Showing posts with label Book Review. Show all posts
Showing posts with label Book Review. Show all posts

Nov 30, 2021

Pasukan Buzzer

1


REVIEW PASUKAN BUZZER

Judul: Pasukan Buzzer
Penulis: Chang Kang-myoung
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2021
Tebal: 288 halaman 
ISBN: 978-602-065-378-5

Blurb:

Internet, Propaganda, dan Manipulasi Opini Publik.

Sam-goong, Chatatkat, dan 01810 pada awalnya membentuk Tim Aleph sebagai perusahaan pemasaran online yang menawarkan jasa mempromosikan produk atau perusahaan. Dengan Sam-goong yang ahli menyusun strategi, Chatatkat yang pintar merangkai kalimat, dan 01810 yang jago komputer, mereka pun dengan cepat menguasai cara memanipulasi orang-orang melalui internet.

Suatu hari, Tim Aleph menerima permintaan pekerjaan yang aneh.

“Kalian pernah mendengar situs bernama Kafe Jumda? Jika kalian berhasil menghancurkan situs itu dalam waktu satu bulan, aku akan memberi kalian sembilan puluh juta won.”

Dengan keyakinan polos dan menggebu-gebu bahwa mereka bisa mengubah dunia, Tim Aleph pun mulai beraksi. Ketiga pemuda itu sama sekali tidak menyadari bahwa mereka mungkin terlibat dalam permainan politik berbahaya dan organisasi rahasia yang tidak segan-segan menyingkirkan siapa saja yang dianggap bisa merugikan mereka… dengan cara apa pun.

Review:

Tak bisa dipungkiri, internet telah mengubah paradigma kehidupan pada manusia modern. Terlebih era digitalisasi membuat manusia tak bisa lepas dari pengaruh internet. Internet memang mempermudah segalanya. Kita bisa mendapatkan apa saja hanya dengan berselancar di internet—mulai dari informasi, relasi, sampai eksistensi. 

Sayangnya, kemudahan mendapati ketiga hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Mereka mempelajari kecenderungan sosial pada komunitas di internet dan menanamkan paham yang bersifat persuasif. Memancing dan menggiring opini pun dapat dilakukan dengan mudah. Apalagi kebanyakan pengguna internet adalah orang-orang yang menjunjung moralitas yang tinggi.

Chang Kang-myoung menyoroti hal tersebut pada novelnya yang berjudul Pasukan Buzzer. Novel ini mengisahkan tentang Tim Aleph yang beranggotakan Sam-goong, Chatatkat, dan 01810. Awalnya, pekerjaan Tim Aleph hanya berpusat pada usaha mereka untuk mempromosikan produk dan perusahaan. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai memanipulasi orang-orang di internet. Propaganda pun dilancarkan oleh Tim Aleph atas pesanan pihak tertentu yang bertujuan untuk menghancurkan komunitas yang dirasa mengancam.

Membaca novel ini membuat kita sadar betapa besar pengaruh internet pada kehidupan sehari-hari. Sayangnya, kebanyakan pengguna internet bukanlah tipe pembelajar. Seringnya mereka bersikap egois dan mau menang sendiri. Terutama apabila menyangkut pendapat orang lain.

Sikap semacam ini disebut dengan ‘bias konfirmasi’. Bagaimanapun, bias konfirmasi adalah sikap yang buruk, karena yang dilakukan hanya mencari bukti yang mendukung opini pribadi, bukan fakta yang sesungguhnya terjadi:

“Semakin lama kita menenggelamkan diri ke dalam internet, semakin sering kita melihat apa yang ingin kita lihat, dan semakin kita percaya pada apa yang kita percayai selama ini.” (hal 69-70)

Novel ini memang cuma setebal 288 halaman. Meski demikian, penulis memberi sentuhan yang elegan dengan kejutan yang tak terpikirkan begitu mendekati akhir cerita. Pembaca pun dibawa pada kesimpulan yang mengerikan bahwasanya propaganda mampu dilakukan. Terutama oleh orang-orang yang berkuasa demi mencapai tujuan mereka.

Novel ini juga memberi gambaran singkat seperti apa industri wanita hiburan di Korea Selatan. Betapa miris melihat wanita hanya dijadikan objek kepuasan para pria. Patut disayangkan bagaimana penulis memperlihatkan wanita tak lebih dari sekadar alat pemuas seks dan dijadikan ‘penggembira’ saat pesta.

Walaupun penulis mengakui Pasukan Buzzer hanyalah fiksi semata, tapi kita bisa lihat seperti itulah fakta yang terjadi saat ini. Aneka peristiwa yang viral dan trending, bahkan skandal para artis, bisa saja merupakan pengalihan isu/konspirasi untuk menutupi kasus tertentu. Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum, meski tak ada bukti yang memberatkan golongan tertentu.

Internet sebagai bentuk kemajuan teknologi memang memberikan banyak manfaat. Sayangnya, bak pedang bermata dua, ada dampak positif dan negatif yang menyertainya. Novel ini menggambarkan jelas hal tersebut. Karena itulah, kita harus bijak menyikapi segala hal yang muncul di internet. Terutama bagi kalangan anak muda yang merupakan pengguna aktif internet:

Selama beberapa waktu, anak-anak muda akan menguasai dan mengguncang internet. Lalu internet akan mengguncang kenyataan. Dan zaman kegelapan pun menjelang. (hal. 182)

Rating: 4/5 bintang

Apr 17, 2021

The Sixth Wicked Child

0


REVIEW THE SIXTH WICKED CHILD

Judul: The Sixth Wicked Child
Penulis: J.D. Barker
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: 1, 2021
Tebal: 690 hal
ISBN:978-623-04-0356-9

Blurb:

Tidak mendengar yang tidak baik.

Bagi detektif Porter, kalimat "Ayah, maafkan aku," membangkitkan kenangan yang sengaja dikubur dalam-dalam. Bagi Bishop, ini mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi selama beberapa dekade.

Tidak melihat yang tidak baik.

Ditemukan dekat dengan jasad korban, kalimat itu menghubungkan banyak korban dengan satu pembunuh.

Tidak bicara yang tidak baik.

Di tengah kekacauan dalam Chicago Metro dan FBIvirus, isolasi rumah sakit, petugas nakal, hingga korupsiBishop justru menyerahkan diri dan mengungkap sesuatu yang tak terduga, sesuatu yang mengubah dan memutarbalikkan situasi.

Tidak bertindak yang tidak baik.

Masa lalu mulai terurai, kebenaran perlahan terungkap. Akankah ini menjadi akhir perjalanan bagi Pembunuh Empat Monyet?

Review:

Selama Sam Porter ditahan, kembali terjadi pembunuhan beberapa orang yang melibatkan P4M. Modus operandinya serupa, yaitu ditemukan tiga kotak kecil putih yang diikat pita warna hitam dan papan bertuliskan "Ayah, Maafkan Aku". Para detekfif yang berwenang dan FBI pun mencari tahu keterkaitan para korban yang ditemukan.

Ketika penyelidikan berlangsung, Bishop menelepon Detektif Nash dan memintanya bertemu. Nash datang menemui Bishop, tanpa tahu Bishop memiliki rencana tersendiri. Rupanya Bishop sengaja memprovokasi Nash. Bishop membiarkan dirinya dipukuli untuk diperlihatkan kepada media bagaimana seorang polisi memperlakukan orang yang dianggap bersalah. Setelahnya, Bishop membeberkan fakta lain yang menghebohkan. Dia mengaku bahwa Sam Porter-lah dalang di balik P4M.

Para detektif dibingungkan dengan pernyataan Bishop tersebut. Namun, ketika diselidiki lebih lanjut, semua bukti mengarah pada keterlibatan Porter. Sementara itu, walikota dikabarkan menghilang. Clair pun menghilang ketika berada di rumah sakit yang saat itu sedang dikarantina akibat virus SARS. 

Berbekal buku harian Bishop, Porter mencoba menguak apa yang pernah terjadi di masa lalu. Ada sebagian ingatan Porter yang hilang akibat kepalanya pernah tertembak. Tapi, benarkah dia melakukan kejahatan yang tidak dia ingat? Atau... dia cuma penjahat yang berkedok sebagai polisi? 

***

The Sixth Wicked Child adalah buku terakhir dari seri The Fourth Monkey. Sama seperti buku-buku sebelumnya, pembaca disuguhi alur cerita yang intens. Terlebih di buku ini Sam Porter dituduh melakukan kejahatan yang serius. Seorang polisi harusnya mengayomi masyarakat. Tapi, ketika semua bukti menyudutkannya sebagai penjahat, siapakah yang lantas bisa dipercaya? 

Bishop sengaja membenturkan kenyataan tersebut pada publik. Bishop pun mendapat simpati, sementara publik, bahkan polisi menyudutkan Porter. Pada tahap ini, pembaca dibuat meragukan Porter. Porter yang sejak awal menangani kasus 4PM rupanya dalang di balik kasus yang coba dia pecahkan sendiri. Apa itu mungkin? Misteri tersebut sengaja disimpan oleh penulis dan akan terkuak menjelang ending

Buku harian Bishop merupakan bagian paling menarik di novel ini. Yang terjadi pada masa lalu Bishop terbilang mengenaskan untuk anak seusianya. Bagaimanapun pembunuh tak bisa langsung membunuh. Selalu ada alasan dan latar belakang di baliknya. Pembunuhan memang tak bisa dibenarkan. Hanya saja sebagai pembaca, kita dibuat mengerti untuk apa Bishop membunuh para korbannya.

Selain alur yang intens, ada kejutan tak terduga yang menanti. Misalnya saja pengkhianatan yang dilakukan pihak yang tak terduga, dan jebakan yang disusun Bishop atas aksinya. Akhir ceritanya pun begitu berkesan. Kalau di buku pertama Porter dibuat tak berdaya atas kematian istrinya, akhirnya terkuak dalang di baliknya. Tentu saja penulis mengakhirinya dengan dramatis layaknya adegan dalam sebuah film.

