Dec 23, 2020

Losmen Angkara

0


REVIEW LOSMEN ANGKARA
 
Rahasia Berdarah di Sebuah Losmen 

Judul: Losmen Angkara 
Penulis: Eve Shi 
Link: Storial.Co 
Kategori: Horor
 
Blurb: 

"Kamu masih kebal hantu?" 

Izarra mendapat tawaran pekerjaan sebagai pegawai losmen. Syaratnya satu: tahan dengan gangguan makhluk halus. Dia menyanggupi dan tinggal di losmen bernama Tawang Permai. Tak lama dia sadar bahwa penghuni halus di Tawang Permai bukan saja mengusik, tapi juga mengancam nyawa manusia.

- Juara 1 Kompetisi Novela Urban Legend Storial 2020

Review:

Izarra mendapat tawaran pekerjaan dari Delia sebagai pegawai losmen. Syaratnya mudah, yaitu dia harus tahan dengan gangguan makhluk halus. Memiliki kepekaan terhadap makhluk halus dan bisa melihat keberadaan mereka, membuat Delia menawarkan pekerjaan itu pada Izarra. Terlebih Izarra baru saja lulus D3 dan belum mendapat pekerjaan.

Akhirnya, Izarra menerima tawaran Delia dan resmi menjadi pegawai losmen Tawang Permai. Tawang Permai merupakan losmen di kawasan kota Malang yang memiliki lukisan angker. Konon pada tengah malam terdengar suara tangis dari dalam lukisan itu. 

Apakah lukisan itu yang membuat losmen Tawang Permai berhantu? Sayangnya, bukan. Selama bertahun-tahun, meski memiliki lukisan yang konon katanya angker, losmen Tawang Permai banyak didatangi pengunjung yang ingin berlibur di kota Malang. Gangguan mistis itu terjadi selama setahun terakhir. Meski sudah didatangkan "orang pintar", tapi gangguan mistis itu tak juga hilang.

Begitu tinggal di losmen, Izarra mendeteksi beberapa makhluk halus penghuni losmen. Saat Lunos, keponakan Bu Triya datang berkunjung, Izarra jadi terseret rahasia kelam keluarga Bu Triya selaku pemilik losmen. Rahasia kelam itu melibatkan putra, menantu, dan cucunya yang sudah meninggal. Gudang di lantai tiga losmenlah yang membuka tabir rahasia tersebut.

Izarra dan Lunos berusaha memecahkan misteri yang menyelubungi losmen. Saat itulah, muncul Gabrian, teman Izarra yang datang untuk menginap di sana. Gabrian terobsesi pada Izarra. Izarra sendiri tak suka berteman dengan Gabrian. Hal itu membuat Gabrian sakit hati dengan sikap Izarra padanya.

Pada akhirnya, misteri losmen pun terkuak. Sayangnya, ada misteri lain yang menjadi tanda tanya besar. Yaitu mengenai Gabrian yang mati dengan benda tajam mengiris lehernya. 

***

Beberapa waktu lalu, Storial.Co mengadakan Kompetisi Menulis Cerita Urban Legend. Urban legend adalah mitos atau legenda kotemporer yang disebarkan dari mulut ke mulut dan dipercaya masyarakat sebagai kebenaran. Pada kompetisi ini, juri memilih Losmen Angkara sebagai juara pertama. 

Losmen Angkara menawarkan premis yang menarik, yaitu tentang cowok bernama Izzara yang bisa melihat hantu dan bekerja di losmen berhantu. Namun, bukan itu saja konflik yang disajikan. Izzara juga dilanda masalah pertemanan dengan Gabrian. Izzara tak suka sikap Gabrian yang terlalu self-centered. Berteman dengan Gabrian tak ubahnya seperti tong sampah, gara-gara Gabrian yang suka bercerita tentang dirinya sendiri. Izzara merasa tak ada timbal balik layaknya teman dari Gabrian. 

Dua konflik inilah yang mewarnai sepanjang kisah Losmen Angkara. Pembaca dibuat merinding saat makhluk halus yang menghuni losmen menampakkan diri dan membuat para tamu tak betah tinggal di losmen. Pembaca juga dibuat geregetan dengan tingkah Gabrian. Untunglah kehadiran Lunos membawa angin segar pada kisah ini. Lunos cowok yang riang dan ramah. Izzara yang sedikit tertutup, sedikit membuka diri setelah bertemu Lunos.

Eksekusi cerita ini terbilang apik, terlihat dari plotnya yang terjalin rapi. Misteri losmen yang tiba-tiba jadi berhantu pun dijelaskan dengan baik. Lukisan yang konon berhantu juga menjadi pion penggerak cerita, sehingga menciptakan ending yang menarik. Apabila familier dengan istilah callback pada Stand Up Comedy, penulis menerapkannya pada Losmen Angkara, sehingga cerita yang ditulisnya terasa bulat dan utuh.

Nyaris tak ada kekurangan yang berarti pada cerita ini. Kalau pun ada, mungkin ketika Lunos dan Izzara membicarakan perihal nama mereka. Tak ada penjelasan mengenai bahasa Esperanto dan Basque yang sempat mereka singgung. Padahal bisa jadi informasi yang menarik andai penulis mau membagi kisah mengenai arti nama mereka.

Ada beberapa kalimat yang quotable di cerita ini. Di antaranya sebagai berikut:

"Justru diam melulu yang bikin sakit. Luka kadang harus disayat dikit, supaya nanahnya keluar dan kita bisa sembuh."

