu.” Panji menunjukkan wajah prihatin. “Aku benar-benar minta maaf, Letta. Hanya saja kamu perlu tahu alasanku. Mungkin kamu lupa padaku. Tapi, dulu sekali kita pernah bertemu. Aku mengagumi kemampuanmu. Di mataku kamu gadis cerdas dan penuh percaya diri. Tapi, Letta yang kukagumi itu sudah hilang. Yang kutemui malah Letta yang menyembunyikan kemampuannya. Itu membuatku kesal. Padahal tanpa sepengetahuanmu, aku juga berjuang supaya bisa sepertimu.”

Letta memandang Panji dengan tatapan bingung. “Aku yakin kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Kenapa kamu bicara seolah kamu mengenalku?”

Panji tersenyum. “Ah, tentu saja kamu lupa. Itu kejadian 5 tahun lalu waktu kita masih SD. Yah, dulu aku memang tidak setinggi ini. Tubuhku kecil. Aku juga pakai kacamata.”

Letta mengais ingatannya. Sekeras apapun mencoba, ia tak ingat juga. Akhirnya, ia cuma bisa menggeleng. “Aku benar-benar tidak ingat…”

“Cerdas cermat tingkat provinsi. Masih tidak ingat? Kita berkenalan di aula. Kamu bilang akan direkomendasikan untuk ikut Olimpiade Matematika. Setelah itu, kita berdiskusi panjang lebar mengenai soal logika yang tak kumengerti.”

Mulut Letta ternganga. Kini, ia ingat Panji kecil yang ditemuinya lima tahun lalu. Letta sungguh tak menyangka cowok kurus dan mungil yang ditemuinya dulu adalah Panji. Ia benar-benar sudah lupa namanya. Apalagi Panji tidak masuk babak final seperti dirinya. Ia tersingkir di babak sepuluh besar.

“Gara-gara tidak menang lomba cerdas cermat, aku bertekat untuk belajar lebih giat. Aku termotivasimu olehmu. Kamu pintar. Kamu suka belajar. Meski tidak jenius sepertimu, kamu bilang siapa saja juga bisa jadi pintar asal mau berusaha. Kata-katamu itulah yang membuatku bersemangat. Aku ingin suatu saat bisa mengalahkanmu.” Panji tersenyum cerah. Tapi kemudian wajahnya berubah keruh. “Karena itu, bayangkan perasaanku waktu melihatmu tak menunjukkan kemampuanmu. Kamu sengaja mengurangi nilaimu supaya tidak dianggap pintar. Jujur saja, itu membuatku kecewa.”

Letta sedikit merasa bersalah mendengarnya. Kini, ia paham kenapa Panji begitu antipati padanya. Rupanya ia telah mengecewakan cowok itu.

“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau…”

Panji mengibaskan tangannya. “Sudahlah. Aku yang salah karena seenaknya menganggapmu sainganku. Yang ingin kuketahui sekarang, apa kamu mau terus seperti ini? Kamu masih takut di-bully dan kehilangan teman?”

Letta tertunduk. “Jujur, yang kualami itu membuatku trauma…”

Panji menepuk bahu Letta. “Aku akan membantumu. Kamu pindah sekolah untuk mendapat suasana baru, kan? Kamu bisa melakukannya tanpa perlu menjadi orang lain. Kamu cukup jadi Letta Arumanita, gadis berotak encer yang kukenal. Kamu hanya butuh keberanian untuk melakukannya. Bagaimana?”

Letta melihat kesungguhan di sorot mata Panji. Ia pun mengangguk. “Baiklah,” ujarnya kemudian sambil tersenyum, menyetujui usul Panji.

“Baguslah!” Panji tampak gembira. “Aku tidak sabar mengalahkanmu. Beberapa bulan lagi ujian semester. Kita tunggu siapa yang jadi juara kelas nanti.”

Letta tertawa kecil. “Sebelum itu, lebih baik kamu belajar buat ulangan Kimia minggu depan. Aku sih yakin bisa dapat nilai seratus. Tapi, sepertinya kamu butuh usaha ekstra keras supaya bisa mengalahkanku.”

Panji langsung cemberut. “Siaaal!! Orang pintar memang menyebalkan!!” erangnya dongkol. “Tunggu saja, aku yakin bisa dapat nilai seratus juga!”

Letta terkekeh mendengar nada optimis Panji. Ia tersenyum cerah. Perasaan lega menyelimutinya, mengetahui ada seseorang yang mau melihatnya sebagaimana dirinya.

***

Maldives

0

Dimuat di TamanFiksi.com

MALDIVES
Oleh: Eni Lestari

Aku akan melamar Maldives.

Bukan, bukan Maldives yang itu. Aku bukannya ingin menikahi negara kepulauan yang penuh resort eksotis itu. Ini Maldives yang lain. Maldives yang menyukai tuna dan kembang api. Maldives yang tersenyum secerah matahari pagi.

Aku sudah menyiapkan cincinnya. Cincin platina dengan permata mungil berwarna turquoise. Maldives menyukai turquoise. Turquoise membuatnya teringat alasan ibunya memberinya nama Maldives. Ya, ibunya memang menggilai negara tujuan wisata itu. Di sanalah tempat orang tua Maldives bertemu, jatuh cinta, dan memutuskan untuk menikah. Di pantai Maldives yang indah. Pantai yang lautnya berwana turquoise.

Melamar seorang wanita harus berkesan, bukan? Untuk itu, aku mengajak Maldives berlibur. Tujuannya? Tentu saja Maldives.

Aku sudah menyiapkan segala tiket dan tetek bengeknya. Maldives hanya perlu menyiapkan passport dan koper. Betapa mudah, namun terencana. Maldives tidak akan tahu rencana tersembunyiku ingin melamarnya. Bukannya wanita suka sekali kejutan?

“Juna, aku tidak sabar sampai di Maldives. Haha, lucu sekali tiap aku memikirkan ini. Padahal ini bukan perjalanan pertamaku. Maldives akan ke Maldives. Maldives kuadrat.” Maldives tertawa riang. Telapak tangannya menyentuh jendela pesawat. Tampak pemandangan gumpalan awan di luar sana.

Aku tersenyum. Ini belum seberapa, Mal. Beberapa jam lagi, aku akan melamarmu di bawah laut. Di antara ikan-ikan dan terumbu karang. Kalau kau tahu, apa kau juga tidak sabar menantinya?

***

Enam Bulan yang Lalu…

“Maldives.”

Aku mengernyitkan dahi mendengar namanya. Seketika riuh orang-orang di bandara Changi teralihkan karena kehadiran wanita ini di sampingku.