Sebagai penutup seri The Fourth Monkey, tak berlebihan apabila buku ini mendapat rating yang cukup tinggi di Goodreads. Membaca novel ini cukup memicu adrenalin. Label best seller bukan cuma sekadar tempelan semata, tapi dibuktikan dengan kualitas ceritanya yang jempolan. Penulis pun memberi pesan tersirat, bahwa selama ada polisi jahat, maka akan selalu ada polisi baik.

Terakhir, cukup banyak kalimat yang quotable di buku ini. Semuanya dirangkum di bawah ini:

"Aku tidak bisa meninggalkan temanku."

"Tidak, tetapi terkadang mereka yang meninggalkanmu." (hal. 18)

"Aku akan memberitahumu rahasia kecil, Frank. Orang cenderung menurunkan kewaspadaan mereka di dekat polisi bodoh. Kau akan terkejut betapa bermanfaatnya beberapa lelucon dan pakaian kusut." (hal. 68)

"Lupakan matamupenglihatan hanya kekasih penuh penipuansetelah kau memercayai indramu yang lain dengan sama besarnya seperti kau memercayai matamu, baru kau benar-benar belajar untuk melihat." (hal. 161)

"Kecantikan pernah memicu banyak perang, tetapi belum pernah mengakhiri satu pun perang. Kecantikan memiliki rasa tidak seperti yang lain. Itu adalah racun yang paling manis. Kau akan menginginkan lebih bahkan saat kematian merenggut nyawamu." (hal. 215)

"Semua hal ada harganya. Aku tahu apa yang kalian pikirkankalian pikir kita bisa menghidupkan lagi truk ini, dan pergi ke suatu tempat yang lebih baik. Yah, coba tebak, tidak ada tempat yang lebih baik, hanya tempat yang berbeda. Seluruh dunia adalah tangki septik. Yang bisa kalian lakukan hanyalah memilih sudut yang lebih bersih dan menahan baunya selama mungkin, kemudian pindah ke tempat lain." (hal. 266)

Terkadang solusi yang mudah atau yang sudah jelas bukanlah yang terbaik, dan terkadang yang terbaik itu tidak jelas atau mudah. (hal. 315)

"Kenangan itu mengalir, seperti air. Bisa meresap ke celah dinding paling kecil, setetes demi setetes, tetapi tidak pernah hilang sepenuhnya, mereka bertahan di sana, sampai tidak bisa lagi dibendung, kemudian mereka akan mencari pintu, mereka meraih cahaya. Ingatanmu ingin keluar. Kau hanya perlu membiarkannya. Mereka mendesak bagian belakang dinding itu." (hal. 496)

Rating: 5/5 bintang

Mar 10, 2021

Tragedi Apel & Buku Ajaib Jiko

0


REVIEW TRAGEDI APEL & BUKU AJAIB JIKO

Kisah di Balik Pencurian Apel

Judul: Tragedi Apel & Buku Ajaib Jiko
Penulis: Yosep Rustandi
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: I, Juli 2020
Tebal: 160 halaman
ISBN: 978-623-253-002-7
Harga: Rp. 40.000,-

Blurb:

“Buku memberi bantuan kalau kita jujur. Kalau bohong berarti mikir sendiri.”

Alin, bocah lelaki delapan tahun itu terpaksa menjambret. Bukan untuk uang atau pun perhiasan, melainkan ‘hanya’ seplastik apel. Apel import besar beraroma harum, buah yang telah lama diidamkan emaknya. Emak sakit parah dan Alin ingin membahagiakan beliau supaya beliau cepat sembuh.

Akan tetapi, apel hasil jambretan itu justru membuat petaka. Bersama sahabatnya, Jiko si kutu buku, Alin berusaha keluar dari masalah pelik yang datang silih berganti. Ide-ide cemerlang hadir lewat buku 
ajaib Jiko, memberi titik terang pada permasalahan Alin.

Sebuah kisah yang seru, lucu, dan sarat pelajaran. Tak mengherankan jika cerita ini menjadi Pemenang I dalam Kompetisi Menulis Indiva 2019 Kategori Novel Anak. Sangat menginspirasi. Selamat membaca, Kawan!

Review:

Mencuri adalah perbuatan tercela. Tak jarang kita menghakimi pelakunya. Namun, apabila yang dicuri cuma seplastik apel, masihkah kita bersikap menghakimi, tanpa mencari tahu kisah di baliknya?

Seperti itulah gambaran cerita Tragedi Apel & Buku Ajaib Jiko karya Yosep Rustandi. Pencurian apel yang dilakukan Alin rupanya berbuntut panjang. Jiko memang tak ikut mencuri. Namun, dia terpaksa terlibat gara-gara melihat Alin mencuri dan bersama-sama melarikan diri setelah diteriaki maling.

Kisah dalam cerita ini bergulir dengan apik. Situasi yang dialami Alin membuat pembaca merasa simpati. Kemiskinan memang menjadi momok dalam masyarakat kita. Hal itu tertuang dalam kisah hidup Alin. Tak bisa dipungkiri masih ada anak-anak seperti Alin yang harus mencari nafkah untuk bertahan hidup.

Novel ini memperlihatkan dengan jelas efek dari kesenjangan ekonomi. Anak-anak seperti Alin dan Jiko harusnya mencecap pendidikan dengan layak. Sayangnya, keadaan berkata lain. Untunglah masih ada lembaga seperti LSM Sanggar Hati yang peduli. Yasmin, sebagai salah satu relawan, berkontribusi sebagai pengajar di sana. Di sana pula dia berteman akrab dengan Jiko yang hobi membaca buku.

Bisa dibilang konflik dalam cerita ini cenderung simpel dan tak terlalu berat. Pembaca diajak menyelami alasan Alin harus mencuri apel, dan keengganan Yasmin bercerita pada keluarganya kalau dia salah satu relawan di Sanggar Hati. Kedua konflik itu diakhiri dengan baik dan terbilang manis.

Sayangnya, ada satu hal yang luput diperhatikan. Karena buah apel adalah fokus utama, bahkan Alin dan Jiko menamam bibitnya, tak ada info mengenai buah tersebut. Hal ini amat disayangkan. Tak seperti buah lain, apel tak bisa tumbuh di sembarang tempat. Apel cuma bisa tumbuh di dataran tinggi dengan suhu dingin. Memang ada jenis apel yang bisa tumbuh di dataran rendah. Hanya saja hal itu sama sekali tak disinggung. Penulis seperti tak mempertimbangkan untuk memasukkan info tersebut pada ceritanya. Padahal sedikit info tak akan mengurangi eksistensi cerita. Malah akan membuat cerita lebih hidup, sehingga penggunaan apel tak cuma sekadar tempelan belaka.

Meski demikian, buku ini masih memberikan banyak pesan pada pembaca. Dari sosok Alin, kita belajar bagaimana menjadi sosok anak yang tabah. Dari sosok Jiko, kita tahu bahwa buku adalah jendela pengetahuan. Dari sosok Yasmin, kita belajar untuk peduli pada kehidupan kaum papa. Dan, dari sosok Dini yang apelnya dicuri Alin, kita belajar untuk tak lekas menghakimi perilaku buruk orang lain.

Buku ini memang paket lengkap. Muatan ceritanya banyak sekali. Ada juga adegan yang membuat haru. Dengan keistimewaannya, tak heran buku ini menjadi Pemenang I dalam Kompetisi Menulis Indiva 2019 Kategori Novel Anak.

Di buku ini ada pula kutipan-kutipan menarik. Kutipan tersebut dirangkum di bawah ini:

“Alin tidak tahu, Teh. Dia tidak tahu kalau buku memberi tahu kita tentang banyak hal. Semuanya ada di buku. Seluruh pengetahuan dunia ini ada di buku. Begitu kan, Teh Yas?” (hal. 36)

Bahagia yang menyedihkan sebenarnya. Bahagia karena anak delapan tahun itu sudah begitu dewasa. Alin tahu apa yang harus dikerjakannya. Alin tahu di mana tempat ia hidup. Tapi kasihan juga. Anak sekecil itu harus memikul beban yang berat. Mestinya ia bermain dan belajar  sebagaimana anak lain seusianya. (hal. 41)

“Dini, tidak semua anak seperti Jiko! Jangan menyamaratakan mereka seperti itu dong! Kamu pikir semua orang kaya, terpelajar, itu baik? Pencuri besar itu biasanya orang kaya, biasanya terpelajar!” Yasmin akhirnya meledak. (hal. 91)

Tapi sejak itu Alin mulai belajar banyak hal. Semua yang hidup pernah merasakan sehat dan sakit. Nilai hidup tidak ditentukan dari mana kita berasal dan di mana kita mati. Nilai hidup ada dalam proses menjalani. Siapa yang bisa menjalani hidup lebih baik, lebih bijak, lebih berguna, lebih ikhlas, lebih bertakwa, itulah orang-orang yang berbahagia. Begitulah pelajaran yang Alin tangkap, pelajaran yang diberikan emak selama ini. (hal. 157)

Rating: 4/5 bintang

Mar 5, 2021

Ayah, Aku Rindu

0


REVIEW AYAH, AKU RINDU

Kisah di Balik Kematian Sang Ibu

Judul: Ayah, Aku Rindu
Penulis: S. Gegge Mappangewa
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: I, Maret 2020
Tebal: 192 halaman
ISBN: 978-602-495-290-7
Harga: Rp. 45.000,-

Blurb:

Samar-samar kudengar suara ayah. Ya, suara ayah. Suara yang telah lama kurindukan itu terdengar dari ruang tamu. Ada sebuah rasa yang menyusup ke dalam dadaku. Rasa bahagia yang melonjak-lonjak.

Doa itu…?

Doa yang selama ini kupanjatkan dengan menyebut nama ayah di dalamnya, ternyata begitu cepat dikabulkan. Padahal saya pernah pesimistis, toh ayah sendiri yang pernah bilang bahwa tidak semua doa langsung dikabulkan. Butuh penantian. Butuh kesabaran.

Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk kemudian ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan.

Review:

Memiliki orang tua yang lengkap dan harmonis tentu menjadi impian semua anak. Namun, takdir manusia tak bisa ditebak. Kematian bisa saja menghampiri ayah/ibu dan meninggalkan luka yang mendalam. Tentu butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut. Yang menjadi masalah, bagaimana kalau hal itu mengawali terkuaknya misteri kehidupan seseorang?

Seperti itulah gambaran cerita Ayah, Aku Rindu karya S. Gegge Mappangewa. Kematian sang ibu tak hanya membuat Rudi kehilangan sang ibu, tapi juga sang ayah. Ayah Rudi memang masih hidup. Hanya saja kematian istrinya membuat jiwanya terguncang. Rudi enggan mengakui kalau ayahnya mengalami gangguan jiwa. Namun, fakta itu terpampang jelas. Terlebih ayahnya tak segan ingin menghabisi nyawanya, tanpa Rudi tahu apa penyebabnya.

Sebenarnya, apa yang mendasari perilaku ayah Rudi tersebut? Apa pula pemicunya? Novel ini memang memiliki premis yang menarik. Balutan misteri atas sikap ayah Rudi membuat pembaca penasaran untuk mencari tahu rahasia apa yang tersembunyi. Rupanya rahasia itu berhubungan dengan masa lalu sang ibu. Ketika rahasia itu terkuak, pembaca jadi ikut merasa simpati atas apa yang terjadi pada Rudi dan ibunya.

Memiliki orang tua yang mengalami gangguan jiwa akibat depresi memang tak mudah. Rudi yang masih remaja kesulitan menerima kondisi tersebut. Apalagi orang terdekatnya terus mendesak agar ayah Rudi dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Rudi baru saja kehilangan ibunya. Ketika berpikir dia akan kehilangan ayahnya, hal itu memberinya konflik batin yang cukup berat. 

Bisa dibilang cerita dalam novel ini cukup mengalir. Hanya saja ada satu kelemahan yang tampak jelas. Penggunaan kata ‘saya’ dan -ku untuk menunjukkan milik terasa amat mengganggu. Alangkah baiknya menggunakan kata ‘aku’ saja agar pembaca merasa nyaman saat membaca.

Meski ada kelemahan, novel ini menawarkan banyak potensi. Muatan ceritanya cukup kompleks. Unsur lokalitasnya juga begitu kental dengan sisipan legenda mengenai Nenek Mallomo. Untuk ukuran novel setebal 192 halaman yang bisa dibaca sekali duduk, penulis cukup piawai memainkan plot. Terlebih ada twist yang disiapkan begitu mendekati akhir cerita.

Melihat keistimewaannya, novel ini sangat layak menyabet gelar juara 1 Kompetisi Menulis Indiva 2019. Dari kisah Rudi, Pak Sadli, dan Nabil, pembaca bisa belajar bagaimana seorang anak menyikapi perbuatan ayahnya. Terlebih ketika sang ayah bukan sosok ideal yang diimpikan. 

Novel ini bertabur banyak kalimat indah yang bisa dijadikan kutipan yang menarik. Semuanya dirangkum di bawah ini:

Ibu yang telah meninggal, perlahan-lahan memang bisa kulupakan. Namun, ayah yang tiap hari harus kuhadapi dengan kesabaran penuh, tak akan bisa beranjak dari pikiranku. (hal. 26)

“Jika kalian ingin cerdas, jujurlah! Karena kejujuran adalah kecerdasan yang sudah mulai langka. Ingat, kejujuran bukan gunung batu! Kejujuran bisa diperbarui! Mulailah!” (hal. 32)

Andai saya bisa seperti Nabil, yang hanya dengan bercerita, lukanya seperti terembus angin sepoi, mungkin saya tak seterpuruk sekarang ini. Harusnya saya banyak dari Nabil tentang manajemen luka, belajar tentang sabar, dan banyak lagi yang harus saya pelajari darinya, kecuali dalam hal mendapatkan cinta. (hal. 37)

“Jika masalah harus dihargai dengan air mata, suatu saat orang tak akan percaya lagi dengan tangis kita.” (hal. 54)

“Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan. Ayahku memang meninggal belum setahun, tapi saya kehilangan sosoknya sejak saya lahir.” (hal. 60)

Kutanyakan padamu, adakah hati yang tak teriris melihat pemandangan serupa itu terjadi pada ayahnya? Ayah yang dulu bersamamu mencipta kenangan manis, ayah yang dulu pernah memberimu tawa, kini serupa tahanan yang meminta belas kasihan. (hal. 93)

Sesal tak pernah datang tepat waktu. Sesal selalu menunggu semua  tak bisa lagi terulang kembali, lalu datang mengetuk pintu untuk memberi kabar bahwa semua tak ada artinya lagi. (hal. 95)

“Allah sebaik-baik penolong dan tempat meminta, Rud! Setahun, dua tahun, itu ukuran dokter. Allah bisa mengubah segalanya lewat doa-doa kamu, Rud! Tentu saja sambil menguji kesabaranmu.” (hal. 123)

“Melupakan tak selamanya berarti pengkhiatan, Rud! Kamu memang harus tetap mengingat ayahmu dalam doa.” (hal. 126)

Rating: 4/5 bintang

Dec 29, 2020

Resonance

0


REVIEW RESONANCE
 
Takdir Dua Insan 

Judul: Resonance 
Penulis: Morra Quatro 
Link: Storial.Co 
Kategori: Novel
 
Blurb: 

Thomas dan Aurora adalah sepasang "crush" masa kecil yang saling menemukan kembali setelah dewasa. Keduanya bermain dengan takdir, sebab: "Hidup hanyalah rangkaian kebetulan yang sebenarnya kita ciptakan sendiri. Tidak ada yang namanya takdir." Begitu Rora diperingatkan.

Sedangkan Tommy percaya, tanpa dukungan semesta, tidak akan ada kebetulan begitu persis yang mempertemukan mereka kembali. Sementara beban masa lalu keduanya terus mengikuti, menolak untuk dilupakan.

Review:

First love lies deep. Pepatah itu cukup sering kita dengar. Bagi beberapa orang, cinta pertama bisa saja tak terlupakan. Cinta pertama bisa saja membekas dalam ingatan dan terbawa hingga dewasa. Ada pula yang memaknainya secara melankolis, terutama saat cinta pertamanya tak terbalas dan belum tuntas. Bagi beberapa penulis, cinta pertama cukup sering dijadikan tema pada kisah yang ditulisnya. Cinta pertama memang memiliki magnet tersendiri. Terutama bagi pembaca yang menyukai cerita romantis. 

Morra Quatro memaknai cinta pertama dengan begitu syahdu dalam kisahnya yang berjudul Resonance. Resonance merupakan salah satu bab premium di Storial.Co. Dengan membayar 200 koin, siapa pun bisa membaca cerita ini. Tapi, perlu digarisbawahi cerita ini cukup mengandung ‘bawang’. Itu berarti persiapkan diri Anda untuk terbawa perasaan begitu mengikuti perjalanan cinta Thomas Alva (Tommy) dan Aurora Fatima (Rora) selaku tokoh utama.

Kisah Resonance diawali dengan sebuah pemakaman seorang pria tua bernama Dinar. Dinar adalah salah satu pasien Tommy. Tommy sempat melakukan operasi pada Dinar sebelumnya. Operasi itu berjalan dengan baik. Sayangnya, perkembangannya tak terlalu bagus. Pada akhirnya, nyawa Dinar pun tak tertolong, yang membuat segenap keluarga Dinar berduka atas kepergiannya.

Lalu, apa hubungan Dinar dengan kisah cinta Tommy dan Rora? Misteri itu disimpan dengan baik oleh penulis. Alih-alih memberi clue, penulis sengaja membiarkan misteri itu mengambang di udara dan membuat pembaca menaruh fokus pada pertemuan Tommy dan Rora yang serupa takdir. Tommy dan Rora terpisah waktu cukup lama. Saat di Bali-lah mereka akhirnya bertemu, yang membuat Tommy merasa inilah kesempatannya untuk mendapatkan kembali cinta sejatinya.

Ada keterhubungan nyata yang penulis berikan pada tokoh Tommy dan Rora. Mereka sama-sama memiliki tato tujuh burung camar pada lengan, yang melingkar di bawah siku dan beterbangan hingga punggung tangan. Ada kisah manis yang melatarbelakangi kisah di balik pembuatan tato tersebut, yang membuat pembaca merasa ada jalinan takdir pada hidup Tommy dan Rora.  

Kisah ini menggunakan alur maju-mundur. Flashback waktu Tommy dan Rora saat masih sekolah terbilang cukup manis. Chemistry di antara keduanya begitu terasa. Pembaca dibuat tersenyum menyaksikan interaksi keduanya. Sayangnya, masa lalu mereka cukup runyam, sehingga alih-alih bisa bersama, semesta seolah ikut andil membentuk kesalahpahaman yang tak berujung di antara keduanya.

Bisa dibilang kesalahpahaman inilah yang sama-sama dibawa Tommy dan Rora hingga dewasa. Ada permasalahan yang belum tuntas pada masa lalu mereka. Mereka memang menjalani hidup masing-masing. Anehnya, mereka seperti 'terikat' pada satu sama lain. Bisa dibilang mereka 'terikat' pada kenangan di masa lalu dan sama-sama saling mendamba. Sungguh hubungan yang romantis, meski tampak pedih. Bagaimanapun ada kejutan lain yang diberikan penulis untuk kisah cinta Tommy dan Rora, yang masih berhubungan dengan kehadiran Dinar.