"Tapi aku nggak wajib ikut kamu ke mana-mana dan nampung curhat kamu. Sementara kamu nggak ngelakuin sebaliknya. Komunikasi itu dua arah, bukan sepihak."

Kadang, alih-alih menyayangi, orang menaruh kepercayaan pada kita. Dan itu sama berharganya, sebab kepercayaan sukar didapat.

Teman saling berterus terang pada satu sama lain. Itulah yang tersirat dari kata-kata Luno. Bagiku dia teman dan aku bersedia berterus terang padanya—kecuali tentang satu hal.

Rating: 5/5 bintang

***

Dilihat dari segala aspek, Losmen Angkara sangat layak dijadikan juara pertama Kompetisi Cerita Urband Legend. Sayangnya, cerita ini tak bisa dibaca secara gratis, karena termasuk bab premium di Storial.Co. Apa itu bab premium? Bab premium adalah cerita-cerita di Storial.Co yang sudah diakurasi oleh editor, sehingga kualitas ceritanya terjamin. Untuk membacanya dibutuhkan Storial Coin yang dapat dibeli menggunakan pulsa, Go-Pay, OVO, Dana, dan LinkAja.  

Cukup banyak bab premium di Storial.Co. Harganya pun sangat variatif. Untuk Losmen Angkara, dibutuhkan 250 koin saja. Harganya tergolong murah, mengingat ceritanya yang bagus.  

Tapi, bagaimana kalau sedang tak bisa top-up Storial Coin? Tenang saja. Masih banyak cerita bagus, meski bukan premium. Di blog ini pernah me-review beberapa cerita di Storial.Co. Untuk selengkapnya bisa dibaca di sini. Rasanya ada kepuasan tersendiri apabila tanpa sengaja menemukan cerita bagus di Storial.Co. Namun, untuk mendukung penulis lokal, diharapkan banyak yang mau mengakses bab premium. Di tengah lesunya industri perbukuan, menulis di ranah platform seperti Storial.Co dapat dijadikan alternatif bagi penulis agar bisa terus berkarya.

#ReviewNovelStorial #GenerasiBacaOnline

Dec 22, 2020

Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982

0


REVIEW KIM JI-YEONG, LAHIR TAHUN 1982

Judul: Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982
Penulis: Cho Nam-joo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2019
Tebal: 192 halaman
ISBN: 978-602-06-36-191

Blurb:

Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.

Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.

Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.

Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.

Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.

Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.

Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.

Review:

Ada perbedaan perlakuan yang diterima laki-laki dan perempuan dalam struktur sosial. Bak strata, perempuan kerap ditempatkan di kelas kedua. Meski laki-laki dan perempuan mempunyai kualifikasi yang sama, terlahir sebagai laki-laki memberi keuntungan tersendiri. Terlebih pada masyarakat Korea yang masih menjunjung tinggi budaya patriarki. 

Potret budaya patriarki yang kental tampak jelas pada novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982. Kim Ji-yeong adalah perempuan berusia 34 tahun. Dia seorang istri dan ibu yang mengalami depresi pascamelahirkan yang berubah menjadi depresi pengasuhan anak (halaman 169). Namun, saat melakukan konseling, diagnosisnya ternyata tak sedangkal itu. Diceritakan secara flashback, novel ini mengisahkan kehidupan Kim Ji-yeong dari masa kecil, remaja, kuliah, menikah, sampai memiliki anak.

Novel ini cukup tipis dan bisa dibaca sekali duduk. Meski demikian, muatan isinya akan menampar siapa pun yang membacanya. Sebagai penulis, Cho Nam-joo terang-terangan memasukkan unsur feminisme lewat narasi dan dialog, beserta catatan kaki yang relevan. Pembaca dibuat mengerti situasi dan kondisi Kim Ji-yeong. Juga bagaimana tuntutan demi tuntutan mengakibatkan gangguan mental pada diri Kim Ji-yeong. 

Terlahir sebagai perempuan di Korea memang tak seindah yang dibayangkan. Kim Ji-yeong memiliki satu kakak perempuan dan satu adik laki-laki. Seharusnya orang tua memperlakukan anak-anak mereka sama baik, adil, dan tak pilih kasih. Namun, tak demikian dengan keluarga di Korea. Anak laki-laki kerap diperlakukan khusus. Mereka juga mendapat jatah lebih dari anak perempuan. Praktik semacam ini begitu lumrah dan mendarah daging. Hal ini amat miris, mengingat laki-laki dan perempuan sudah sepatutnya mendapat hak pengasuhan yang sama dari orang tua mereka.

Pada kasus lain, dalam sebuah keluarga anak perempuan bisa saja dijadikan “tumbal” untuk menyokong pendidikan anak laki-laki. Masa itu adalah masa ketika anak laki-laki dianggap sebagai seseorang yang harus menjadi tulang punggung keluarga, dan anak laki-laki adalah inti dari kesuksesan dan kebahagiaan keluarga (halaman 33). Alhasil, anak perempuan Korea bekerja banting tulang untuk membiayai saudara laki-laki mereka. Ketika anak laki-laki ini sukses, tak ada apresiasi untuk anak perempuan. Hal inilah yang dialami ibu Kim Ji-yeong. Cukup menyedihkan melihat ibu Kim Ji-yeong mengorbankan masa depannya demi kepentingan anak laki-laki dalam keluarganya sendiri.