Aku sedang menunggu penerbangan menuju Male. Bertemu wanita cantik bernama Maldives menuju ibu kota Maldives. Bukannya itu kejadian aneh, sekaligus menarik?

Sejak naik pesawat dari Soekarno Hatta dan transit di Changi, aku memang tertarik pada wanita itu. Ia mungil. Tingginya mungkin tidak sampai 160 cm. Dengan perawakannya itu, pasti banyak yang tidak mengira ia seorang konsultan IT terkemuka di Jakarta. Aku malah berpikir ia masih sekolah—atau sekurang-kurangnya masih kuliah.

“Maldives…” Aku menggumamkan namanya. “Kau lahir di sana?” tanyaku penasaran.

Maldives diam saja. Ia tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia malah membersit hidungnya. Singapore sedang diguyur hujan deras. Sepertinya Maldives terkena flu. Mungkin itu juga alasan wajahnya tampak pucat. Ia juga duduk sambil mengeratkan jaketnya.

“Mau obat flu? Aku bisa membelikannya untukmu,” tawarku ramah.

Maldives menatapku tajam. “Apa kau tidak pernah diberi nasihat untuk tidak menerima sesuatu dari orang asing?” Ia berdiri. Tanpa menghiraukanku, ia menarik koper, lalu berjalan menuju toilet.

***

Aku melihatnya lagi waktu menunggu pesawat menuju pulau tempat hotel yang akan kudiami selama berada di Maldives. Saat itu aku berada di café dekat terminal keberangkatan dosmetik. Ia duduk di meja paling ujung. Wajahnya tak sepucat waktu kami bertemu di Changi. Rambutnya tergerai sempurna, melewati tengkuk. Segera saja aku mendekatinya dan duduk di hadapannya.

“Hai,” sapaku ramah.

Alis Maldives mengernyit begitu melihatku. “Kau suka menguntit orang? Atau itu kebiasaan burukmu?” serunya ketus. Dari kerutan di dahinya, sepertinya ia tidak suka aku duduk tanpa permisi di mejanya.

Aku tersenyum. “Maafkan aku. Apa aku mengganggumu?”

“Aku cuma ingin sendirian.”

“Kau sedang patah hati?” tebakku.

Wajah Maldives berubah. Ada raut terluka di sana. Tangan kirinya yang tertumpu di meja juga terkepal, seperti menahan marah. Saat kulihat lebih saksama, air mata juga tergenang di pelupuk matanya. Tapi, seolah anti menangis di depan orang tak dikenal, Maldives mengerjapkan matanya berulang kali. Ia menarik napas pendek, lalu menatapku.

“Aku memang patah hati. Tapi, sepertinya itu bukan urusanmu.”

“Sepertinya itu juga urusanku, karena itu berarti aku punya teman senasib. Aku juga sedang patah hati,” sahutku, lalu tersenyum getir. “Bagaimana mengatakannya, ya? Tiba-tiba saja tunanganku mengaku kalau dia sedang hamil, dan ingin menikah dengan pria yang menghamilinya. Bukan hanya itu saja. Seenaknya saja dia memintaku berlibur ke Maldives. Tepat di hari pernikahannya pula. Dia bilang itu bentuk penyesalannya, juga agar aku tidak larut dalam kesedihan.”

“Bukannya itu pelampiasan patah hati yang menyenangkan?”

“Begitu menurutmu? Aku tahu pelampiasan patah hati yang tidak menyenangkan. Seperti yang dilakukan Tiara…” Pandanganku menerawang saat mengatakannya.

“Tiara?” Maldives menatapku heran.

Aku menggeleng pelan, mengusir masa lalu yang mendadak hinggap di pikiranku.

Maldives masih memandangku. Aku tersenyum kecil. Kutatap Maldives sambil menopang dagu dengan sebelah tangan. “Menurutmu, apa aku laki-laki gampangan? Harusnya aku marah pada mantan tunanganku itu, kan? Tapi nyatanya tidak. Aku malah mengikuti kemauannya.”

Maldives mendengus. Ia mamandangku dengan tatapan mengejek. “Yang kulihat, perasaanmu tidak mendalam padanya. Kau tidak peduli padanya.”

Aku tertawa. “Kau benar. Saat kita memilih tidak peduli, sebenarnya kita tidak betul-betul cinta pada seseorang. Ehm… apa kau juga demikian? Atau kau malah sangat peduli dengan mantan kekasihmu?”

“Apa suatu keharusan aku menjawab pertanyaanmu itu?”

“Bukannya bagus kalau kita membuat aliansi orang patah hati yang sama-sama memilih Maldives sebagai tempat berlibur? Walau kau berpikir aku tidak peduli pada mantan tunanganku itu, tapi tetap saja aku patah hati. Dia lebih memilihnya daripada memilihku. Harga diriku terluka.”

Detik itu juga, Maldives tertawa. Tawanya renyah terdengar di telinga.

Saat kami duduk di dermaga yang terletak di seberang café, Maldives menceritakan alasannya ke sini. Ia sengaja memilih tempat ini untuk melepas penat dan menyegarkan pikiran. Berbeda dari dugaanku semula, rupanya ia yang mencampakkan kekasihnya. Ia tahu kekasihnya selingkuh dengan wanita lain. Mereka pun akhirnya berpisah.

Namun, bukan itu saja yang membuat Maldives sakit hati. Tak lama setelah mereka putus, Maldives mendapat kabar kalau mantan kekasihnya itu tinggal bersama dengan wanita selingkuhannya di Paris.

Saat menceritakannya, suara Maldives bergetar. Ia mengatai mantan kekasihnya itu bajingan. Walau demikian, aku tahu Maldives menyesal berpisah dengannya. Ia terlihat sangat menyayanginya.

“Kalau saja hati manusia dapat dilihat sejelas laut di sini, mungkin dari awal aku tak perlu merasa tertipu. Apalagi oleh orang yang paling kusayangi.” Mata Maldives tertuju pada air laut di bawah dermaga yang tampak jernih. Kami bahkan bisa melihat sampai dasar laut. Pemandangan yang sangat indah, meski panas matahari menyengat dari atas sana.

“Kalau hati manusia terlihat sejelas bawah laut di Maldives, mungkin tak ada perbincangan di antara kita…”

“Kenapa begitu?” Alis Maldives bertaut.

Aku tidak menjawab. Kubiarkan saja keheningan mengambang di udara. Sementara mataku terus terpaku pada keindahan bawah laut Maldives yang seperti akuarium raksasa di bawah kakiku.

***

Peralatan snorkeling yang dibawa Maldives terjatuh. Aku memungutnya. Pasir pantai yang putih, halus, dan bertekstur seperti bedak terasa lembut di tanganku.