Morra Quatro memberi kesan nyaman pada tulisannya, dengan diksi yang manis dan puitis. Cukup banyak kalimat yang quotable pada Resonance yang dapat dibaca di sini. Membacanya sungguh membuat terenyuh. Karena Tommy adalah seorang dokter, deskripsi saat operasi pun terlihat nyata dengan berbagai penyebutan istilah di bidang kedokteran. 

Membaca Resonance sangat mengaduk perasaan, terutama apabila Anda pernah mengalami cinta di masa lalu yang belum tuntas. Meski begitu, ada pesan tersirat yang ingin disampaikan penulis. Bagaimanapun masa lalu letaknya di belakang. Alangkah baiknya kita melangkah maju ke depan dan tak perlu lagi menengok ke belakang:

Tak perlu melihat lagi kepada masa lalu yang telah kutinggalkan. Tak perlu melihat kepada masa lalunya, karena yang kami miliki adalah hari ini 

Yang aku butuhkan sekarang hanyalah hari ini.

Rating: 4/5 bintang

#ReviewNovelStorial #GenerasiBacaOnline

Dec 23, 2020

Losmen Angkara

0


REVIEW LOSMEN ANGKARA
 
Rahasia Berdarah di Sebuah Losmen 

Judul: Losmen Angkara 
Penulis: Eve Shi 
Link: Storial.Co 
Kategori: Horor
 
Blurb: 

"Kamu masih kebal hantu?" 

Izarra mendapat tawaran pekerjaan sebagai pegawai losmen. Syaratnya satu: tahan dengan gangguan makhluk halus. Dia menyanggupi dan tinggal di losmen bernama Tawang Permai. Tak lama dia sadar bahwa penghuni halus di Tawang Permai bukan saja mengusik, tapi juga mengancam nyawa manusia.

- Juara 1 Kompetisi Novela Urban Legend Storial 2020

Review:

Izarra mendapat tawaran pekerjaan dari Delia sebagai pegawai losmen. Syaratnya mudah, yaitu dia harus tahan dengan gangguan makhluk halus. Memiliki kepekaan terhadap makhluk halus dan bisa melihat keberadaan mereka, membuat Delia menawarkan pekerjaan itu pada Izarra. Terlebih Izarra baru saja lulus D3 dan belum mendapat pekerjaan.

Akhirnya, Izarra menerima tawaran Delia dan resmi menjadi pegawai losmen Tawang Permai. Tawang Permai merupakan losmen di kawasan kota Malang yang memiliki lukisan angker. Konon pada tengah malam terdengar suara tangis dari dalam lukisan itu. 

Apakah lukisan itu yang membuat losmen Tawang Permai berhantu? Sayangnya, bukan. Selama bertahun-tahun, meski memiliki lukisan yang konon katanya angker, losmen Tawang Permai banyak didatangi pengunjung yang ingin berlibur di kota Malang. Gangguan mistis itu terjadi selama setahun terakhir. Meski sudah didatangkan "orang pintar", tapi gangguan mistis itu tak juga hilang.

Begitu tinggal di losmen, Izarra mendeteksi beberapa makhluk halus penghuni losmen. Saat Lunos, keponakan Bu Triya datang berkunjung, Izarra jadi terseret rahasia kelam keluarga Bu Triya selaku pemilik losmen. Rahasia kelam itu melibatkan putra, menantu, dan cucunya yang sudah meninggal. Gudang di lantai tiga losmenlah yang membuka tabir rahasia tersebut.

Izarra dan Lunos berusaha memecahkan misteri yang menyelubungi losmen. Saat itulah, muncul Gabrian, teman Izarra yang datang untuk menginap di sana. Gabrian terobsesi pada Izarra. Izarra sendiri tak suka berteman dengan Gabrian. Hal itu membuat Gabrian sakit hati dengan sikap Izarra padanya.

Pada akhirnya, misteri losmen pun terkuak. Sayangnya, ada misteri lain yang menjadi tanda tanya besar. Yaitu mengenai Gabrian yang mati dengan benda tajam mengiris lehernya. 

***

Beberapa waktu lalu, Storial.Co mengadakan Kompetisi Menulis Cerita Urban Legend. Urban legend adalah mitos atau legenda kotemporer yang disebarkan dari mulut ke mulut dan dipercaya masyarakat sebagai kebenaran. Pada kompetisi ini, juri memilih Losmen Angkara sebagai juara pertama. 

Losmen Angkara menawarkan premis yang menarik, yaitu tentang cowok bernama Izzara yang bisa melihat hantu dan bekerja di losmen berhantu. Namun, bukan itu saja konflik yang disajikan. Izzara juga dilanda masalah pertemanan dengan Gabrian. Izzara tak suka sikap Gabrian yang terlalu self-centered. Berteman dengan Gabrian tak ubahnya seperti tong sampah, gara-gara Gabrian yang suka bercerita tentang dirinya sendiri. Izzara merasa tak ada timbal balik layaknya teman dari Gabrian. 

Dua konflik inilah yang mewarnai sepanjang kisah Losmen Angkara. Pembaca dibuat merinding saat makhluk halus yang menghuni losmen menampakkan diri dan membuat para tamu tak betah tinggal di losmen. Pembaca juga dibuat geregetan dengan tingkah Gabrian. Untunglah kehadiran Lunos membawa angin segar pada kisah ini. Lunos cowok yang riang dan ramah. Izzara yang sedikit tertutup, sedikit membuka diri setelah bertemu Lunos.

Eksekusi cerita ini terbilang apik, terlihat dari plotnya yang terjalin rapi. Misteri losmen yang tiba-tiba jadi berhantu pun dijelaskan dengan baik. Lukisan yang konon berhantu juga menjadi pion penggerak cerita, sehingga menciptakan ending yang menarik. Apabila familier dengan istilah callback pada Stand Up Comedy, penulis menerapkannya pada Losmen Angkara, sehingga cerita yang ditulisnya terasa bulat dan utuh.

Nyaris tak ada kekurangan yang berarti pada cerita ini. Kalau pun ada, mungkin ketika Lunos dan Izzara membicarakan perihal nama mereka. Tak ada penjelasan mengenai bahasa Esperanto dan Basque yang sempat mereka singgung. Padahal bisa jadi informasi yang menarik andai penulis mau membagi kisah mengenai arti nama mereka.

Ada beberapa kalimat yang quotable di cerita ini. Di antaranya sebagai berikut:

"Justru diam melulu yang bikin sakit. Luka kadang harus disayat dikit, supaya nanahnya keluar dan kita bisa sembuh."

"Tapi aku nggak wajib ikut kamu ke mana-mana dan nampung curhat kamu. Sementara kamu nggak ngelakuin sebaliknya. Komunikasi itu dua arah, bukan sepihak."

Kadang, alih-alih menyayangi, orang menaruh kepercayaan pada kita. Dan itu sama berharganya, sebab kepercayaan sukar didapat.

Teman saling berterus terang pada satu sama lain. Itulah yang tersirat dari kata-kata Luno. Bagiku dia teman dan aku bersedia berterus terang padanya—kecuali tentang satu hal.

Rating: 5/5 bintang

***

Dilihat dari segala aspek, Losmen Angkara sangat layak dijadikan juara pertama Kompetisi Cerita Urband Legend. Sayangnya, cerita ini tak bisa dibaca secara gratis, karena termasuk bab premium di Storial.Co. Apa itu bab premium? Bab premium adalah cerita-cerita di Storial.Co yang sudah diakurasi oleh editor, sehingga kualitas ceritanya terjamin. Untuk membacanya dibutuhkan Storial Coin yang dapat dibeli menggunakan pulsa, Go-Pay, OVO, Dana, dan LinkAja.  

Cukup banyak bab premium di Storial.Co. Harganya pun sangat variatif. Untuk Losmen Angkara, dibutuhkan 250 koin saja. Harganya tergolong murah, mengingat ceritanya yang bagus.  

Tapi, bagaimana kalau sedang tak bisa top-up Storial Coin? Tenang saja. Masih banyak cerita bagus, meski bukan premium. Di blog ini pernah me-review beberapa cerita di Storial.Co. Untuk selengkapnya bisa dibaca di sini. Rasanya ada kepuasan tersendiri apabila tanpa sengaja menemukan cerita bagus di Storial.Co. Namun, untuk mendukung penulis lokal, diharapkan banyak yang mau mengakses bab premium. Di tengah lesunya industri perbukuan, menulis di ranah platform seperti Storial.Co dapat dijadikan alternatif bagi penulis agar bisa terus berkarya.

#ReviewNovelStorial #GenerasiBacaOnline

Dec 22, 2020

Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982

0


REVIEW KIM JI-YEONG, LAHIR TAHUN 1982

Judul: Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982
Penulis: Cho Nam-joo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2019
Tebal: 192 halaman
ISBN: 978-602-06-36-191

Blurb:

Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.

Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.

Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.

Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.

Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.

Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.

Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.

Review:

Ada perbedaan perlakuan yang diterima laki-laki dan perempuan dalam struktur sosial. Bak strata, perempuan kerap ditempatkan di kelas kedua. Meski laki-laki dan perempuan mempunyai kualifikasi yang sama, terlahir sebagai laki-laki memberi keuntungan tersendiri. Terlebih pada masyarakat Korea yang masih menjunjung tinggi budaya patriarki. 

Potret budaya patriarki yang kental tampak jelas pada novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982. Kim Ji-yeong adalah perempuan berusia 34 tahun. Dia seorang istri dan ibu yang mengalami depresi pascamelahirkan yang berubah menjadi depresi pengasuhan anak (halaman 169). Namun, saat melakukan konseling, diagnosisnya ternyata tak sedangkal itu. Diceritakan secara flashback, novel ini mengisahkan kehidupan Kim Ji-yeong dari masa kecil, remaja, kuliah, menikah, sampai memiliki anak.

Novel ini cukup tipis dan bisa dibaca sekali duduk. Meski demikian, muatan isinya akan menampar siapa pun yang membacanya. Sebagai penulis, Cho Nam-joo terang-terangan memasukkan unsur feminisme lewat narasi dan dialog, beserta catatan kaki yang relevan. Pembaca dibuat mengerti situasi dan kondisi Kim Ji-yeong. Juga bagaimana tuntutan demi tuntutan mengakibatkan gangguan mental pada diri Kim Ji-yeong. 