Tentu tak mudah memutus diskriminasi gender dalam budaya patriarki. Terlebih di Korea, ketidakberpihakan selalu dialami perempuan. Misalnya saja ketika Kim Ji-yeong dikuntit laki-laki teman lesnya. Alih-alih membela putrinya sendiri, ayah Kim Ji-yeong malah memarahi Kim Ji-yeong. Budaya patriarkilah yang menyebabkan hal ini terjadi. Bahwa perempuan dianggap bertanggung jawab atas pelecehan yang mereka alami. Kalau ia sampai tidak sadar dan tidak menghindar, maka ia sendiri yang salah (halaman 66). Meski laki-laki adalah pelaku, tetapi penghakiman selalu diberikan pada pihak perempuan. Apakah ini adil? Tentu tidak. Pada akhirnya, perempuan dipaksa mengikuti aturan tak tertulis itu. Perempuan harus berhati-hati, berbaju sopan, dan bersikap pantas. Kalau tidak, tanggung sendiri akibatnya.

Ekosistem para pekerja di Korea pun tak tak berpihak pada perempuan. Meski laki-laki dan perempuan memiliki kapabilitas yang sama, tetapi peluang laki-laki lebih besar. Gajinya pun lebih banyak. Apabila perusahaan meminta rekomendasi dari pihak fakultas atau dosen, yang direkomendasikan selalu adalah laki-laki (halaman 95). Pihak perusahaan beralasan laki-laki (terutama yang sudah wajib militer) memberi kesan bagus bagi perusahaan. Apakah ini adil? Sekali lagi, tidak. Ketika patriarki sudah merambah sistem, sulit bagi perempuan untuk mengembangkan potensi dengan “harga” sama seperti yang didapat laki-laki.

Membaca novel ini seperti menguliti kehidupan kebanyakan perempuan. Ketika lajang, perempuan disuruh menikah. Ketika sudah menikah, perempuan disuruh punya anak. Kalau tak segera punya anak, perempuan yang lagi-lagi disalahkan. Seperti itulah yang dialami Kim Ji-yeong. Menikah dengan pria yang dicintai tak berarti kehidupan berhenti. Menikah hanya membuka gerbang masalah baru, dengan solusi yang (sayangnya) tak berpihak pada Kim Ji-yeong.

Melahirkan dan menjadi ibu memang kodrat perempuan. Sayangnya bagi Kim Ji-yeong, menjadi ibu berarti kebebasannya sebagai perempuan direnggut paksa. Ketika hamil, orang-orang akan menunjukkan ekspresi terganggu gara-gara kehadirannya. Karena memiliki bayi, dia harus berhenti bekerja. Kim Ji-yeong yang suka bekerja dan menghasilkan uang sendiri, tentu merasa kehilangan. Ditambah omongan pedas orang-orang, membuat mental Kim Ji-yeong terguncang. Hal inilah pencetus utama depresi yang dialami oleh Kim Ji-yeong.

Tak bisa dipungkiri, Kim Ji-yeong adalah refleksi perempuan di era modern. Sayangnya, kepedulian terhadap mental para ibu masih tergolong rendah. Seringnya, lingkunganlah yang membebani pikiran para ibu. Para ibu selalu dituntut menjadi perempuan sempurna, tanpa cela, tanpa mengeluh, bertanggung jawab, serta mampu mengurus keluarga dengan baik. Bagaimanapun, perempuan hanya manusia biasa. Ketika tak bisa membantu, bersimpati saja cukup. Tak usahlah membebani pikiran para ibu dengan ucapan pedas yang mendiskriminasikan keberadaan mereka.

Buku ini memang cuma setebal 192 halaman. Namun, isinya begitu merasuk dan membuka kacamata pembaca mengenai diskriminasi gender, serta implikasinya pada kehidupan bermasyarakat di Korea. Salut pada Penerbit Gramedia Pustaka Utama yang telah menerbitkan novel ini. Dengan terjemahan yang nyaman dibaca dan kover yang menarik, buku ini sangat layak dikoleksi. 

Perjuangan para feminis menuntut kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan masih jauh dari sempurna. Meski demikian, kampanye feminisme masih terus dilakukan. Fiksi bisa dijadikan media yang tepat. Membaca Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah salah satu cara untuk menggugah kesadaran masyarakat mengenai feminisme.

Akhir kata, bagi perempuan di luar sana, kalian bukanlah jongos patriarki. Kalian berharga dan layak mendapat kesempatan, serta pilihan sama banyaknya seperti yang didapat laki-laki.

Rating: 4/5 bintang

Apr 18, 2020

Ephemera

1


REVIEW EPHEMERA

Judul: Ephemera
Penulis: Akaigita
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2020
Tebal: 296 halaman
ISBN: 978-602-06-03654-09

Blurb:

Rumah di tepi rawa itu menyimpan bahaya. Dari kucing-kucing yang menghilang tanpa jejak, kerisik aneh di langit-langit pada malam hari, hingga takhayul keberadaan makhluk setinggi pohon kelapa yang menjaga tanah ini.

Suatu hari, Venus—anak perempuan penghuni rumah—terjatuh ke sumur dan koma. Saat dia siuman, dia mengaku terpeleset karena kaget melihat ular besar di sana. Tapi benarkah pengakuannya itu?

Lantas mengapa Adam, sahabat karib Venus, dikucilkan dan dituduh mendorong gadis itu ke sumur? Mengapa pula Luna, adik Venus yang serbatahu malah diam seribu bahasa?