Begitu sampai di pulau tempat kami menginap, aku dan Maldives memang berencana melakukan snorkeling. Ini sesuai juga dengan rencanaku semula untuk melamar Maldives di bawah laut.

“Ada apa, Mal?” tanyaku pelan. Dua orang lewat di depan kami. Sepertinya mereka pasangan suami istri yang sedang berbulan madu. Mereka saling memeluk, lalu berciuman. Aku meringis. Bukan hal aneh melihat pasangan melakukan public display of affection di sini.

“Mal?” Aku mengulangi panggilanku.

Maldives tak menjawab. Matanya terarah pada tepi pantai—tepatnya pada seseorang berkulit kecokelatan dan memakai celana renang di sana.

Laki-laki itu tertawa lebar. Kakinya tersapu ombak. Seperti menyadari Maldives tengah memerhatikannya diam-diam dari kejauhan, laki-laki itu menoleh. Ia dan Maldives bersitatap dalam diam. Mereka seperti saling mengenali. Saling mengetahui satu sama lain.

Tanpa menghiraukanku, Maldives berjalan mendekati orang itu. Jantungku berdegup cepat. Segera saja aku mengejar Maldives.

Langkahku terhenti begitu Maldives berada di hadapan laki-laki itu. Tiba-tiba saja, Maldives memeluknya erat. Jantungku mencelus. Seketika aku teringat ucapan Maldives enam bulan lalu, awal ketika kami bertemu.

Saat itu kami berdiri di bibir pantai. Kami mengagumi pesona laut Maldives yang berwarna turquoise.

“Kau tahu, aku merasa takdir yang mempertemukanku dengannya. Orang tua kami sama-sama menggilai tempat ini. Sebutan untuk Maldives Islands juga Maladewa. Mala berarti untaian dan dvipa berarti pulau. Indah sekali, ya? Arti namanya begitu menawan, begitu indah. Nama kami berdampingan seolah kembar. Maladewa. Maldives. Pasti bukan tanpa tujuan Tuhan mempertemukan kami.” Mata Maldives berbinar. Sejurus kemudian, ia mendesah. “Walau kubilang dia bajingan, tapi aku sadar aku cuma wanita melankolis yang menyukai kebetulan-kebetulan ajaib semacam itu. Kalau aku bertemu lagi dengannya, aku tidak akan berbohong atau bersikap sok gengsi kalau aku ingin bersamanya. Demi Tuhan, aku mencintainya! Kalau dia berniat menduakanku sekali lagi, aku juga tidak peduli! Cinta memang tidak kenal logika. Bukan begitu, Juna?”

Laki-laki itu—Maladewa—balik memeluk Maldives. Tanpa kusadari, cincin platina dengan permata berwarna turquoise yang kubawa terlepas dari genggamanku.

Gigiku bergemeretak. Saat itulah, Maladewa melihatku.

Alisku berkedut. Aku tak akan lupa wajah itu. Wajah orang yang membuat adikku Tiara bunuh diri tiga tahun lalu. Wajah orang yang kulihat menginap di hotel tempatku bekerja dengan wanita berbeda-beda tiap minggu. Alasan yang tak pernah digubris Tiara. Alasan yang membuat adikku mengiris nadinya sendiri karena frustasi saat Maladewa mencampakkannya.

Langkahku berderap mendekatinya. Emosi menguasaiku. Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini sejak lama. Sejak kematian Tiara.

Seketika aku menerjang Maladewa. Aku memukulnya berkali-kali, hingga ia jatuh tersungkur. Wajahnya babak belur.

Maldives menjerit. Aku tak peduli. Aku ingin laki-laki ini mati di tanganku.

“Juna, berhenti! Kubilang berhenti!” teriak Maldives.

Aku tidak mungkin berhenti, Mal. Tidak mungkin.

Kau tidak tahu, bukan? Aku juga percaya kebetulan-kebetulan ajaib seperti takdir antara dua manusia. Aku percaya saat sekilas melihatmu dan Maladewa di restoran dan kau menangis setelah Maladewa pergi. Lalu, pertemuan kita di bandara menuju Maldives enam bulan lalu. Bahkan namamu. Aku percaya dengan bersamamu atau menikahimu, aku akan bertemu dengan penyebab adikku mati.

Aku percaya semuanya. Seolah kau adalah magnet tak terlihat untuk Maladewa. Magnet yang akan membawa Maladewa kembali padamu.

Hatiku tak sejernih laut Maldives yang terlihat sampai ke dasarnya, hingga kau bisa melihat terumbu karang serta aneka ikan yang berseliweran. Kalau kau mampu melihatnya, Mal, hatiku hanya berisi dendam. Dendam untuk mantan kekasihmu yang sangat brengsek itu—Maladewa.

***

Mar 14, 2016

Percakapan Tengah Malam

1

Ilustrasinya sangat-sangat loveable!!

Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Gadis edisi 31 yang terbit tanggal 19 Desember 2015 - 1 Januari 2016. Ini cerpen pertama yang dimuat di Gadis, jadi masih ada kekurangan di sana-sini. Ada bagian yang bikin aku ngerasa ih-seharusnya-kan-begitu-tapi-kok-gak-ditulis-sih-bego-banget-lu-nyesel-kan-lu-sekarang *plakk* Yah, penyesalan memang selalu datang terlambat, tapi semoga terhibur baca cerpen ini. Ah ya, sampai hari ini aku masih menunggu bukti terbit cerpen ini yang entah kenapa gak sampai-sampai juga ke rumah. Mungkin kami gak berjodoh. Hiks! *malah curcol* :p Okay, happy reading!

Percakapan Tengah Malam
Oleh: Eni Lestari

Aku ingat percakapanku dengan Lamia ketika kami sama-sama meringkuk di sudut kamar. Lampu sengaja kami matikan saat itu, agar Papa dan Mama tak tahu kami masih terjaga. Dengan penerangan senter, aku dan Lamia mendiskusikan siapa yang akan ikut Papa, dan siapa yang ikut Mama.

“Aku akan ikut Papa,” ucap Lamia. “Kamu tahu Papa tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Dari dulu aku yang mengatur kamar kita tetap bersih dan rapi. Kamu tidak suka bersih-bersih.”

Aku merengut. “Jadi, aku ikut Mama? Mama tidak bisa masak. Kamu tahu masakan Mama tidak enak. Papa juga tidak bisa masak, tapi Papa tahu makanan restoran mana yang lebih enak. Kalau Mama lebih suka masak mie instan,” gerutuku.