Terlahir sebagai perempuan di Korea memang tak seindah yang dibayangkan. Kim Ji-yeong memiliki satu kakak perempuan dan satu adik laki-laki. Seharusnya orang tua memperlakukan anak-anak mereka sama baik, adil, dan tak pilih kasih. Namun, tak demikian dengan keluarga di Korea. Anak laki-laki kerap diperlakukan khusus. Mereka juga mendapat jatah lebih dari anak perempuan. Praktik semacam ini begitu lumrah dan mendarah daging. Hal ini amat miris, mengingat laki-laki dan perempuan sudah sepatutnya mendapat hak pengasuhan yang sama dari orang tua mereka.

Pada kasus lain, dalam sebuah keluarga anak perempuan bisa saja dijadikan “tumbal” untuk menyokong pendidikan anak laki-laki. Masa itu adalah masa ketika anak laki-laki dianggap sebagai seseorang yang harus menjadi tulang punggung keluarga, dan anak laki-laki adalah inti dari kesuksesan dan kebahagiaan keluarga (halaman 33). Alhasil, anak perempuan Korea bekerja banting tulang untuk membiayai saudara laki-laki mereka. Ketika anak laki-laki ini sukses, tak ada apresiasi untuk anak perempuan. Hal inilah yang dialami ibu Kim Ji-yeong. Cukup menyedihkan melihat ibu Kim Ji-yeong mengorbankan masa depannya demi kepentingan anak laki-laki dalam keluarganya sendiri.

Tentu tak mudah memutus diskriminasi gender dalam budaya patriarki. Terlebih di Korea, ketidakberpihakan selalu dialami perempuan. Misalnya saja ketika Kim Ji-yeong dikuntit laki-laki teman lesnya. Alih-alih membela putrinya sendiri, ayah Kim Ji-yeong malah memarahi Kim Ji-yeong. Budaya patriarkilah yang menyebabkan hal ini terjadi. Bahwa perempuan dianggap bertanggung jawab atas pelecehan yang mereka alami. Kalau ia sampai tidak sadar dan tidak menghindar, maka ia sendiri yang salah (halaman 66). Meski laki-laki adalah pelaku, tetapi penghakiman selalu diberikan pada pihak perempuan. Apakah ini adil? Tentu tidak. Pada akhirnya, perempuan dipaksa mengikuti aturan tak tertulis itu. Perempuan harus berhati-hati, berbaju sopan, dan bersikap pantas. Kalau tidak, tanggung sendiri akibatnya.

Ekosistem para pekerja di Korea pun tak tak berpihak pada perempuan. Meski laki-laki dan perempuan memiliki kapabilitas yang sama, tetapi peluang laki-laki lebih besar. Gajinya pun lebih banyak. Apabila perusahaan meminta rekomendasi dari pihak fakultas atau dosen, yang direkomendasikan selalu adalah laki-laki (halaman 95). Pihak perusahaan beralasan laki-laki (terutama yang sudah wajib militer) memberi kesan bagus bagi perusahaan. Apakah ini adil? Sekali lagi, tidak. Ketika patriarki sudah merambah sistem, sulit bagi perempuan untuk mengembangkan potensi dengan “harga” sama seperti yang didapat laki-laki.

Membaca novel ini seperti menguliti kehidupan kebanyakan perempuan. Ketika lajang, perempuan disuruh menikah. Ketika sudah menikah, perempuan disuruh punya anak. Kalau tak segera punya anak, perempuan yang lagi-lagi disalahkan. Seperti itulah yang dialami Kim Ji-yeong. Menikah dengan pria yang dicintai tak berarti kehidupan berhenti. Menikah hanya membuka gerbang masalah baru, dengan solusi yang (sayangnya) tak berpihak pada Kim Ji-yeong.

Melahirkan dan menjadi ibu memang kodrat perempuan. Sayangnya bagi Kim Ji-yeong, menjadi ibu berarti kebebasannya sebagai perempuan direnggut paksa. Ketika hamil, orang-orang akan menunjukkan ekspresi terganggu gara-gara kehadirannya. Karena memiliki bayi, dia harus berhenti bekerja. Kim Ji-yeong yang suka bekerja dan menghasilkan uang sendiri, tentu merasa kehilangan. Ditambah omongan pedas orang-orang, membuat mental Kim Ji-yeong terguncang. Hal inilah pencetus utama depresi yang dialami oleh Kim Ji-yeong.

Tak bisa dipungkiri, Kim Ji-yeong adalah refleksi perempuan di era modern. Sayangnya, kepedulian terhadap mental para ibu masih tergolong rendah. Seringnya, lingkunganlah yang membebani pikiran para ibu. Para ibu selalu dituntut menjadi perempuan sempurna, tanpa cela, tanpa mengeluh, bertanggung jawab, serta mampu mengurus keluarga dengan baik. Bagaimanapun, perempuan hanya manusia biasa. Ketika tak bisa membantu, bersimpati saja cukup. Tak usahlah membebani pikiran para ibu dengan ucapan pedas yang mendiskriminasikan keberadaan mereka.

Buku ini memang cuma setebal 192 halaman. Namun, isinya begitu merasuk dan membuka kacamata pembaca mengenai diskriminasi gender, serta implikasinya pada kehidupan bermasyarakat di Korea. Salut pada Penerbit Gramedia Pustaka Utama yang telah menerbitkan novel ini. Dengan terjemahan yang nyaman dibaca dan kover yang menarik, buku ini sangat layak dikoleksi. 

Perjuangan para feminis menuntut kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan masih jauh dari sempurna. Meski demikian, kampanye feminisme masih terus dilakukan. Fiksi bisa dijadikan media yang tepat. Membaca Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah salah satu cara untuk menggugah kesadaran masyarakat mengenai feminisme.

Akhir kata, bagi perempuan di luar sana, kalian bukanlah jongos patriarki. Kalian berharga dan layak mendapat kesempatan, serta pilihan sama banyaknya seperti yang didapat laki-laki.

Rating: 4/5 bintang

Apr 18, 2020

Ephemera

1


REVIEW EPHEMERA

Judul: Ephemera
Penulis: Akaigita
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2020
Tebal: 296 halaman
ISBN: 978-602-06-03654-09

Blurb:

Rumah di tepi rawa itu menyimpan bahaya. Dari kucing-kucing yang menghilang tanpa jejak, kerisik aneh di langit-langit pada malam hari, hingga takhayul keberadaan makhluk setinggi pohon kelapa yang menjaga tanah ini.

Suatu hari, Venus—anak perempuan penghuni rumah—terjatuh ke sumur dan koma. Saat dia siuman, dia mengaku terpeleset karena kaget melihat ular besar di sana. Tapi benarkah pengakuannya itu?

Lantas mengapa Adam, sahabat karib Venus, dikucilkan dan dituduh mendorong gadis itu ke sumur? Mengapa pula Luna, adik Venus yang serbatahu malah diam seribu bahasa?

Rumah di tepi rawa itu tak hanya menyimpan bahaya, tetapi juga rahasia gelap yang tak boleh menyebar.

Review:

Venus mengalami koma setelah jatuh ke dalam sumur. Akibatnya, memori Venus sedikit terganggu. Sebenarnya, tak ada masalah dengan hal itu. Tapi, hal-hal aneh mulai terjadi. Sahabatnya Adam mulai menjaga jarak darinya. Ibunya yang tak suka kucing mendadak mengijinkan Venus memelihara kucing. Venus sadar ada yang tak beres. Sayangnya, dia tak mengerti duduk persoalannya. Alhasil, dia dibingungkan dengan tingkah laku orang-orang di sekitarnya.

Lambat laun, keadaan jadi tak kondusif. Puncaknya waktu Venus dan adiknya Luna bertengkar di sekolah. Sementara itu, Adam diam-diam sering menemui Luna. Padahal dia dilarang berhubungan dengan keluarga Venus. Adam melakukannya karena simpati pada Luna. Gara-gara sering bersama, perlahan Adam memiliki perasaan pada gadis itu.

Makin lama, keadaan makin tak terkendali. Mana yang benar dan salah jadi berbaur. Yang lebih penting, benarkah ada ular besar di rawa, penyebab Venus jatuh ke dalam sumur? Jawabannya tak terduga. Karena seiring terkuaknya misteri itu, misteri lain pun ikut terungkap kebenarannya. 

***

Setelah menerbitkan Enigma Pasha, Akaigita kembali menelurkan karya terbarunya yang berjudul Ephemera. Judulnya begitu unik. Kovernya pun sangat menarik mata. Ephemera sendiri dapat diartikan sesuatu yang tidak kekal. Sungguh permulaan yang bagus untuk memikat pembaca.

Buku ini berkisar pada orang-orang yang tinggal di sekitar rawa. Tak dijelaskan di mana lokasi persisnya. Penulis sengaja menggambarkannya secara awam. Pembaca hanya mengetahui detail-detailnya, sehingga dapat membayangkan seperti apa rawa tersebut, juga orang-orang yang tinggal di sana.

Cerita dalam buku ini bergulir secara apik. Rangkaian misterinya pun membuat pembaca bertanya-tanya. Namun, mendekati penyelesaian masalah, entah kenapa terkesan terburu-buru. Penggunaan dua sudut pandang (orang pertama untuk Venus-Herman, dan orang ketiga untuk Adam-Luna) sedikit tak nyaman. Lebih baik menggunakan sudut pandang orang ketiga saja, sehingga fokus pembaca lebih terjaga.