Rumah di tepi rawa itu tak hanya menyimpan bahaya, tetapi juga rahasia gelap yang tak boleh menyebar.

Review:

Venus mengalami koma setelah jatuh ke dalam sumur. Akibatnya, memori Venus sedikit terganggu. Sebenarnya, tak ada masalah dengan hal itu. Tapi, hal-hal aneh mulai terjadi. Sahabatnya Adam mulai menjaga jarak darinya. Ibunya yang tak suka kucing mendadak mengijinkan Venus memelihara kucing. Venus sadar ada yang tak beres. Sayangnya, dia tak mengerti duduk persoalannya. Alhasil, dia dibingungkan dengan tingkah laku orang-orang di sekitarnya.

Lambat laun, keadaan jadi tak kondusif. Puncaknya waktu Venus dan adiknya Luna bertengkar di sekolah. Sementara itu, Adam diam-diam sering menemui Luna. Padahal dia dilarang berhubungan dengan keluarga Venus. Adam melakukannya karena simpati pada Luna. Gara-gara sering bersama, perlahan Adam memiliki perasaan pada gadis itu.

Makin lama, keadaan makin tak terkendali. Mana yang benar dan salah jadi berbaur. Yang lebih penting, benarkah ada ular besar di rawa, penyebab Venus jatuh ke dalam sumur? Jawabannya tak terduga. Karena seiring terkuaknya misteri itu, misteri lain pun ikut terungkap kebenarannya. 

***

Setelah menerbitkan Enigma Pasha, Akaigita kembali menelurkan karya terbarunya yang berjudul Ephemera. Judulnya begitu unik. Kovernya pun sangat menarik mata. Ephemera sendiri dapat diartikan sesuatu yang tidak kekal. Sungguh permulaan yang bagus untuk memikat pembaca.

Buku ini berkisar pada orang-orang yang tinggal di sekitar rawa. Tak dijelaskan di mana lokasi persisnya. Penulis sengaja menggambarkannya secara awam. Pembaca hanya mengetahui detail-detailnya, sehingga dapat membayangkan seperti apa rawa tersebut, juga orang-orang yang tinggal di sana.

Cerita dalam buku ini bergulir secara apik. Rangkaian misterinya pun membuat pembaca bertanya-tanya. Namun, mendekati penyelesaian masalah, entah kenapa terkesan terburu-buru. Penggunaan dua sudut pandang (orang pertama untuk Venus-Herman, dan orang ketiga untuk Adam-Luna) sedikit tak nyaman. Lebih baik menggunakan sudut pandang orang ketiga saja, sehingga fokus pembaca lebih terjaga.

Buku ini diberi label Young Adult, yang mana ceritanya sedikit lebih berat dibanding teenlit, meski tokohnya kebanyakan remaja. Hal ini wajar mengingat tokoh Luna yang bisa dibilang 'sakit'. Luna dikisahkan masih kelas 1 SMP. Untuk remaja seusia itu, agak aneh melihat dia berani melakukan self harm. Buku ini kesan psikologisnya memang kental. Hanya saja dengan jumlah halaman yang sedikit dan pembahasan yang begitu banyak, jadi kurang tereksplor. Padahal buku ini sangat menjanjikan. Terlebih ceritanya pun beda dengan yang lain.

Penulis sedikit menyinggung alasan pemilihan kata Ephemera sebagai judul. Tokoh Adam pun menyinggung tentang ephemera:

Namun, bagi Adam, seleberan itu adalah harta karun. Ia gemar menyimpan berbagai ephemera semacam perangko, struk belanja, atau pos mading yang sudah basi (hlm. 81)

Anehnya, tak ada keterkaitan antara judul dengan cerita dalam buku ini. Bahkan penjelasan mengenai Adam yang gemar mengumpulkan ephemera hanya sebatas trivia, sama sekali tak menjadi penggerak cerita yang umumnya ada pada kisah misteri. Hal ini amat disayangkan. Bagaimanapun pemilihan judul haruslah melingkupi isi cerita. Rasanya seperti penulis memilih judul itu hanya karena unik, sama sekali tak mempertimbangkan isi ceritanya. Hal ini mengingatkan pada novel karya Annisa Insani yang berjudul A Hole in The Head. Sekilas, judulnya terlihat spektakuler. Padahal ceritanya hanya berkutat pada misteri sebuah penginapan tua.

Terlepas dari hal-hal yang disebutkan di atas, buku ini memiliki cerita yang unik. Apabila menyukai kisah berbalut misteri, buku ini bisa dijadikan pilihan bacaan Anda. Selamat membaca!

Rating: 3/5 bintang

Apr 14, 2020

The Fifth to Die

0



REVIEW THE FIFTH TO DIE

Judul: The Fifth to Die
Penulis: J.D. Barker
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: I, 2019
Tebal: 741 halaman
ISBN: 978-623-216-092-7

Blurb:

Seorang gadis yang telah menghilang selama tiga minggu ditemukan tewas di bawah permukaan laguna beku. Pertanyaannya, bagaimana dia bisa berada di situ sementara laguna itu membeku berbulan-bulan lalu? Lebih membingungkan lagi, gadis itu ternyata mengenakan pakaian gadis lain, yang menghilang dua hari yang lalu. Nahasnya, selama masa penyelidikan, para ayah korban juga tewas dengan dugaan dibunuh.