“Kamu bisa belajar memasak makanan yang kamu suka. Aku punya buku resep yang mudah dipraktikkan. Atau lebih mudah lagi, telepon saja layanan delivery.”

Aku masih merengut, tidak suka Lamia memutuskan seenaknya. Sejak dulu, Lamia memang suka menggunakan otoritasnya sebagai yang tertua. Meski sejatinya ia cuma lebih tua lima menit dariku.

“Jadi, kita sepakat?” Lamia mengeratkan kardigan. Udara mulai mendingin. Lamia berdiri sejenak untuk merapatkan korden kamar, lalu kembali duduk di sampingku.

“Apa kamu yakin Papa dan Mama akan bercerai?” tanyaku sangsi.

Lamia mengangguk. “Aku dengar Mama berbicara di telepon akan menyewa pengacara untuk mengurus perceraian. Dengan kondisi keluarga kita, Mama pasti berpikir perceraian adalah solusi yang sempurna.”

Aku mengembuskan napas. Aku tak bisa menyangkalnya.

Entah sejak kapan, Papa dan Mama sering cekcok. Ada saja yang mereka ributkan. Sedikit saja celah, mereka akan saling tuding dan mengucapkan kata-kata kasar satu sama lain. Meski tak sering, kadang pagi hari ketika aku dan Lamia hendak berangkat sekolah, kami menemukan pecahan gelas di lantai—sisa pertikaian Papa dan Mama malam sebelumnya. Lamia-lah yang pada akhirnya membuang pecahan gelas itu ke tempat sampah.

“Apa menurutmu mereka tak mungkin rukun seperti dulu?”

Lamia mendengus. “Dulu? Kapan? Waktu kita masih balita?” ucapnya sinis.

“Kenapa kamu jadi skeptis sih, Lamia?”

Lamia terdiam. Sejurus kemudian, ia mematikan senter, membuat kegelapan menguasai kamar kami.

“Sudah malam. Ayo, tidur. Besok aku ada piket pagi,” ajaknya.

Aku memerhatikan siluet tubuh Lamia yang bergerak menuju tempat tidur. Aku mengikutinya, lalu tidur di sampingnya. Kutarik selimut sampai batas dada, lalu berbaring miring. Di antara keremangan kamar, aku bisa melihat sisi wajah Lamia dari samping.

“Kalau nanti aku tinggal dengan Mama, aku akan tidur dengan lampu menyala tiap malam. Aku tidak suka tidur gelap-gelapan.”

“Itu terserah kamu. Yang jelas, selama kamu sekamar denganku, lampu harus dimatikan sebelum tidur. Tidak baik tidur dengan lampu menyala. Aku pernah kasih artikelnya, kan? Kamu tidak membacanya?”

Aku terkikik geli mendengar penuturan Lamia. Saudari kembarku itu memang maniak kesehatan. Tanpa menjawab, kupeluk Lamia erat-erat. Tak lama, aku pun tertidur lelap.

***

Pagi ini, hanya aku dan Lamia yang sarapan. Mama tidak kelihatan, begitu juga pula Papa. Dari post-it yang ditempel di kulkas, Mama bilang ada rapat pagi ini di kantor. Supaya tidak terjebak macet di jalan, Mama berangkat subuh. Sementara Papa, tak meninggalkan pesan apa pun. Papa cuma meninggalkan uang saku untukku dan Lamia di meja dapur.

“Pulang sekolah nanti aku mau beli novel. Mau ikut?” tawarku pada Lamia sambil menghitung uang yang diberikan Papa. Bulan lalu, aku terlalu boros. Untuk bulan ini, aku akan mengurangi kegemaranku membeli novel terbaru.

“Sori, aku ada acara.”

Aku mengerling ke arah Lamia. “Satya?”

Lamia mengangguk kecil, tanpa mengalihkan pandang dari layar ponselnya. “Kami mau nonton. Sekalian beli kado buat Mamanya. Dia minta aku memilih kado yang bagus. Menurutmu Mama Satya bakal suka kalau diberi gaun?” tanyanya sambil mendongak. Alisnya lalu merengut. “Itu ide Satya, bukan ideku. Aku sih bilang mending dibelikan kalung atau gelang.”

“Kalau aku sih akan beli buku resep. Bukannya Mama Satya suka masak? Kamu pernah masak bareng Mama Satya, kan?”

Mata Lamia berbinar. Ia meletakkan ponselnya, lalu memandangku. “Rania, kamu benar-benar… JE-NI-US!” serunya histeris.

Aku cuma tertawa mendengarnya.

***

Aku melambaikan tangan pada Lamia begitu sampai sekolah. Aku dan Lamia memang beda sekolah—meski jarak sekolah kami tak begitu jauh, hanya dipisahkan dua blok saja. Dulu ketika awal masuk sekolah dan sama-sama belum punya teman, kami suka bertemu di Café Louvre. Letak café itu sangat strategis karena berada tepat di antara dua sekolah kami.

Sepanjang koridor, aku kembali memikirkan pembicaraanku dengan Lamia semalam. Topik itu tercetus begitu saja dari bibir Lamia, walau tentu saja aku tak menyukainya. Selama ini, aku dan Lamia selalu bersama. Memikirkan kami akan tinggal di tempat yang berbeda, membuat perutku terasa diaduk-aduk tak nyaman.

Aku duduk di bangkuku, setengah melamun. Apa memang tak ada kemungkinan bagi keluarga kami kembali seperti dulu? Kenapa Lamia begitu yakin kalau Papa dan Mama akan bercerai?

“Rania, coba dengar deh.”

Aku terkejut mendapati Panji memasukkan earphone ponselnya ke telingaku. Aku bahkan tak menyadari ia duduk di sampingku.

“Bagaimana? Enak kan lagunya?” tanyanya sambil menggeser ponselnya agar aku bisa melihat lagu yang sedang ia putar.

Aku mendengarnya sambil lalu, kemudian mengangguk. Lagu yang diputar Panji lumayan easy listening, dengan iringan piano yang menenangkan. Hanya saja, aku sedang tidak mood membicarakan hal-hal semacam itu. Jadi, aku hanya berkomentar seperlunya. Sementara Panji menanggapinya dengan antusias. Ia membicarakan penyanyi yang lagunya baru saja ia putar dengan menggebu-gebu. Aku tersenyum saja, berharap bel cepat berbunyi agar Panji bisa kembali ke bangkunya secepat mungkin.

Untunglah, doaku cepat dikabulkan. Meski enggan, Panji kembali ke bangkunya.

Aku menghela napas. Ketika Bu Mutya masuk, otakku seakan tak mau fokus pada pelajaran. Aku masih memikirkan ucapan Lamia.