Buku ini diberi label Young Adult, yang mana ceritanya sedikit lebih berat dibanding teenlit, meski tokohnya kebanyakan remaja. Hal ini wajar mengingat tokoh Luna yang bisa dibilang 'sakit'. Luna dikisahkan masih kelas 1 SMP. Untuk remaja seusia itu, agak aneh melihat dia berani melakukan self harm. Buku ini kesan psikologisnya memang kental. Hanya saja dengan jumlah halaman yang sedikit dan pembahasan yang begitu banyak, jadi kurang tereksplor. Padahal buku ini sangat menjanjikan. Terlebih ceritanya pun beda dengan yang lain.

Penulis sedikit menyinggung alasan pemilihan kata Ephemera sebagai judul. Tokoh Adam pun menyinggung tentang ephemera:

Namun, bagi Adam, seleberan itu adalah harta karun. Ia gemar menyimpan berbagai ephemera semacam perangko, struk belanja, atau pos mading yang sudah basi (hlm. 81)

Anehnya, tak ada keterkaitan antara judul dengan cerita dalam buku ini. Bahkan penjelasan mengenai Adam yang gemar mengumpulkan ephemera hanya sebatas trivia, sama sekali tak menjadi penggerak cerita yang umumnya ada pada kisah misteri. Hal ini amat disayangkan. Bagaimanapun pemilihan judul haruslah melingkupi isi cerita. Rasanya seperti penulis memilih judul itu hanya karena unik, sama sekali tak mempertimbangkan isi ceritanya. Hal ini mengingatkan pada novel karya Annisa Insani yang berjudul A Hole in The Head. Sekilas, judulnya terlihat spektakuler. Padahal ceritanya hanya berkutat pada misteri sebuah penginapan tua.

Terlepas dari hal-hal yang disebutkan di atas, buku ini memiliki cerita yang unik. Apabila menyukai kisah berbalut misteri, buku ini bisa dijadikan pilihan bacaan Anda. Selamat membaca!

Rating: 3/5 bintang

Apr 14, 2020

The Fifth to Die

0



REVIEW THE FIFTH TO DIE

Judul: The Fifth to Die
Penulis: J.D. Barker
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: I, 2019
Tebal: 741 halaman
ISBN: 978-623-216-092-7

Blurb:

Seorang gadis yang telah menghilang selama tiga minggu ditemukan tewas di bawah permukaan laguna beku. Pertanyaannya, bagaimana dia bisa berada di situ sementara laguna itu membeku berbulan-bulan lalu? Lebih membingungkan lagi, gadis itu ternyata mengenakan pakaian gadis lain, yang menghilang dua hari yang lalu. Nahasnya, selama masa penyelidikan, para ayah korban juga tewas dengan dugaan dibunuh.

Selagi detektif lain mencoba memahami kasus tersebut, Detektif Porter diam-diam melanjutkan pengejaran Pembunuh Empat Monyet. Hingga pada satu titik, ia menyadari, yang lebih menakutkan daripada pikiran seorang pembunuh berantai adalah pikiran ibu sang pembunuh...

Review:

Kembali terjadi pembunuhan yang menggemparkan. Polisi menemukan jasad Ella Reynolds di bawah permukaan laguna yang membeku. Yang membingungkan, Ella Reynolds memakai pakaian Lili Davies. Padahal Lili Davies dikabarkan menghilang dua hari sebelumnya. Semua orang segera beranggapan dalang di balik pembunuhan itu adalah Anson Bishop—Pembunuh Empat Monyet. 

Porter dan timnya ditugasi untuk menguak misteri pembunuhan itu. Porter beranggapan ada pembunuh lain, melihat modus operandinya yang berbeda. Sayangnya, Porter dilarang melanjutkan penyelidikan. Dia ketahuan menyembunyikan barang bukti pada kasus sebelumnya. Akibatnya, pekerjaannya harus ditangguhkan untuk sementara waktu.

Tak ada yang tahu Porter terpaksa menyembunyikan barang bukti gara-gara dihantui pesan terakhir Bishop. Bishop memang memintanya mencari keberadaan sang ibu. Berbekal foto dan buku harian Bishop, Porter pergi ke penjara tempat ibu Porter dikurung. Seorang pengacara bernama Sarah Werner ikut bersamanya. Seiring perjalanan, mereka cukup dekat, sehingga Porter nyaman menceritakan kisah hidupnya. 

Selama Porter menyelidiki ibu Bishop, pembunuhan lain terus terjadi. Para penyidik pun berusaha mencari keterkaitan kematian para korban. Ketika kebenaran mulai terkuak, ternyata masih ada misteri lain yang menyelimuti. Dan, itu melibatkan masa lalu Bishop dan orang-orang terdekatnya dulu.

***

Sebagai sekuel The Fourth Monkey, The Fifth to Die masih diwarnai adegan yang membuat pembaca bergidik ngeri. Misalnya saja adegan penyiksaan dalam tangki ketidakberdayaan. Tangki ketidakberdayaan populer di tahun lima puluhan. Pada tangki tersebut dimasukkan air asin yang dipanaskan sampai suhu 35 derajat Celcius, sesuai dengan suhu tubuh manusia. Seharusnya berada dalam tangki tersebut membawa ketenangan—seperti ajaran Zen. Namun, oleh sang pembunuh tangki tersebut digunakan sebagai alat percobaan, yang membuat korbannya tewas karena tenggelam.

Dalam buku ini, pembaca dibuat menebak-nebak sosok sang pembunuh. Nyaris tak ada clue mengenai dirinya. Fokus cerita pun terpecah menjadi dua: pencarian lokasi sang pembunuh dan usaha Porter menguak masa lalu Bishop. Hal ini membuat intens cerita agak menurun, tak seperti buku pertamanya. Pembaca juga mesti bersabar menunggu keterkaitan pembunuh dan Bishop. Baru menjelang ending segalanya terkuak. Kejutan kembali diberikan penulis, yang membuat pembaca tak sabar menanti kelanjutan buku ini.

Meski dari segi cerita sangat menarik, sayangnya buku ini banyak sekali typo. Terlihat sekali naskah tak dibaca secara teliti. Bahkan tak jarang ada typo nama yang sangat mengganggu. Diharapkan di buku selanjutnya hal tersebut diminimalkan. Peran editor sangat besar di sini untuk memeriksa naskah sebelum diterbitkan.

Overall, buku ini bisa dijadikan pilihan bagi siapa pun yang menyukai novel dengan genre thriller. Buku ini memang cukup tebal, tapi alurnya yang cepat tak akan membuat bosan. Ada pula beberapa kalimat yang quotable. Kalimat-kalimat tersebut dapat dibaca di bawah ini:

Terkadang mengingat hal yang buruk merupakan hal yang bagus. Membuat yang lain terlihat tidak terlalu buruk. (hal. 157)

Jangan takut pada mereka yang membunuh jasad, tapi tidak mampu membunuh jiwa, tapi takutlah  padanya yang mampu menghancurkan jiwa dan jasad di neraka. (hal. 341)

Aku tidak tahu bagaimana dia masih bisa bertahan sampai sekarang. Mereka mengeluarkan banyak sekali otaknya, dia bisa menjadi politisi. (hal. 698)

Rating: 4/5 bintang

Jun 10, 2019

Problematika Uang Kuliah dan Bagaimana Mengatasinya dengan Cara Menjual Jin

1


REVIEW PROBLEMATIKA UANG KULIAH DAN BAGAIMANA MENGATASINYA DENGAN CARA MENJUAL JIN

Judul: Problematika Uang Kuliah dan Bagaimana Mengatasinya dengan Cara Menjual Jin
Penulis: Octa
Link: Storial.co

Blurb:

Setidaknya Sheila punya tiga kesalahan menurut Ibu:
1. Menculik jin milik tetangga;
2. Menjualnya di pasar daring;
3. Menggunakan uang hasil penjualannya untuk membayar uang kuliah.

Tapi, Sheila punya tiga pembelaan:
1. Dia baru tahu kalau keluarga mereka miskin;
2. Mereka tidak bisa membayar uang kuliah Sheila;
3. Menculik dan menjual jin tidak bisa dipidanakan—hanya bisa dihukum.

Ibu pun menghukum Sheila: Membuat laporan semua yang dia lakukan dengan jujur dan apa-adanya. Buku ini adalah laporan Sheila.

Review:

Absurd sekaligus tidak biasa. Seperti itulah kesan awal saat membaca judul yang sekilas mirip judul skripsi ini—Problematika Uang Kuliah dan Bagaimana Mengatasinya dengan Cara Menjual Jin. Alhasil, siapa pun pasti tergelitik. Apa mungkin menjual jin untuk membayar uang kuliah? Belum selesai keabsurdan di bagian judul, isi blurb-nya tak kalah mengundang tanya. Sang tokoh utama Sheila dihukum untuk menulis laporan. Laporan? Fiksi berbentuk laporan? Seperti apa bentuknya? Pertanyaan tersebut tentu memancing keingintahuan pembaca untuk membaca lebih lanjut—yang tentunya membuat cerita ini mendapat nilai plus hanya dari judul dan blurb.

Octa, sebagai penulis cerita ini mengawali kisahnya dengan membahas sampul. Layaknya laporan, penulis perlu sekali menjelaskan desain sampulnya yang biasa-biasa saja dikarenakan tinta printer-nya habis. Meski tampak konyol, namun penulis menuliskannya secara menarik dan sistematis. Misalnya seperti pembelaan desain sampulnya yang mirip buku The Subtle Art of Not Giving A F*ck karya Manson dan pemilihan judul yang mau tidak mau sepanjang itu. Tak bisa dipungkiri, cara ini begitu menggugah. Siapa pun pasti penasaran dan ingin terus membaca untuk mencari tahu apa yang akan diceritakan Sheila selanjutnya.

Membaca cerita ini layaknya membaca buku harian. Dengan gaya menulis yang asyik khas novel terjemahan, pembaca diajak mengikuti awal mulai Sheila berniat menjual jin. Dibantu Rangga—sahabat Sheila—mereka memanfaatkan desas-desus mengenai jin yang tinggal di pohon kecapi, plus buku bersampul merah yang ditemukan di rumah Mas Bagyo. Cerita mengenai jin ini begitu meyakinkan, sehingga tercetuslah keinginan Sheila untuk menjual jin yang sebelumnya ditangkap menggunakan botol kecap.