Selagi detektif lain mencoba memahami kasus tersebut, Detektif Porter diam-diam melanjutkan pengejaran Pembunuh Empat Monyet. Hingga pada satu titik, ia menyadari, yang lebih menakutkan daripada pikiran seorang pembunuh berantai adalah pikiran ibu sang pembunuh...

Review:

Kembali terjadi pembunuhan yang menggemparkan. Polisi menemukan jasad Ella Reynolds di bawah permukaan laguna yang membeku. Yang membingungkan, Ella Reynolds memakai pakaian Lili Davies. Padahal Lili Davies dikabarkan menghilang dua hari sebelumnya. Semua orang segera beranggapan dalang di balik pembunuhan itu adalah Anson Bishop—Pembunuh Empat Monyet. 

Porter dan timnya ditugasi untuk menguak misteri pembunuhan itu. Porter beranggapan ada pembunuh lain, melihat modus operandinya yang berbeda. Sayangnya, Porter dilarang melanjutkan penyelidikan. Dia ketahuan menyembunyikan barang bukti pada kasus sebelumnya. Akibatnya, pekerjaannya harus ditangguhkan untuk sementara waktu.

Tak ada yang tahu Porter terpaksa menyembunyikan barang bukti gara-gara dihantui pesan terakhir Bishop. Bishop memang memintanya mencari keberadaan sang ibu. Berbekal foto dan buku harian Bishop, Porter pergi ke penjara tempat ibu Porter dikurung. Seorang pengacara bernama Sarah Werner ikut bersamanya. Seiring perjalanan, mereka cukup dekat, sehingga Porter nyaman menceritakan kisah hidupnya. 

Selama Porter menyelidiki ibu Bishop, pembunuhan lain terus terjadi. Para penyidik pun berusaha mencari keterkaitan kematian para korban. Ketika kebenaran mulai terkuak, ternyata masih ada misteri lain yang menyelimuti. Dan, itu melibatkan masa lalu Bishop dan orang-orang terdekatnya dulu.

***

Sebagai sekuel The Fourth Monkey, The Fifth to Die masih diwarnai adegan yang membuat pembaca bergidik ngeri. Misalnya saja adegan penyiksaan dalam tangki ketidakberdayaan. Tangki ketidakberdayaan populer di tahun lima puluhan. Pada tangki tersebut dimasukkan air asin yang dipanaskan sampai suhu 35 derajat Celcius, sesuai dengan suhu tubuh manusia. Seharusnya berada dalam tangki tersebut membawa ketenangan—seperti ajaran Zen. Namun, oleh sang pembunuh tangki tersebut digunakan sebagai alat percobaan, yang membuat korbannya tewas karena tenggelam.

Dalam buku ini, pembaca dibuat menebak-nebak sosok sang pembunuh. Nyaris tak ada clue mengenai dirinya. Fokus cerita pun terpecah menjadi dua: pencarian lokasi sang pembunuh dan usaha Porter menguak masa lalu Bishop. Hal ini membuat intens cerita agak menurun, tak seperti buku pertamanya. Pembaca juga mesti bersabar menunggu keterkaitan pembunuh dan Bishop. Baru menjelang ending segalanya terkuak. Kejutan kembali diberikan penulis, yang membuat pembaca tak sabar menanti kelanjutan buku ini.

Meski dari segi cerita sangat menarik, sayangnya buku ini banyak sekali typo. Terlihat sekali naskah tak dibaca secara teliti. Bahkan tak jarang ada typo nama yang sangat mengganggu. Diharapkan di buku selanjutnya hal tersebut diminimalkan. Peran editor sangat besar di sini untuk memeriksa naskah sebelum diterbitkan.

Overall, buku ini bisa dijadikan pilihan bagi siapa pun yang menyukai novel dengan genre thriller. Buku ini memang cukup tebal, tapi alurnya yang cepat tak akan membuat bosan. Ada pula beberapa kalimat yang quotable. Kalimat-kalimat tersebut dapat dibaca di bawah ini:

Terkadang mengingat hal yang buruk merupakan hal yang bagus. Membuat yang lain terlihat tidak terlalu buruk. (hal. 157)

Jangan takut pada mereka yang membunuh jasad, tapi tidak mampu membunuh jiwa, tapi takutlah  padanya yang mampu menghancurkan jiwa dan jasad di neraka. (hal. 341)

Aku tidak tahu bagaimana dia masih bisa bertahan sampai sekarang. Mereka mengeluarkan banyak sekali otaknya, dia bisa menjadi politisi. (hal. 698)

Rating: 4/5 bintang

Jun 10, 2019

Problematika Uang Kuliah dan Bagaimana Mengatasinya dengan Cara Menjual Jin

1


REVIEW PROBLEMATIKA UANG KULIAH DAN BAGAIMANA MENGATASINYA DENGAN CARA MENJUAL JIN

Judul: Problematika Uang Kuliah dan Bagaimana Mengatasinya dengan Cara Menjual Jin
Penulis: Octa
Link: Storial.co

Blurb:

Setidaknya Sheila punya tiga kesalahan menurut Ibu:
1. Menculik jin milik tetangga;
2. Menjualnya di pasar daring;
3. Menggunakan uang hasil penjualannya untuk membayar uang kuliah.

Tapi, Sheila punya tiga pembelaan:
1. Dia baru tahu kalau keluarga mereka miskin;
2. Mereka tidak bisa membayar uang kuliah Sheila;
3. Menculik dan menjual jin tidak bisa dipidanakan—hanya bisa dihukum.