Kulirik Panji yang bangkunya berseberangan denganku. Ia tersenyum kecil seraya menaikkan kedua alisnya, seolah bertanya ada apa. Seketika aku teringat rencanaku membeli novel hari ini. Aku mengambil ponsel, lalu mengetik sesuatu dan kukirimkan pada Panji. Aku melakukannya diam-diam agar tidak ketahuan Bu Mutya.

Temani aku ke toko buku yuk, sepulang sekolah nanti?

Kutatap Panji lagi. Panji mengangguk mantap sambil mengacungkan jempolnya. Aku tersenyum manis, senang dengan perhatian cowok itu.

***

“Kamu kelihatan lesu hari ini,” ujar Panji begitu kami sampai di toko buku. “Kamu bertengkar sama Lamia?”

Aku menggeleng pelan. “Tidak. Aku baik-baik saja, kok,” jawabku berbohong. Aku tak begitu suka membicarakan masalah keluargaku pada Panji, meski status cowok itu adalah pacarku saat ini. Entahlah, rasanya tak nyaman. Aku merasa itu adalah wilayah pribadiku. Aku lebih suka membicarakannya dengan Lamia.

“Seperti biasa, aku tunggu di rak komik. Kamu keliling saja cari buku yang mau kamu beli. Oke?”

Aku mengangguk. Setelah itu, kami berpencar. Aku segera pergi melihat rak berisi novel new arrival. Ada tujuh novel baru, dan semuanya dari penulis favoritku. Aku mengerang dalam hati, berusaha tidak tergoda untuk membeli semuanya. Aku sudah bertekad untuk membeli dua judul saja hari ini.

Ketika sedang menimbang-nimbang ingin membeli novel yang mana, sudut mataku melihat sosok yang kukenal di balik kaca, di luar toko buku. Aku meletakkan novel kembali ke rak, dan berjalan mendekat.

Mataku membeliak begitu menyadari siapa yang kulihat. Aku tidak mungkin salah. Tas merek Gucci berwarna ungu itu mirip kepunyaan Mama. Dan Mama bersama seseorang yang tak kukenal—pria berpenampilan necis khas eksekutif muda.

Mama dan orang itu pergi. Tanpa pikir panjang, aku keluar dari toko buku dan mengikutinya. Sedikit berlari aku menuruni tangga eskalator mal. Kepalaku celingukan, mencari sosok Mama dan pria itu. Aku menemukan mereka masuk ke sebuah butik. Lengan Mama menggelayut manja pada pria itu.

Langkahku terhenti. Aku melihat pria itu memandang Mama dengan tatapan penuh kasih. Tak peduli banyak orang, pria itu mencium puncak kepala Mama.

Sesuatu yang liar berdentam-dentam di jantungku. Tanganku gemetar, menyaksikan pemandangan itu. Kucari ponsel di saku rok. Mataku mengembun ketika aku mengirim pesan singkat pada Lamia.

Lamia, aku tidak mau tinggal dengan Mama.

***

Ponselku berdering beberapa kali begitu taksi yang kutumpangi berhenti di depan rumah. Setelah membayar argo, kulihat Panji beberapa kali menelepon. Ia juga mengirim SMS bertanya aku ada di mana, karena ia tak menemukanku di toko buku. Aku tak menjawabnya. Setelah kejadian di mal, aku tak berselera berbicara dengan siapa pun.

Ya, kecuali tentu saja dengan Lamia.

Begitu membuka pintu, Lamia menghambur ke arahku. Wajahnya cemas. Ia segera menarik tanganku dan memaksaku duduk di sofa ruang tamu.

“Ada apa?” tanyanya khawatir.

Alih-alih menjawab, aku malah balik bertanya. “Lho, kamu tidak jadi nonton?”

“Rania!” Lamia melotot.

Aku terkekeh. Sembari menunggu penjelasanku, Rania duduk di sampingku. Kuembuskan napas pendek. Setelah menata perasaanku, akhirnya kuceritakan apa yang kulihat di mal tadi. Aku mencoba menahan air mataku saat mengatakannya. Anehnya, Lamia tak terlihat terkejut dengan apa yang kuceritakan. Seakan-akan ia sudah mengetahui hal itu sebelumnya.

“Apa kamu sudah tahu kalau Mama…” Aku tak bisa meneruskan kalimatku.

Lamia menggeleng pelan. “Bukan Mama. Tapi Papa.”

“Maksudmu?”

Lamia menunduk. “Maaf tidak memberitahumu sebelumnya. Aku takut kamu marah dan menuduhku berbohong.”

“Memang Papa kenapa?” tanyaku tak sabar.

“Beberapa hari lalu, aku mengantar Satya menemui Om Willy yang baru datang dari Surabaya. Om Willy menginap di Hotel Antika. Saat itulah, aku lihat Papa di lobi hotel dengan seorang wanita. Aku tidak tahu wanita itu siapa. Tapi, mereka terlihat mesra…” Lamia menelan ludah. “Aku buru-buru bersembunyi di balik punggung Satya agar Papa tidak tahu aku juga ada di sana.”

Kenyataan itu menghantamku dengan telak. “Jadi, karena ini kamu yakin Papa dan Mama pasti bercerai? Karena kamu lihat Papa selingkuh?”

“Ya. Dan dugaanku makin menguat mendengar ceritamu barusan.”

Ah. Aku paham sekarang. Sungguh kenyataan yang menyakitkan.

Bahuku dan Lamia sama-sama melorot. Dua fakta itu kini mengerucut, memberi kesimpulan yang sama-sama kami pikirkan. Aku dan Lamia bersitatap. Aku bisa melihat pendar kesedihan di matanya—yang pasti terefleksikan pula di kedua bola mataku. Tapi, tak ada air mata yang menetes dari kedua mata kami. Sebagai gantinya, aku menyandarkan kepala di bahu Lamia, sekadar membagi kesedihan yang kurasakan.

“Apa menurutmu Papa dan Mama tidak saling mencintai lagi?” tanyaku pelan.

“Aku tidak tahu. Yang jelas, mereka berhenti peduli satu sama lain. Mungkin sudah sejak lama.”

“Lalu, apa arti kehadiran kita bagi mereka? Kita buah cinta mereka, kan?”

Lamia tak menjawab. Aku tak tahu apa ia tak tahu jawabannya, atau memang tak mau menjawabnya.

Keheningan mengudara di sekitar kami. Keheningan itu terusik ketika ponsel Lamia berbunyi nyaring—telepon dari Mama. Lamia segera menekan tombol loud speaker agar aku bisa mendengar suara Mama.