Makin membaca, keabsurdan cerita ini makin terasa. Untuk menguatkan opini di beberapa bab, penulis tak lupa menambahkan sumber artikel online. Kekreatifan penulis dalam hal ini patut diacungi jempol. Ditambah narasi yang lucu dan kocak, pembaca jadi terus-terusan dibuat tertawa melihat tingkah Sheila dan Rangga.

Meskipun kisah yang ditawarkan terkesan tak masuk akal, ajaibnya ceritanya sendiri ditulis dengan baik dan rapi. Penulis bahkan memberi twist yang tak terduga menjelang ending yang berawal dari pin tokoh anime. Chemistry yang dibangun antara Sheila dan Rangga juga jadi daya tarik sendiri. Melihat kedekatan mereka, siapa pun pasti berharap memiliki orang terdekat yang begitu perhatian, seperti Rangga yang begitu menyayangi dan rela melakukan apa pun untuk Sheila.

Cerita ini memang paket komplet, dikarenakan keunikan format, ide yang tak biasa, plus eksekusi ceritanya yang brilian. Memang ada sedikit typo, tapi tak mengurangi kesan mendalam setelah menamatkan cerita ini. Rasanya tak berlebihan andai berharap cerita yang diikutkan dalam Kompetisi Menulis Teenlit Storial.co dengan tema Happy Girl ini bisa memenangkan kompetisi. Selain ceritanya yang menggugah minat membaca, banyak sekali kalimat quotable seperti yang tertulis di bawah ini:

Tapi, yah... mengharapkan film sesuai dengan realita itu agak sulit nampaknya karena seni—dan film juga bagian dari seni, kan—seharusnya membuatmu merasakan sesuatu. Itu tugas dari seni. It should make you feel something. Seni hanya proyeksi realita. 

Tapi tuntutan dan tekanan sosial yang kemudian membuat kita mempertanyakan lagi: Apakah kita benar tidak kesepian? Jangan-jangan, kita tidak pernah kesepian, tapi orang-orang yang menatap kasian itu membuat kita merasa bahwa kita kesepian. Perasaan kita pun perlu divalidasi karena yang kita rasakan sepertinya tidak valid. 

Aku juga merasa kasihan pada diriku sendiri. Aku ingin kuliah tapi aku tidak bisa mengurus semua yang diperlukan untuk itu. Aku punya cita-cita tapi aku tidak bisa bertanggung jawab untuk membuat diriku mampu menggapainya. Aku marah pada diriku sendiri. 

Kadang aku cemburu dengan cinta orang dewasa. Betapa mereka bisa membuat cinta itu jadi sesuatu yang mengikat, bukan lagi tujuan. Tidak seperti kami anak muda yang menjadikan 'jadian' dan 'pernyataan cinta' sebagai klimaks dari jatuh cinta. Kalian orang dewasa, menjadikan itu hanya langkah awal untuk saling mengerti, memahami, kalau kalian ada di tempat yang sama. Setelah itu pertanyaannya: Apa yang mau kalian bangun dari itu semua?

Cinta itu jadi air yang menyirami benih dan menumbuhkannya. Sementara kami, anak muda, jatuh cinta monyet sampai tenggelam di air yang bahkan dangkal saja tidak. 

"Karena... relationship itu bukan tentang siapa yang menang dan kalah. Kalau misalnya salah satu dari kalian merasa benar dan perlu untuk menyalahkan yang lainnya, kalian ada berdua di hubungan itu. If one of you should be a loser in this relationship, the other one has to end up with a loser. You don't want a loser, you want a lover. Am I wrong?" 

Rating: 5/5 bintang

Jun 8, 2019

In the Eye of the Storm

0


REVIEW IN THE EYE OF THE STORM

Judul: In the Eye of the Storm
Penulis: Brilliant Yotenega
Link: Storial.co

Blurb:

Membaca di bagian pertama saja sudah membuat saya tertohok. Bagaimana tidak? Saya seperti membaca cermin. Cerita-cerita itu bayangan yang dipantulkan balik. Saya serasa melihat saya sendiri, kejatuhan saya, sakitnya saya menghadapi hidup yang terasa gak adil.

Cerita mas Ega mengalir, beberapa bagian malah satir dan komikal. Membuat cerita yang tadinya saya kira akan membosankan seperti happily ever after-nya sinetron-sinetron di Indonesia harus terkejut dengan twist yang pas pada saatnya. Saya tidak sadar kalau saya sudah sampai di bagian ending tiap bab saja setiap kali membacanya. Saya juga selalu dibuat menunggu untuk bab-bab selanjutnya. Dan mas Ega mampu membuat saya ikut merasa kesal, merasa marah, merasa sedih, ketawa getir, dan ikut bingung dengan apa yang harus dilakukan si tokoh dalam menghadapi hidupnya.

TRIUMPH ONE!

— Ginanjar Teguh Iman (@ginteguh); Born has Labiopalatoschisis. Writer, film-maker.

Review:

Tiap orang pasti pernah mengalami masa-masa getir dan tak berdaya dalam hidupnya. Masa-masa itu tak akan terlupakan bagi sebagian orang. Perjuangan yang dilakukan, kemalangan yang seolah tak pernah berakhir, pun keajaiban yang mendadak muncul, layak dikenang. Di tangan penulis, semua hal itu dapat menjadi ramuan tulisan yang menarik, yang tentunya bermanfaat bagi pembaca. Bahwasanya harapan itu tetap ada, bahkan ketika nasib baik seperti tak berpihak pada hidup kita.

In the Eye of the Storm merupakan true story karya Brilliant Yotenega. Cerita ini termasuk cerita premium di Storial.co yang mana adalah pengalaman penulis sesaat setelah menikah. Pada saat itu, Ega—panggilan penulis—mengalami kebangkrutan. Untunglah Chynthia, istri Ega, mendapat kerja di Jakarta. Mereka pun pindah ke ibu kota dan mulai kehidupan baru di sana. Namun, rupanya tak semudah itu hidup di Jakarta dengan hanya mengandalkan gaji satu orang saja. Dengan biaya hidup yang melambung dan Ega yang tak kunjung mendapat kerja, kehidupan mereka seperti di ujung tanduk. Belum lagi kehamilan Chynthia yang makin membesar. Hal itu membuat Ega makin kelimpungan dan stres, karena tak juga mendapat solusi untuk mengatasi masalahnya.

Seperti layaknya true story, penulis membeberkan hidupnya dengan narasi yang membuat pembaca ikut merasa empati. Permasalahan finansial memang kerap menjadi momok bagi kehidupan berumah tangga, tak terkecuali dengan yang dialami Ega. Tak jarang banyak pasangan menyerah saat dihadapkan pada situasi ini. Hal ini patut dimaklumi. Bagaimana pun berumah tangga tak hanya melulu masalah cinta dan kasih sayang, namun juga keberlangsungan hidup itu sendiri.

Di sebuah keluarga yang masih seumur jagung, ketika istri sudah bekerja dan suami tidak mempunyai pekerjaan, sepasang suami-istri berubah menjadi sama-sama sensitif dalam hal apa pun, terutama jika membicarakan hari esok yang seolah tanpa kepastian. Masa-masa indah berpacaran selama 6 tahun seperti tidak memberikan kontribusi apa pun dalam menghadapi situasi seperti ini.

Sebagai lelaki yang bertanggung jawab, Ega tak menyerah untuk keluar dari masalah yang menghimpitnya. Untunglah, usahanya mencari kerja membuahkan hasil, sehingga Ega tak lagi mengandalkan gaji Chynthia. Namun, masalah tak berhenti sampai di situ. Uang tabungan mereka tak cukup untuk membiayai persalinan Chynthia. Kesabaran Ega kembali diuji di sini. Yang patut diacungi jempol, Ega tak menyerah. Bahkan dia menelan egonya dengan mencari pinjaman uang agar bisa membayar biaya rumah sakit.

Membaca cerita ini membuat siapa pun memahami bahwa berumah tangga tak selalu berjalan mulus tanpa hambatan. Pasti ada masalah yang menyertai setelahnya. Namun, menyerah juga bukan solusi praktis. Seperti Ega dan Chynthia, tiap pasangan seharusnya sama-sama berjuang untuk mempertahankan biduk pernikahan. Saat itulah, keajaiban akan muncul tanpa disangka-sangka. Bahwa pertolongan memang selalu datang di saat yang benar dan tepat.

Rating: 4/5 bintang

Jun 7, 2019

Hush

0


REVIEW HUSH

Judul: Hush
Penulis: Irfan Rizky
Link: Storial.co

Blurb:

Atmosfer SMA Dharma Luhur sedang panas-panasnya sebab pesta demokrasi: pemilihan Ketua OSIS. Hanya ada dua calon terkuat, yaitu Pranadipa Surya dan Rio Damar. Meski kedua calon ini memiliki sifat yang berbeda, satu dingin dan bijaksana sedang yang lain meledak-ledak dan penuh simpati, tak ada yang mampu menafikan keagungan nalar dan segudang prestasi yang dimiliki Dipa dan Rio.

Sedang Jumila Luhung Jenarkila, anggota OSIS yang netral dan biasa-biasa saja, terpaksa masuk ke dalam pusaran badai. Dirinya tak hanya jatuh begitu dalam, sangat dalam, hingga tiada lagi yang bisa lebih dalam, namun jua harus menyelisik bayang-bayang gelap yang melahirkan insiden demi insiden di sekolahnya. Insiden-insiden yang tidak seharusnya dicampurtangani.

Akankah Jumila dapat meredam panasnya gejolak politik di sekolah? Siapakah yang pada akhirnya akan dimenangkannya? Mampukah dirinya menguak pelaku di balik insiden-insiden tersebut?