Ibu pun menghukum Sheila: Membuat laporan semua yang dia lakukan dengan jujur dan apa-adanya. Buku ini adalah laporan Sheila.

Review:

Absurd sekaligus tidak biasa. Seperti itulah kesan awal saat membaca judul yang sekilas mirip judul skripsi ini—Problematika Uang Kuliah dan Bagaimana Mengatasinya dengan Cara Menjual Jin. Alhasil, siapa pun pasti tergelitik. Apa mungkin menjual jin untuk membayar uang kuliah? Belum selesai keabsurdan di bagian judul, isi blurb-nya tak kalah mengundang tanya. Sang tokoh utama Sheila dihukum untuk menulis laporan. Laporan? Fiksi berbentuk laporan? Seperti apa bentuknya? Pertanyaan tersebut tentu memancing keingintahuan pembaca untuk membaca lebih lanjut—yang tentunya membuat cerita ini mendapat nilai plus hanya dari judul dan blurb.

Octa, sebagai penulis cerita ini mengawali kisahnya dengan membahas sampul. Layaknya laporan, penulis perlu sekali menjelaskan desain sampulnya yang biasa-biasa saja dikarenakan tinta printer-nya habis. Meski tampak konyol, namun penulis menuliskannya secara menarik dan sistematis. Misalnya seperti pembelaan desain sampulnya yang mirip buku The Subtle Art of Not Giving A F*ck karya Manson dan pemilihan judul yang mau tidak mau sepanjang itu. Tak bisa dipungkiri, cara ini begitu menggugah. Siapa pun pasti penasaran dan ingin terus membaca untuk mencari tahu apa yang akan diceritakan Sheila selanjutnya.

Membaca cerita ini layaknya membaca buku harian. Dengan gaya menulis yang asyik khas novel terjemahan, pembaca diajak mengikuti awal mulai Sheila berniat menjual jin. Dibantu Rangga—sahabat Sheila—mereka memanfaatkan desas-desus mengenai jin yang tinggal di pohon kecapi, plus buku bersampul merah yang ditemukan di rumah Mas Bagyo. Cerita mengenai jin ini begitu meyakinkan, sehingga tercetuslah keinginan Sheila untuk menjual jin yang sebelumnya ditangkap menggunakan botol kecap.

Makin membaca, keabsurdan cerita ini makin terasa. Untuk menguatkan opini di beberapa bab, penulis tak lupa menambahkan sumber artikel online. Kekreatifan penulis dalam hal ini patut diacungi jempol. Ditambah narasi yang lucu dan kocak, pembaca jadi terus-terusan dibuat tertawa melihat tingkah Sheila dan Rangga.

Meskipun kisah yang ditawarkan terkesan tak masuk akal, ajaibnya ceritanya sendiri ditulis dengan baik dan rapi. Penulis bahkan memberi twist yang tak terduga menjelang ending yang berawal dari pin tokoh anime. Chemistry yang dibangun antara Sheila dan Rangga juga jadi daya tarik sendiri. Melihat kedekatan mereka, siapa pun pasti berharap memiliki orang terdekat yang begitu perhatian, seperti Rangga yang begitu menyayangi dan rela melakukan apa pun untuk Sheila.

Cerita ini memang paket komplet, dikarenakan keunikan format, ide yang tak biasa, plus eksekusi ceritanya yang brilian. Memang ada sedikit typo, tapi tak mengurangi kesan mendalam setelah menamatkan cerita ini. Rasanya tak berlebihan andai berharap cerita yang diikutkan dalam Kompetisi Menulis Teenlit Storial.co dengan tema Happy Girl ini bisa memenangkan kompetisi. Selain ceritanya yang menggugah minat membaca, banyak sekali kalimat quotable seperti yang tertulis di bawah ini:

Tapi, yah... mengharapkan film sesuai dengan realita itu agak sulit nampaknya karena seni—dan film juga bagian dari seni, kan—seharusnya membuatmu merasakan sesuatu. Itu tugas dari seni. It should make you feel something. Seni hanya proyeksi realita. 

Tapi tuntutan dan tekanan sosial yang kemudian membuat kita mempertanyakan lagi: Apakah kita benar tidak kesepian? Jangan-jangan, kita tidak pernah kesepian, tapi orang-orang yang menatap kasian itu membuat kita merasa bahwa kita kesepian. Perasaan kita pun perlu divalidasi karena yang kita rasakan sepertinya tidak valid. 

Aku juga merasa kasihan pada diriku sendiri. Aku ingin kuliah tapi aku tidak bisa mengurus semua yang diperlukan untuk itu. Aku punya cita-cita tapi aku tidak bisa bertanggung jawab untuk membuat diriku mampu menggapainya. Aku marah pada diriku sendiri. 

Kadang aku cemburu dengan cinta orang dewasa. Betapa mereka bisa membuat cinta itu jadi sesuatu yang mengikat, bukan lagi tujuan. Tidak seperti kami anak muda yang menjadikan 'jadian' dan 'pernyataan cinta' sebagai klimaks dari jatuh cinta. Kalian orang dewasa, menjadikan itu hanya langkah awal untuk saling mengerti, memahami, kalau kalian ada di tempat yang sama. Setelah itu pertanyaannya: Apa yang mau kalian bangun dari itu semua?

Cinta itu jadi air yang menyirami benih dan menumbuhkannya. Sementara kami, anak muda, jatuh cinta monyet sampai tenggelam di air yang bahkan dangkal saja tidak. 