“Nanti malam ada yang mau Mama dan Papa omongkan. Ini masalah serius. Bilang sama Rania jangan pergi ke mana-mana,” ucap Mama dengan suara bergetar. Ada backsound suara laki-laki di sebelahnya. Aku tak mungkin salah. Itu bukan suara Papa.

“Oke, Ma,” jawab Lamia, lalu menutup telepon.

Aku dan Lamia saling pandang. Kami mengembuskan napas kuat-kuat.

“Jadi, kamu serius tidak mau ikut Mama? Kamu mau ikut Papa?” tanya Lamia sambil menggenggam tanganku. “Papa dan Mama pasti mengajukan pilihan itu. Aku ingin kita memutuskan pilihan sebelum Papa dan Mama bicara soal perceraian mereka.”

Aku menunduk. “Bisa tidak kita tinggal berdua di rumah Oma? Oma tinggal sendiri, kan?” ucapku dengan nada lemah. Membayangkan perselingkuhan Papa dan Mama membuatku mulas. Aku yakin aku tak bisa tinggal dengan salah satu dari mereka.

Lamia tersenyum. “Ide bagus. Kamu selalu punya ide bagus, Rania. Meski, ya… dengan begitu kita akan tinggal jauh dari Jakarta. Kurasa Lampung tak buruk juga. Ehm… tapi di sana ada Starbucks, kan?”

Aku tertawa mendengarnya. Rasanya aku akan selalu baik-baik saja asal ada Lamia di sampingku.

Ya, semoga saja begitu.

***

Nov 22, 2015

Ann dan Ray

0

https://www.cekaja.com/info/kompetisi-menulis-cerpen-cinta-atau-uang-keputusancerdas/?utm_source=twitter&utm_medium=social&utm_campaign=Blog

Ann dan Ray
Oleh: Eni Lestari

Pagi Ann dimulai dengan membuka halaman buku terakhir yang ia baca malam sebelumnya.

Pagi Ray dimulai dengan keinginan kuat untuk membakar semua buku-buku Ann.

Ah, tapi Ray tidak mungkin setega itu. Alhasil, ia biarkan buku-buku Ann mengisi hampir setiap sudut rumahnya. Buku-buku itu menumpuk, mirip menara Pisa yang miring ke samping. Ray yakin satu goncangan saja akan membuat buku-buku itu berjatuhan. Ray menunggu hal itu terjadi. Nyatanya, tak ada pertanda gempa selama setahun terakhir. Meski miring, buku-buku itu tetap bergeming di tempatnya. Sesekali Ann akan memeriksanya sambil lalu dan membersihkannya dari debu yang menempel pada sampul dan celah halamannya.

Nyaris tiap hari, Ray mencoba menahan diri untuk tidak mencabik buku-buku itu menjadi serpihan. Ray tidak tahu sejak kapan ia jadi makhluk pembenci seperti itu. Yang jelas, ia muak melihat buku-buku Ann. Atau mungkin ia muak melihat sumber kebahagiaan Ann. Sementara sumber kebahagiannya sendiri telah lenyap tak berbekas.

“Kopi?”

Ray menggeleng, menjawab tawaran Ann. Sembari membawa mug yang menguarkan aroma kopi, Ann pergi ke teras. Ini juga salah satu rutinitas lain Ann di hari-hari biasa—yang baru diketahui Ray enam bulan terakhir. Ketika akhir pekan, Ann lebih suka menghabiskan waktu bersama Ray menyusuri mal, berlama-lama di toko buku, wisata kuliner, atau menikmati ombak di tepi pantai. Itu juga kalau Ray tidak disibukkan dengan meeting di luar kota. Selebihnya, Ray nyaris tak tahu apa saja yang dilakukan istrinya di rumah. Mau bagaimana lagi, Ray memang workaholic yang lebih suka menghabiskan hari-harinya di kantor.

Ray duduk termenung, menatap jarum jam yang bergeser. Detik demi detiknya begitu menyiksa, membuat Ray nyaris kehilangan kontrol diri dengan membanting jam dinding itu ke lantai. Ray menghela napas. Mungkin rasa frustasinya sudah di ambang batas. Ia merasa seperti diolok-olok. Seakan-akan kehadirannya di rumah ini cuma beban. Seakan ia cuma seonggok daging yang tak memberi manfaat apa-apa.

“Ray, ada apa?”

Ray terperanjat ketika Ann menunduk menatap wajahnya. Ia tidak mendengar langkah kaki istrinya itu memasuki dapur. Rupanya Ann hendak mengambil camilan di lemari dapur.

“Ada masalah? Atau kau mau dimasakkan sesuatu? Nasi goreng, mungkin?”

Ray diam saja. Alih-alih menyahut, Ray berdiri. Sedikit terhuyung karena pusing, ia berjalan ke kamarnya. Tinggal di rumah tanpa melakukan apa-apa membuatnya tak nyaman. Sejenak ia menyesali keputusannya enam bulan lalu. Keputusan yang juga disetujui Ann, tapi memberi dampak yang besar bagi kehidupan Ray.

“Ray,” panggil Ann.

Ray menoleh. Matanya memandang sengit.

Ann tersenyum tipis—senyum penuh pengertian yang kerap ditunjukkannya. Ia mendekat, lalu memegang lengan Ray. “Kalau ada sesuatu yang kau butuhkan, bilang padaku. Oke?”

Ray membuang muka. Matanya mengerling, tertuju pada kardus besar yang dibawa kurir setengah jam lalu—buku-buku pesanan Ann yang berjubelan di dekat tangga. Ia mendengus, teringat surat yang baru dibacanya yang teronggok di meja ruang tamu. Spontan saja Ray menunjuk buku-buku itu dengan tatapan tidak suka.

“Bisakah kau menyingkirkan buku-bukumu?”

“Buat apa?” Ann mengernyitkan alis, bingung.

“Lupakan. Aku mau pergi.” Ray menepis tangan Ann kasar. Langkahnya berderap memasuki kamar. Tak sampai semenit, ia keluar sambil membawa ponsel, dompet dan topi. Tanpa berpamitan, Ray melintasi dapur, meninggalkan Ann yang berdiri mematung, memandang punggungnya yang menghilang di balik pintu.

***

Ketika pikirannya mulai jernih, Ray sadar kelakuannya kekanakan. Seharusnya ia tidak bersikap kasar pada Ann. Selama enam bulan ini, istrinya itu tak marah, apalagi protes dengan kehidupannya. Bahkan ketika Ray berhenti memberinya uang bulanan karena saldo rekeningnya menipis, Ann hanya menanggapinya dengan senyum dan pelukan ringan.