Bahkan, jika hal-hal paling menjerikan dan mengerikan mengancamnya, akan tetap teguhkah dirinya?

Review:

Pemilihan Ketua OSIS kerap dijadikan konflik yang menarik dalam sebuah cerita. Hal ini pula yang tersaji pada cerita Hush karya Irfan Rizky yang bisa dibaca gratis di Storial.co. Namun, ada yang unik dengan cerita Hush. Penulis memberikan nuansa yang berbeda karena ceritanya berbau thriller. Porsi romansanya memang ada, namun bukan menjadi prioritas utama. Yang lebih ditonjolkan yaitu perseteruan dua kandidat utama calon Ketua OSIS yang penuh intrik, didominasi kekerasan, bahkan kematian tokohnya yang mengundang tanya.

Kisah Hush diawali dengan munculnya artikel di blog Dharmaslam.com yang isinya sangat provokatif, serta membahas aib siswa bernama Aya Jamil yang bersekolah di SMA Dharma Luhur. Tak ada yang tahu siapa pengelola blog tersebut. Meski blog tersebut tak jelas asal usulnya, namun para siswa memercayainya sebagai sumber gosip termutakhir dan terpercaya. Bahkan Aya yang menjadi bahan gosip nyaris bunuh diri karena berita tentangnya tersebar. Jumila lah yang memergoki saat Aya hendak bunuh diri. Gara-gara hal itu pula, Jumila terjebak di tengah perseteruan dua orang yang berkompetisi menjadi ketua OSIS—Dipa dan Damar.

Tak bisa dipungkiri, blurb dan bab-bab awal cerita Hush sangat menjanjikan. Pembaca terus dibuat penasaran dengan apa yang terjadi, pun dibuat berdebar saat Jamila berdekatan dengan Dipa dan uring-uringan saat Damar muncul. Tak hanya itu, intensitas ketegangan cerita makin meningkat mana kala Jumila mengetahui fakta tentang Kepala Sekolah. Kemisteriusan sikap Kepala Sekolah seakan memberi prediksi lain di balik kekisruhan yang terjadi di sekolah.

Sayangnya, eksekusi cerita Hush terkesan terburu-buru. Banyak pertanyaan menggantung yang tak dijelaskan oleh penulis, seperti alasan Kepala Sekolah merasa harus menyemarakkan prosesi pemilihan Ketua OSIS, serta alasan sahabat Damar berkhianat. Karena mengusung genre thriller, seharusnya penulis lebih piawai lagi dalam mengatur hint dan menutupnya secara apik di ending, seperti yang umum ada di kisah thriller. Bukannya diakhiri dengan narasi puitis yang jujur saja tak cocok dengan cerita yang disajikan sejak awal. Hal ini amat disayangkan, mengingat ceritanya sendiri amat menjanjikan.

Andai cerita ini digarap dengan lebih serius dan teliti, mungkin hasilnya akan berbeda. Meski demikian, cerita ini patut diapresiasi. Terutama gaya menulisnya yang asyik dan lincah. Beberapa artikel di blog Dharmaslam.com pun memberi kesan tersendiri, karena memberi informasi mengenai latar belakang tokoh utamanya secara tak langsung. Ditambah kesan sarkasmenya yang kental, dipastikan membuat pembaca ketagihan tiap membacanya:

Lalu, dapatkah orang-orang seperti ini kita percayakan untuk berada pada elite organisasi kita? Pantaskah orang-orang macam Pranadipa Suryo, Apta Arimurti, dan Rinjani untuk menyetir apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan di sekolah ini?

Pada hakikatnya, pemilihan pemimpin, baik dalam skala besar maupun yang akan terjadi Desember nanti di Dharma Luhur, tak pernah untuk memilih yang paling baik. Sebaliknya, pemilihan dibuat untuk mencegah yang paling buruk pun busuk agar tak berkuasa.

Awalnya, Dharma Luhur adalah salah satu sekolah favorit bergengsi yang dipenuhi murid-murid cakap dan berprestasi, yang banyak lulusannya memiliki karir menawan dan berkontribusi terhadap lingkungan. Tapi entah sejak kapan sekolah ini seolah-olah menjelma lapas kelas pertama, yang menampung para bajingan dan orang-orang brengsek berduit.

Rating: 4/5 bintang

Jun 6, 2019

Ik ben Een Dukun

2


REVIEW IK BEN EEN DUKUN

Judul: Ik ben Een Dukun
Penulis: Artesyerrent
Link: Storial.co

Blurb:

Jakarta, 1939. Berdasarkan pengalaman pribadi dari Loco Albertus Dzister.

Aku mengenalnya sebagai bocah yang periang dan agak nekat. Pernah hidup di Weltevreden dan tak keberatan membawaku kembali ke tempo dulu hanya untuk mengenang impian luhurnya yang kurang lazim; Menjadi seorang dukun!

Lha, bagaimana bisa?

Ssstt... jangan beritahu siapa-siapa ya, ini adalah rahasia antara kamu dan aku yang membacanya. Aku hanya berharap agar kita tak pernah melupakan sejarah kota ini, walaupun Jakarta sudah sangat berubah. Selamat membaca!

Review:

Fiksi sejarah selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang menghargai sejarah. Menjelajahi kehidupan di masa lalu memang menyenangkan, karena banyak hal yang tak pernah kita tahu sebelumnya. Selipan info mengenai tempat, budaya, bagaimana kehidupan di masa itu, serta interaksi orang-orangnya, memberikan sekelumit pemahaman bahwa dunia memang telah banyak berubah. Meskipun demikian, mengenal kearifan di masa lampau membantu kita untuk mengenal negeri sendiri. Bahwasanya di balik ingar-bingar kehidupan moderen saat ini, pernah ada masa ketika segalanya serba tradisional. Tentu saja tradisional tak melulu berarti buruk dan udik. Di tangan penulis, hal ini bisa dijadikan senjata untuk memperkaya tulisan dan memberi kekhasan tersendiri yang berbeda dengan penulis lain.

Ik ben Een Dukun merupakan salah satu fiksi berbalut sejarah yang bisa dibaca gratis di Storial.co. Judulnya terbilang unik, karena perpaduan antara bahasa Belanda dan Indonesia, yang bisa diartikan menjadi: Aku Seorang Dukun. Mengambil latar tahun 1939 di Batavia, cerita ini mengisahkan seorang bocah berusia 9 tahun bernama Loco Albertus Dzister yang bercita-cita menjadi dukun. Tentu ada alasan tersendiri kenapa dia ingin menjadi dukun. Loco terpesona dengan Eyang Katok yang bisa menyembuhkan orang secara ajaib. Meski cita-citanya terbilang aneh untuk anak seusianya, tapi Loco bersungguh-sungguh dengan hal itu. Dia ingin membantu orang dengan menjadi dukun seperti Eyang Katok.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga dan pertama, cerita ini mudah dipahami pembaca. Sentuhan humornya pun sangat terasa, seperti ketika membaca novel terjemahan. Yang menarik, penulis memberikan berbagai informasi mengenai tempat di Batavia pada zaman itu yang namanya masih berbau Belanda, misalnya: Rijswijk Straat—Jalan Majapahit; Noordwijk Straat—Jalan H. Juanda; Gedung Societeit de Harmoniegedung pertemuan yang sangat high class pada masa itu, namun sekarang sudah dijadikan lapangan parkir Sekretariat Negara; dll. Hal ini membuat cerita ini tampak spesial, karena pembaca seperti diajak 'tamasya' ke masa lalu lewat narasi yang disajikan oleh penulis.

Selain Loco yang mana adalah keturunan Hollander (keturunan Belanda), penulis mengenalkan tokoh bernama Frans yang merupakan anak berdarah campuran. Pada masa itu, keturunan Hollander merasa memiliki status lebih tinggi. Mereka tak jarang bersikap kasar pada pribumi (sebutan warga asli Indonesia). Namun, ada juga yang bersikap baik dan tak memedulikan status semacam itu. Misalnya saja ibu Loco yang mendukung Loco berteman dengan siapa pun, tapi tetap memberi batasan jelas karena mereka masih keturunan Hollander.

Perjalanan 'karir' Loco menjadi dukun terbilang sukses. Ketiga misi yang dijalankannya berjalan baik dan mulus, membuat pembaca ikut simpati dengan keberhasilan Loco menolong orang dengan predikatnya sebagai dukun. Meski cerita ini tak terlalu menonjolkan plot yang rumit, namun penulis menggantinya dengan karakter para tokohnya yang loveable. Tak lupa pula segala trivia yang disisipkan penulis yang masih menunjang isi cerita. Tentu tak mudah menuliskan hal ini. Dibutuhkan riset dan pengetahuan akan sejarah yang mumpuni, sehingga penulis bisa mengaplikasikannya pada ceritanya sendiri.

Melihat keistimewaan kisah ini, tak berlebihan andai cerita ini dibuat dalam platform lain, misalnya seperti animasi untuk mem-visalisasikan apa yang dialami Loco. Mengenal Jakarta Tempo Doeloe saat bernama Batavia pun bisa dijadikan media belajar sejarah yang menarik. Keberagaman yang tersaji akan membuat siapa pun tak lagi memedulikan etnis atau ras saat berteman. Terlebih di masa sekarang di mana isu ini terbilang sensitif, ketika etnis tertentu harus dijauhi karena dianggap berdampak buruk bagi segelintir kalangan. Dari persahabatan Loco dan Frans yang masih berdarah Eropa dan Upik yang pribumi sejati, siapa pun bisa mengambil makna bahwa manusia sejatinya sama saja, tak ada bedanya:

Kadang anak-anak itu tidak mengerti, mengapa harus ada pengelompokan manusia di dunia ini seperti buah-buahan di pasar. Ironis, memang.

Diam-diam aku tersenyum. Seperti inikah rasa keberagaman? Frans walau berlainan keyakinan denganku, ia tampak senang sekali berada di sini.

Rating: 5/5 bintang