"Karena... relationship itu bukan tentang siapa yang menang dan kalah. Kalau misalnya salah satu dari kalian merasa benar dan perlu untuk menyalahkan yang lainnya, kalian ada berdua di hubungan itu. If one of you should be a loser in this relationship, the other one has to end up with a loser. You don't want a loser, you want a lover. Am I wrong?" 

Rating: 5/5 bintang

Jun 8, 2019

In the Eye of the Storm

0


REVIEW IN THE EYE OF THE STORM

Judul: In the Eye of the Storm
Penulis: Brilliant Yotenega
Link: Storial.co

Blurb:

Membaca di bagian pertama saja sudah membuat saya tertohok. Bagaimana tidak? Saya seperti membaca cermin. Cerita-cerita itu bayangan yang dipantulkan balik. Saya serasa melihat saya sendiri, kejatuhan saya, sakitnya saya menghadapi hidup yang terasa gak adil.

Cerita mas Ega mengalir, beberapa bagian malah satir dan komikal. Membuat cerita yang tadinya saya kira akan membosankan seperti happily ever after-nya sinetron-sinetron di Indonesia harus terkejut dengan twist yang pas pada saatnya. Saya tidak sadar kalau saya sudah sampai di bagian ending tiap bab saja setiap kali membacanya. Saya juga selalu dibuat menunggu untuk bab-bab selanjutnya. Dan mas Ega mampu membuat saya ikut merasa kesal, merasa marah, merasa sedih, ketawa getir, dan ikut bingung dengan apa yang harus dilakukan si tokoh dalam menghadapi hidupnya.

TRIUMPH ONE!

— Ginanjar Teguh Iman (@ginteguh); Born has Labiopalatoschisis. Writer, film-maker.

Review:

Tiap orang pasti pernah mengalami masa-masa getir dan tak berdaya dalam hidupnya. Masa-masa itu tak akan terlupakan bagi sebagian orang. Perjuangan yang dilakukan, kemalangan yang seolah tak pernah berakhir, pun keajaiban yang mendadak muncul, layak dikenang. Di tangan penulis, semua hal itu dapat menjadi ramuan tulisan yang menarik, yang tentunya bermanfaat bagi pembaca. Bahwasanya harapan itu tetap ada, bahkan ketika nasib baik seperti tak berpihak pada hidup kita.

In the Eye of the Storm merupakan true story karya Brilliant Yotenega. Cerita ini termasuk cerita premium di Storial.co yang mana adalah pengalaman penulis sesaat setelah menikah. Pada saat itu, Ega—panggilan penulis—mengalami kebangkrutan. Untunglah Chynthia, istri Ega, mendapat kerja di Jakarta. Mereka pun pindah ke ibu kota dan mulai kehidupan baru di sana. Namun, rupanya tak semudah itu hidup di Jakarta dengan hanya mengandalkan gaji satu orang saja. Dengan biaya hidup yang melambung dan Ega yang tak kunjung mendapat kerja, kehidupan mereka seperti di ujung tanduk. Belum lagi kehamilan Chynthia yang makin membesar. Hal itu membuat Ega makin kelimpungan dan stres, karena tak juga mendapat solusi untuk mengatasi masalahnya.

Seperti layaknya true story, penulis membeberkan hidupnya dengan narasi yang membuat pembaca ikut merasa empati. Permasalahan finansial memang kerap menjadi momok bagi kehidupan berumah tangga, tak terkecuali dengan yang dialami Ega. Tak jarang banyak pasangan menyerah saat dihadapkan pada situasi ini. Hal ini patut dimaklumi. Bagaimana pun berumah tangga tak hanya melulu masalah cinta dan kasih sayang, namun juga keberlangsungan hidup itu sendiri.

Di sebuah keluarga yang masih seumur jagung, ketika istri sudah bekerja dan suami tidak mempunyai pekerjaan, sepasang suami-istri berubah menjadi sama-sama sensitif dalam hal apa pun, terutama jika membicarakan hari esok yang seolah tanpa kepastian. Masa-masa indah berpacaran selama 6 tahun seperti tidak memberikan kontribusi apa pun dalam menghadapi situasi seperti ini.

Sebagai lelaki yang bertanggung jawab, Ega tak menyerah untuk keluar dari masalah yang menghimpitnya. Untunglah, usahanya mencari kerja membuahkan hasil, sehingga Ega tak lagi mengandalkan gaji Chynthia. Namun, masalah tak berhenti sampai di situ. Uang tabungan mereka tak cukup untuk membiayai persalinan Chynthia. Kesabaran Ega kembali diuji di sini. Yang patut diacungi jempol, Ega tak menyerah. Bahkan dia menelan egonya dengan mencari pinjaman uang agar bisa membayar biaya rumah sakit.

Membaca cerita ini membuat siapa pun memahami bahwa berumah tangga tak selalu berjalan mulus tanpa hambatan. Pasti ada masalah yang menyertai setelahnya. Namun, menyerah juga bukan solusi praktis. Seperti Ega dan Chynthia, tiap pasangan seharusnya sama-sama berjuang untuk mempertahankan biduk pernikahan. Saat itulah, keajaiban akan muncul tanpa disangka-sangka. Bahwa pertolongan memang selalu datang di saat yang benar dan tepat.