“Aku mengerti. Lakukan saja apa yang kau mau, Ray.” Begitu ujar Ann pengertian.

Seharusnya, Ray senang. Ann istri yang tak banyak menuntut, ia partner yang sempurna. Hanya saja, ego Ray yang menjulang tak membiarkannya begitu saja. Ia merasa menjadi suami yang gagal. Seharusnya sebagai tumpuan hidup Ann, ia tak menuruti idealismenya yang kolot. Seharusnya ia tak memutuskan resign dari kantor, kalau pada akhirnya ia kesulitan mendapat pekerjaan sampai sekarang.

Ray mengisap rokoknya dalam-dalam. Ia terbatuk kecil, merasa aneh karena sudah lama tak merokok. Ray ingat komitmennya pada Ann sebelum menikah. Ia akan berhenti menghisap batang nikotin itu. Ia melakukannya demi Ann, demi menjaga perasaan Ann yang kerap khawatir dengan kesehatan paru-parunya.

Detik itu juga, Ray tahu ia telah melanggar komitmen mereka. Masa bodoh! dengus Ray. Ia butuh pelampiasan. Rokok barang murah. Paling tidak harganya masih terjangkau isi dompetnya yang tak seberapa.

Ray tertawa pendek. Tak pernah sekali pun ia berpikir akan mengalami masa-masa seperti ini. Bahkan untuk menyenangkan dirinya sendiri pun, ia tak mampu. Sungguh berbanding terbalik dengan kehidupannya dulu di mana ia tak segan mengeluarkan kocek jutaan demi memuaskan keinginannya. Gadget terbaru, jam bermerek, makan mewah, golf. Sebut saja. Ia tinggal menggesekkan aneka kartu dalam dompet dan semuanya pun tersedia.

Segampang itu. Semudah itu. Ah, Ray merindukan semuanya. Kemudahan itu kini telah menguap dan hanya menyisakan kegetiran pada dirinya.

“Pak, minta, Pak…”

Sekonyong-konyong, anak kecil berbaju kumal mendatangi Ray. Ray jatuh iba, seolah melihat dirinya sendiri. Ia merogoh saku celana dan menemukan recehan seratus rupiah, lalu memberikannya pada anak kecil itu.

“Terima kasih, Pak…”

Anak kecil itu berlalu dengan wajah lesu. Ray memandangnya putus asa, takut seandainya kelak ia bernasib sama. Saat itulah, matanya tertubruk pada sosok tinggi yang memerhatikannya dari kejauhan. Sosok itu mendekat. Matanya melebar tak percaya begitu melihat Ray.

Ray ingin kabur saat itu juga. Namun, kepercayaan diri yang entah didapatnya dari mana, menahannya untuk duduk di bangku taman. Ia tersenyum kecil, menyambut uluran tangan Richard—pria yang kini berdiri di hadapannya.

“Ray! Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Bagaimana kabarmu?”

Ray menjabat tangan Richard lemah. “Buruk,” ucapnya lesu, tak ingin berpura-pura.

Richard duduk di sampingnya, menepuk bahunya. “Kau pasti kesulitan.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Richard menghela napas, matanya menerawang. Lalu, kisah demi kisah pun mengalir dari bibir Richard—mantan rekan kerja Ray dulu di kantor.

Ray mendengarkan. Kini ia tahu kenapa susah baginya memperoleh pekerjaan. Rupanya Larry lah biang keladinya. Relasi bisnis mantan bosnya itu memang tak perlu diragukan. Ia mempunyai koneksi yang cukup untuk meminta agar tak ada perusahaan mana pun yang menerima Ray sebagai pegawai. Itu adalah imbalan yang sepadan dari penolakan Ray atas tawaran yang diberikan Larry dulu.

“Kau dengar ini dari mulut Larry sendiri?” tanya Ray ingin tahu. Sedikit banyak ia merasa jijik dengan perilaku mantan bosnya yang menduduki jajaran direksi di perusahaan tempatnya bekerja dulu. Ia teringat tawaran penggelapan uang perusahaan yang pernah ditawarkan Larry. Tawaran yang tentu saja ditolak Ray mentah-mentah, dan dijadikan alasan kuat untuk resign dari kantor. Ia tak mungkin sanggup bekerja di bawah pimpinan korup seperti Larry. Meski tentu saja tak ada seorang pun yang mengetahui hal ini. Ray tak pernah membicarakannya dengan siapa pun, kecuali pada Ann.

“Waktu itu dia mabuk di sebuah bar,” cerita Richard. “Dia sendiri yang membocorkan rahasianya. Ada beberapa gadis yang mendengarnya. Kebetulan saja aku menjalin hubungan dengan salah satu gadis itu. Setelah tidak bekerja di bar, dia menceritakannya padaku.” Richard memandang Ray. “Pasti berat bagimu. Apa rencanamu setelah mengetahui hal ini?”

Ray mengangkat bahu. Ia sungguh tak tahu harus berbuat apa. Yang jelas, ia tak ingin mengecewakan Ann. Ia tak mau Ann melihatnya terpuruk dan depresi. Ia juga tak mau melampiaskan kekesalannya lagi pada Ann, seperti yang dilakukannya tadi pagi.

“Maaf, aku tak bisa banyak membantu…” Ada nada menyesal pada suara Richard.

“Tidak apa-apa. Paling tidak, aku tahu apa yang terjadi. Itu sudah lebih dari cukup.” Ray tersenyum kecut. Setelah ini ia harus membicarakannya dengan Ann. Dan yang lebih penting, ia harus meminta maaf pada istrinya itu.

***

Begitu pulang, Ray disambut pemandangan Ann yang duduk meringkuk di sudut sofa. Sebuah buku tebal berada di pangkuannya. Kebiasaan istrinya selama bertahun-tahun itu memang tidak pernah berubah.

Ray mendekat. Ann mendongak sedikit, melepaskan perhatiannya dari halaman buku yang tengah dibacanya, lalu duduk tegak. Ia menatap Ray tanpa ekspresi. Alisnya merengut ketika sekonyong-konyong Ray mengulurkan setangkai mawar padanya.

“Aku bersalah. Maafkan aku,” ucap Ray seraya menunduk.

“Kau tahu aku lebih suka diberi buku daripada mawar.” Ann meringis geli. “Eh, tunggu. Bukannya ini mawar yang kutanam di halaman? Kau memetiknya tanpa seizinku?” Wajah Ann berubah masam.

Ray terkekeh. “Tidak ada yang tersisa di dompetku. Apa aku harus membeli sesuatu yang tumbuh di halaman rumahku sendiri?”

Ann masih cemberut. Ray tertawa. Ia merangkul istrinya itu, lalu mengecup puncak kepalanya. “Aku tak akan mengulanginya lagi. Baik kejadian tadi pagi, atau memetik mawarmu tanpa izin. Maafkan aku. Oke?”

Ann memandangi wajah suaminya dari dekat. “Apa kau mau cerita apa yang terjadi? Apa yang membuatmu kesal? Apa karena surat penolakan dari perusahaan itu? Aku membacanya di ruang tamu.”

“Itu salah satunya. Surat itu datang bersama paket bukumu.” Ray mendesah. “Aku merasa tidak berguna, Ann. Aku cuma pengangguran. Aku takut kau meninggalkanku.”

“Kau tahu aku tidak mungkin melakukannya. I love you unconditionally, Ray.”

“Meski aku tak bisa menghidupimu dengan layak?” Ray beringsut menjauh, merasa gamang. “Cinta tak bisa membuatmu kenyang, Ann. Cinta tak bisa membuatmu membeli buku-buku yang kau suka. Itu yang kau harapkan dariku?”

“Kenapa kau begitu skeptis, Ray? Aku tahu ini penolakanmu yang kesekian kalinya. Tapi, aku yakin pasti ada perusahaan yang mau menerimamu.”

Ray tertunduk. Ia teringat kata-kata Richard. “Aku tidak yakin dengan hal itu.”

“Kenapa? Kau lulusan terbaik di universitas. Kinerjamu baik, bahkan melebihi ekspetasi semua orang. Seharusnya kau menjadi incaran perusahaan mana pun.” Ann menyelisik raut muka Ray yang berubah sendu. “Atau ada sesuatu yang tidak kutahu?”

Ray mengembuskan napas pendek. Ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Richard dan rahasia yang dibeberkan pria itu.

Ann melongo tak percaya. Ia memang tahu alasan Ray resign dari kantor karena menjunjung tinggi idealismenya. Ray pria yang jujur. Ia tak akan mengambil hak orang lain, atau melakukan pekerjaan kotor demi mendapat uang melimpah. Ray merasa gajinya sesuai. Fasilitas yang diterimanya dari kantor pun lebih dari cukup untuk bersenang-senang. Ann hanya tak menduga inilah buntut dari aksi Ray menolak keinginan mantan bosnya.

“Setelah mengetahui hal ini, apa yang kau harapkan dariku, Ann?” Ray menunduk. Bahu dan lengannya seolah lunglai tak berdaya.

Ann terdiam sejenak. Tiba-tiba saja ia berdiri dan berlari ke kamar. Tak lama ia kembali, lalu membanting beberapa buku tabungan ke atas meja.

“Aku akan membantumu,” ucap Ann optimis.

“Apa maksudmu? Untuk apa buku tabungan ini? Dan, tunggu, kenapa ada banyak sekali?” tanya Ray heran.

Ann tak menggubris pertanyaan Ray. “Sejak menikah setahun lalu, aku sadar kau bukan tipe orang yang berpikir jangka panjang, Ray. Kau suka sesuatu yang instan. Kau menikmati kesenangan secara cepat dan tuntas. Kau bukan orang yang berambisi besar, meski sangat workaholic. Bagimu, apa yang bisa dinikmati sekarang, harus habis saat itu juga. Sungguh, Ray, sifatmu itu kadang membuatku frustasi.”

Ray menelan ludah. Perasaan malu menyergap dirinya.

“Kau tidak pernah memikirkan investasi. Rumah ini pun hadiah dari orang tuamu. Kau berpikir ini cukup untukku dan anak-anak kita kelak. Kau tidak pernah merencanakan seandainya ada hal-hal buruk yang menimpa keluarga kita. Ya, seperti yang kau alami sekarang.”

Lagi-lagi Ray diserang perasaan bersalah. Ia tahu ujung pembicaraan Ann.

“Aku tidak bisa memaksamu untuk mengikuti kemauanku. Kita pasti akan bertengkar hebat. Akhirnya, aku melakukannya diam-diam. Aku menyisihkan sebagian uang bulanan yang kau beri dan menabungnya. Ada juga yang kubelikan emas. Aku tahu harga emas relatif stabil dan bisa dijadikan lahan investasi kecil-kecilan yang menjanjikan.”

Ray merasa mendapat angin segar. Kata-kata Ann membuat harapannya yang awalnya mengempis, mulai menggelembung. “Lalu, apa rencanamu?”

“Kita mulai semuanya dari nol. Selagi menunggu lamaran pekerjaanmu diterima—siapa tahu ada perusahaan yang tertarik—kita bisa mencoba berbisnis. Kita punya modal…” Ann mengetuk buku tabungannya. “Kita pilih bisnis yang modalnya minim dan risikonya sedikit, tapi hasilnya menjanjikan.”

Ray menimbang-nimbang usul Ann. “Aku ragu, Ann. Sepertinya tak ada bisnis seperti itu.”

Ann berdecak. Ia menggoyangkan jari telunjuknya. “Kau meremehkanku, Ray. Tentu saja ada bisnis seperti itu. Kau bahkan melihat barangnya tiap hari. Tadi pagi malah kau ingin aku menyingkirkannya.”

Mata Ray membeliak. “Maksudmu…” Ray menatap tumpukan buku-buku Ann di beberapa sudut rumahnya. Buku-buku itu ada yang baru dibeli, ada pula yang didatangkan Ann dari rumah orang tuanya dulu. Sejak kuliah, Ann memang menggilai buku. Kegemaran akan buku pula lah yang mengantarkannya menjadi penerjemah freelance. Ann tak suka banyak interaksi dengan orang. Karena itulah, ia lebih memilih pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Pekerjaan yang sesuai passion-nya.

“Ah, aku bisa membayangkannya.” Mata Ann terpejam. “Hari-hariku akan disibukkan dengan melayani pembeli via online. Aku harus mencatat pesanan, membungkusnya rapat-rapat, dan membawanya ke jasa pengiriman terdekat. Bagaimana menurutmu? Kita akan melakukannya berdua. Kau dan aku. Wow! Pasti sangat menyenangkan,” ucapnya semangat.

Ray melihat binar di kedua mata Ann. Binar kesungguhan, harapan, kejujuran, juga masa depan. Binar yang setahun lalu membuat Ray jatuh cinta dan memutuskan menghabiskan hidupnya bersama Ann.

Ray mengangguk setuju. Ann menjerit kegirangan dan menubruk tubuh Ray hingga terjengkang. Ray tertawa lebar. Ia balas memeluk Ann erat, tahu bahwa hidupnya terselamatkan berkat istri tersayangnya itu.

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com