Rating: 4/5 bintang

Jun 7, 2019

Hush

0


REVIEW HUSH

Judul: Hush
Penulis: Irfan Rizky
Link: Storial.co

Blurb:

Atmosfer SMA Dharma Luhur sedang panas-panasnya sebab pesta demokrasi: pemilihan Ketua OSIS. Hanya ada dua calon terkuat, yaitu Pranadipa Surya dan Rio Damar. Meski kedua calon ini memiliki sifat yang berbeda, satu dingin dan bijaksana sedang yang lain meledak-ledak dan penuh simpati, tak ada yang mampu menafikan keagungan nalar dan segudang prestasi yang dimiliki Dipa dan Rio.

Sedang Jumila Luhung Jenarkila, anggota OSIS yang netral dan biasa-biasa saja, terpaksa masuk ke dalam pusaran badai. Dirinya tak hanya jatuh begitu dalam, sangat dalam, hingga tiada lagi yang bisa lebih dalam, namun jua harus menyelisik bayang-bayang gelap yang melahirkan insiden demi insiden di sekolahnya. Insiden-insiden yang tidak seharusnya dicampurtangani.

Akankah Jumila dapat meredam panasnya gejolak politik di sekolah? Siapakah yang pada akhirnya akan dimenangkannya? Mampukah dirinya menguak pelaku di balik insiden-insiden tersebut?

Bahkan, jika hal-hal paling menjerikan dan mengerikan mengancamnya, akan tetap teguhkah dirinya?

Review:

Pemilihan Ketua OSIS kerap dijadikan konflik yang menarik dalam sebuah cerita. Hal ini pula yang tersaji pada cerita Hush karya Irfan Rizky yang bisa dibaca gratis di Storial.co. Namun, ada yang unik dengan cerita Hush. Penulis memberikan nuansa yang berbeda karena ceritanya berbau thriller. Porsi romansanya memang ada, namun bukan menjadi prioritas utama. Yang lebih ditonjolkan yaitu perseteruan dua kandidat utama calon Ketua OSIS yang penuh intrik, didominasi kekerasan, bahkan kematian tokohnya yang mengundang tanya.

Kisah Hush diawali dengan munculnya artikel di blog Dharmaslam.com yang isinya sangat provokatif, serta membahas aib siswa bernama Aya Jamil yang bersekolah di SMA Dharma Luhur. Tak ada yang tahu siapa pengelola blog tersebut. Meski blog tersebut tak jelas asal usulnya, namun para siswa memercayainya sebagai sumber gosip termutakhir dan terpercaya. Bahkan Aya yang menjadi bahan gosip nyaris bunuh diri karena berita tentangnya tersebar. Jumila lah yang memergoki saat Aya hendak bunuh diri. Gara-gara hal itu pula, Jumila terjebak di tengah perseteruan dua orang yang berkompetisi menjadi ketua OSIS—Dipa dan Damar.

Tak bisa dipungkiri, blurb dan bab-bab awal cerita Hush sangat menjanjikan. Pembaca terus dibuat penasaran dengan apa yang terjadi, pun dibuat berdebar saat Jamila berdekatan dengan Dipa dan uring-uringan saat Damar muncul. Tak hanya itu, intensitas ketegangan cerita makin meningkat mana kala Jumila mengetahui fakta tentang Kepala Sekolah. Kemisteriusan sikap Kepala Sekolah seakan memberi prediksi lain di balik kekisruhan yang terjadi di sekolah.

Sayangnya, eksekusi cerita Hush terkesan terburu-buru. Banyak pertanyaan menggantung yang tak dijelaskan oleh penulis, seperti alasan Kepala Sekolah merasa harus menyemarakkan prosesi pemilihan Ketua OSIS, serta alasan sahabat Damar berkhianat. Karena mengusung genre thriller, seharusnya penulis lebih piawai lagi dalam mengatur hint dan menutupnya secara apik di ending, seperti yang umum ada di kisah thriller. Bukannya diakhiri dengan narasi puitis yang jujur saja tak cocok dengan cerita yang disajikan sejak awal. Hal ini amat disayangkan, mengingat ceritanya sendiri amat menjanjikan.

Andai cerita ini digarap dengan lebih serius dan teliti, mungkin hasilnya akan berbeda. Meski demikian, cerita ini patut diapresiasi. Terutama gaya menulisnya yang asyik dan lincah. Beberapa artikel di blog Dharmaslam.com pun memberi kesan tersendiri, karena memberi informasi mengenai latar belakang tokoh utamanya secara tak langsung. Ditambah kesan sarkasmenya yang kental, dipastikan membuat pembaca ketagihan tiap membacanya:

Lalu, dapatkah orang-orang seperti ini kita percayakan untuk berada pada elite organisasi kita? Pantaskah orang-orang macam Pranadipa Suryo, Apta Arimurti, dan Rinjani untuk menyetir apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan di sekolah ini?

Pada hakikatnya, pemilihan pemimpin, baik dalam skala besar maupun yang akan terjadi Desember nanti di Dharma Luhur, tak pernah untuk memilih yang paling baik. Sebaliknya, pemilihan dibuat untuk mencegah yang paling buruk pun busuk agar tak berkuasa.

Awalnya, Dharma Luhur adalah salah satu sekolah favorit bergengsi yang dipenuhi murid-murid cakap dan berprestasi, yang banyak lulusannya memiliki karir menawan dan berkontribusi terhadap lingkungan. Tapi entah sejak kapan sekolah ini seolah-olah menjelma lapas kelas pertama, yang menampung para bajingan dan orang-orang brengsek berduit.

Rating: 4/5 bintang